Kontrak
“Menurut kamu, kalau orang udah punya pacar, terus jadi pacar sewaan, itu termasuk selingkuh nggak?” tanya pria itu. Suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara denting halus perak yang beradu dengan piring porselen mahal.
Pria itu tidak menatap Ledi saat bertanya. Ia memotong daging steaknya dengan presisi, gerakan tangannya tenang dan terukur.
Ledi memperhatikan jemari pria itu yang bersih, kuku yang terpotong rapi, dan jam tangan yang harganya lebih mahal daripada biaya kosnya selama sepuluh tahun.
Di bawah pencahayaan restoran yang temaram dan elegan, permukaan jam tangan itu sesekali memantulkan cahaya lampu kristal, seolah sengaja mengingatkan Ledi tentang jarak di antara mereka.
“Menurutku sih nggak. Kan nggak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol aja,” jawab Ledi terlalu cepat—seolah jawaban itu sudah ia siapkan jauh sebelum pertanyaan itu muncul.
Pria itu mengangguk, tersenyum tipis, lalu meletakkan garpunya tanpa suara.
Aroma anggur merah yang pekat dan wangi lilin aromaterapi yang mahal memenuhi indra penciuman Ledi, bercampur dengan rasa tidak nyaman yang tidak bisa ia beri nama.
***
Asap tipis mengepul dari wajan besar di depan warung pecel lele itu, membubung hingga ke langit-langit tenda oranye yang mulai menghitam karena jelaga.
Di sana, suasana jauh dari kata tenang.
Minyak panas mendesis setiap kali ikan dijatuhkan, suaranya bersahutan dengan klakson kendaraan yang memadati jalan raya di jam pulang kantor.
Bau bawang goreng yang tajam, wangi kemangi yang segar, dan aroma sambal terasi yang disambar minyak panas menyatu, menciptakan udara yang berat tapi akrab di paru-paru.
Ledi duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang. Di depannya, piring plastik berwarna hijau kusam berisi nasi, lele goreng yang kering, dan genangan sambal belum disentuh.
Sendoknya tergeletak di tepi piring, permukaannya menangkap pantulan cahaya lampu jalan yang remang. Ia belum memegang sendok itu sejak mereka duduk sepuluh menit yang lalu.
Di seberangnya, Bima meremas jeruk nipis di atas lelenya—terlalu lama, terlalu teliti—seolah ada sesuatu yang ingin ia tunda. Ada gurat kelelahan yang nyata di bawah matanya, dan kemeja kantornya tampak kusut di bagian bahu.
“Sambelnya kelihatan enak banget nih,” kata Bima akhirnya, berusaha memecah keheningan yang mulai terasa mencekik.
Ia tersenyum, lalu segera menunduk, menyibukkan diri dengan duri-duri ikan yang ia pisahkan satu per satu—seakan takut jika ia menatap terlalu lama, Ledi akan melihat keraguan yang ia sembunyikan.
Ledi tersenyum manis—akhirnya mereka makan bersama lagi.
Sudah hampir sebulan mereka tidak makan di luar. Bima sering datang dengan tubuh lelah dan cerita kantor—tempat ia masih magang, tempat jam kerja panjang belum sebanding dengan uang yang dibawa pulang.
Ledi mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya yang mulai mengelupas di bagian sudut.
Ia meletakkannya di atas meja kayu yang dilapisi taplak plastik bermotif bunga yang sudah pudar. Layarnya menyala, memancarkan cahaya biru yang terlalu terang di antara piring-piring plastik yang buram.
Satu notifikasi masuk—sebuah pesan dari kontak yang ia namai dengan inisial saja.
“Ada klien. Besok jam tujuh malam. Tiga jam. Central Park. Kamu ambil?”
Pesan berikutnya menyusul dengan cepat: sebuah foto KTP. NIK dan alamatnya disensor dengan coretan hitam.
Dua jemari Ledi menyentuh layar, memperbesar foto wajah di KTP itu. Wajah itu tampak bersih, rambutnya tertata rapi.
Ledi tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Jemarinya bergerak lincah mengetik balasan, mengiyakan tawaran itu—tanpa sedikit pun menoleh ke arah Bima.
