Plan B

Reads
6.4K
Votes
688
Parts
12
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 4 — Air Terjun

Ketukan terdengar dua kali. Kayu pintu bergetar tipis.

Baim melirik ke arah jendela samping yang tirainya tidak tertutup rapat. “Fer,” katanya sambil menoleh ke Ferry. “Buka.”

Ferry berdiri tanpa bertanya. Ia memutar kunci dan menarik pintu ke dalam.

Ayu berdiri di ambang teras dengan nampan kayu di tangannya. Tiga piring nasi goreng sederhana, tiga gelas teh hangat. Uap tipis naik ke udara pagi yang masih lembap. “Sarapan,” katanya pelan.

Ferry mengangguk dan memegang sisi nampan untuk membantu. Ujung jarinya hampir menyentuh jemari Ayu.

“Masuk aja,” kata Ferry.

Ayu melangkah satu langkah ke dalam. Matanya cepat menyapu ruangan, lalu berhenti sebentar pada Willy dan Baim. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.

“Terima kasih,” kata Baim singkat.

Willy mengambil satu piring. “Mantap,” gumamnya.

Ayu berdiri tegak, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Tidak duduk. Tidak bertanya.

Ferry mengambil gelas teh. “Setiap pagi sepi begini?” tanyanya.

Ayu mengangguk kecil. “Iya.”

Hening beberapa detik. Dari luar terdengar suara ayam dan gesekan sapu di tanah.

Baim menepuk bahu Willy pelan. “Kita ambil peralatan di mobil.” Nada suaranya biasa saja.

“Ya udah,” kata Willy.

Mereka berdua keluar, menuju mobil yang terparkir di samping rumah. Pintu tetap terbuka.

Di dalam, hanya Ferry dan Ayu.

Ferry masih memegang gelas. Uapnya menyentuh wajahnya. “Air terjunnya jauh?”

“Tidak,” jawab Ayu. “Lurus saja. Nanti ada batu besar.” Ia berhenti sebentar. Tatapannya bergeser ke arah jendela belakang, ke arah pepohonan yang lebih rapat. Lalu ia diam.

Ferry mengikuti arah pandangnya. “Ke sana?” tanyanya pelan.

Ayu tidak langsung menjawab. Jari-jarinya saling menekan satu sama lain.

“Kalau sudah melewati batu besar,” kata Ayu akhirnya, “jangan terus.” Nada suaranya tidak berubah.

Ferry menatapnya. “Kenapa?”

Ayu tak menjawab.

“Yang Bapak bilang kemarin?”

Ayu mengangguk.

Dari luar terdengar suara Willy tertawa kecil.

Ayu melangkah mundur satu langkah. “Nanti kalau udah mau berangkat, bilang saja ke Bapak.”

Ferry mengangguk.

Sebelum berbalik, Ayu menatapnya sekali lagi. Singkat. Ada sesuatu di matanya yang seperti ingin berkata lebih banyak, tapi tidak jadi.

Ayu turun dari teras dan berjalan kembali ke rumahnya.

Ferry berdiri beberapa saat. Lalu menoleh ke arah jendela belakang. Pepohonan di sana tampak biasa.

Sekitar satu jam kemudian, Willy berdiri di halaman, mengenakan kaos hitam dan celana pendek. Kacamata hitamnya terpasang meski matahari belum tinggi. “Berangkat sekarang aja,” katanya.

Baim keluar sambil mengunci pintu.

Tak lama kemudian, Mang Ujang muncul dari arah samping rumah. Ia membawa tas kain kecil yang digantungkan di bahu. “Jalannya nggak jauh,” katanya. “Tapi agak licin.”

Mereka berjalan menyusuri jalur setapak di belakang rumah-rumah warga. Tanahnya lembap, ditutup akar-akar pohon yang menyembul seperti urat. Beberapa kali Willy hampir terpeleset, lalu tertawa sendiri.

Ferry berjalan di tengah. Ia memperhatikan suara langkah mereka, bunyi daun kering yang terinjak, dan sesekali suara air yang terdengar semakin jelas.

Air terjun itu tidak besar. Tingginya mungkin belasan meter. Air jatuh ke kolam dangkal yang dikelilingi batu-batu hitam. Cahaya matahari menembus sela daun dan memantul di permukaan air.

Willy bersiul pelan. “Lumayan.”

Baim menurunkan tas kecil yang dibawanya. “Lumayan banget.”

Mang Ujang berdiri tak jauh dari jalur masuk. “Di sini aman,” katanya. “Jangan terlalu jauh ke kiri. Batunya licin.”

Willy membuka sandal dan berjalan mendekati air. Ia mencelupkan kaki, lalu berteriak kecil.

Baim mengeluarkan ponselnya dan memotret. “Senyum,” katanya.