Ledi menarik napas panjang, membiarkan udara berminyak itu memenuhi dadanya sebelum menatap Bima. “Aku dapat job.” Suaranya datar, tapi bahunya sedikit menegang.
Bima mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu Bima menunduk lagi. “Yang … itu?”
Ledi tersenyum tipis. “Iya.”
Bima mengangguk pelan. Tidak terkejut. Tidak juga langsung bertanya.
“Besok,” lanjut Ledi. “Cuma karaokean. Ngobrol.” Kata cuma keluar terlalu ringan.
Bima tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. Bima menusuk lelenya dengan sendok. Kulitnya renyah, tapi dagingnya langsung terbelah. Ia tidak langsung makan. “Kliennya siapa?”
“Aturannya harus rahasiain identitas klien.” Ia mengucapkannya seperti membaca ulang syarat yang sudah berkali-kali ia pakai sebagai tameng.
Ledi menggigit tahu gorengnya. “Tapi umurnya 27.”
Sunyi jatuh di antara mereka, sebentar saja, tapi cukup untuk membuat Ledi mengaduk sambalnya tanpa tujuan.
Di sekeliling, suara orang makan, tertawa, dan memanggil penjual terdengar normal. Tidak ada yang tahu percakapan kecil ini sedang menentukan arah sesuatu yang lebih besar.
“Aku nggak selingkuh,” kata Ledi tiba-tiba sebelum Bima sempat mengatakan apa pun. Kalimat itu keluar terlalu cepat, seolah lebih tertuju pada dirinya sendiri.
Bima menatapnya. “Iya, aku tahu.” Bima menyuapkan tempe goreng ke mulutnya, mengunyah perlahan. “Aku percaya kamu,” katanya setelah menelan. “Aku cuma … nggak, nggak apa-apa.”
Mereka makan dalam diam setelah itu. Sambal yang tadi tampak menggoda kini terasa biasa saja di lidah Ledi. Ia mengunyah tanpa benar-benar menikmati.
Di kepalanya, bayangan tempat karaoke, pakaian yang akan ia pilih, dan percakapan sopan yang akan ia mainkan berkelebat satu per satu—semuanya terasa seperti rutinitas yang terlalu rapi.
Beberapa menit kemudian, Bima bangkit. Ia merogoh dompet tipisnya, menghitung cepat, lalu menyerahkan beberapa lembar uang yang sudah agak lecek pada penjual. Ia tidak meminta kembalian receh yang seharusnya masih tersisa.
Ledi berdiri, mengibaskan ujung roknya untuk menghilangkan remah-remah yang mungkin menempel.
Ia mengenakan blus lengan pendek warna krem yang bahannya tipis dan mudah kusut, dipadukan dengan rok hitam selutut yang sudah agak longgar di pinggang. Sepatunya flat shoes hitam—tidak baru, tapi bersih.
Di pergelangan tangannya, hanya ada jam tangan murah dengan tali kulit sintetis yang warnanya mulai mengelupas di bagian lubang pengait.
Tidak ada perhiasan, tidak ada kemewahan—semua itu ia simpan untuk \"Ledi\" yang akan bekerja besok malam.
Bima menggenggam tangan Ledi, menuntunnya ke sepeda motor bebek tua yang terparkir di pinggir jalan. Catnya kusam di beberapa bagian, tapi Bima selalu merawatnya dengan telaten.
Ledi mengenakan helm dengan tali yang sudah mulai kaku. Bima membantu mengencangkannya, gerakannya cepat dan terbiasa.
Mesin motor menyalak sekali engkol, suaranya parau dan bergetar hebat di bawah kaki mereka.
Sebelum naik, Ledi menoleh ke arah warung pecel lele yang kini kembali ramai oleh pelanggan lain. Seolah tempat itu tidak pernah menyimpan percakapan apa pun.
Saat motor mulai melaju membelah kemacetan Jakarta, Ledi menyandarkan dagunya ke punggung Bima dan mengulang kalimat yang sama di kepalanya:
Ini cuma kerjaan, ini cuma kerjaan—entah sebagai keyakinan, atau pengingat.
Other Stories
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Horor
horor ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...