Ferry dan Willy saling merangkul pundak. Willy menjulurkan lidahnya ke arah kamera.

Klik.

Baim menurunkan ponselnya sebentar, melihat hasilnya. “Bagus.”

“Gantian,” kata Ferry sambil berjalan menuju Baim. Ia mengambil ponsel itu, lalu membidik kedua sahabatnya.

Klik.

Ferry menurunkan ponsel dan melihat layar.

Di foto itu, Willy dan Baim berdiri di depan air terjun. Air jatuh di belakang mereka seperti tirai putih. Willy masih menjulurkan lidahnya ke arah kamera.

Setelah mengambil beberapa foto, mereka duduk di bebatuan dekat air.

“Coba dari awal kita ke sini aja,” kata Willy.

Ferry tidak menjawab. Ia memandang ke arah pepohonan di sisi kiri air terjun. Jalur kecil tampak samar di antara semak.

Mang Ujang mengikuti arah pandang itu. “Ke sana sudah masuk hutan dalam,” katanya tanpa nada mengancam.

Willy menoleh ke Mang Ujang.

Mang Ujang menggeleng.

Sunyi beberapa detik. Hanya suara air yang jatuh terus-menerus.

Willy membuka botol minum, lalu menoleh ke Ferry. “Ingat nggak waktu kita nyasar di Gunung Gede?” katanya tiba-tiba.

Ferry menoleh. “Lu panik setengah mati.”

Willy tertawa pendek. “Tapi lu nggak ninggalin gua.”

Baim menyela, “Lu berdua emang bego.”

Willy menutup botol minumnya. Tanpa aba-aba, ia menyendok air dengan kedua tangan lalu melemparkannya ke arah Baim.

“Woy!” Baim terhuyung setengah langkah, lalu tertawa keras.

Baim membalas. Kali ini lebih banyak. Cipratan itu mengenai dada Willy dan sebagian mengenai wajah Ferry. Dingin air langsung menusuk kulitnya.

Ferry menyeringai tipis dan ikut menendang air ke arah mereka.

Tawa mereka pecah lebih lama, memantul di dinding batu dan bercampur dengan suara jatuhnya air terjun.

***

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di sana, mereka pulang.

Di perjalanan, Willy berjalan paling belakang. Lalu tiba-tiba berhenti. “Duluan aja,” katanya pada Ferry dan Baim. “Gua nyusul.”

Ferry menoleh. “Mau ngapain?”

Willy menunjuk ke arah pepohonan. “Penasaran doang.”

Mang Ujang sudah beberapa langkah di depan. Ia tidak melihat.

“Jangan aneh-aneh,” kata Ferry.

Willy tertawa kecil. “Santai.”

Ia berjalan dua-tiga langkah ke arah kawasan terlarang itu. Hanya sampai batas rumput yang lebih tinggi. Ia berdiri sebentar, menatap ke dalam. Lalu kembali menyusul yang lain.

Sore turun perlahan. Cahaya berubah kekuningan ketika mereka sampai di rumah kayu.

Ayu sedang menyapu halaman. Ia berhenti ketika melihat mereka datang. Senyumnya tipis. Matanya sempat bertemu Ferry, lalu berpindah.

“Capek?” tanya Ayu pelan.

“Lumayan,” jawab Ferry.

Baim dan Willy terus melangkah ke penginapan tanpa menunggu.

***

Saat malam, udara menjadi lebih dingin. Lampu rumah kayu menyala redup. Suara serangga mulai terdengar dari balik dinding.

Baim duduk di kursi dekat jendela kamar, memeriksa ponselnya yang nyaris tak bersinyal.

Ferry berbaring di ranjang Baim, menatap langit-langit kayu.

Willy berdiri dari tempat tidurnya. Ia meraih sebungkus rokok dari ransel dan memasukkannya ke saku kemeja kotak-kotaknya. “Gua keluar bentar.”

“Ngapain?” tanya Baim tanpa mengangkat kepala.

Willy memperlihatkan bungkus rokoknya.

Ferry menoleh. “Jangan jauh-jauh.”

Willy membuka pintu kamar. “Santai.”

Ferry bangkit dan ikut berjalan menuju pintu depan.

Pintu terbuka. Udara malam masuk bersama langkah Willy.

Ferry menutup pintu pelan.

Beberapa detik pertama, suara langkahnya masih terdengar di atas tanah berkerikil. Lalu hilang.

Ferry kembali ke ranjangnya sendiri dan memejamkan mata.

Di luar, malam turun sepenuhnya. Tidak ada yang terdengar selain serangga dan angin yang menyentuh atap seng.

Waktu berjalan tanpa penanda.


Other Stories
Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Test

Test ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Download Titik & Koma