Bab 11 — Kantor Polisi
Jalan tanah yang mereka lalui perlahan berubah menjadi aspal yang retak di beberapa tempat. Pepohonan mulai jarang. Lampu rumah-rumah penduduk muncul satu per satu di kejauhan.
Di kursi penumpang, Ferry menyandarkan punggungnya. Tubuhnya masih terasa dingin meski jaket tebal Mang Ujang menutup tubuhnya.
Mobil terus melaju pelan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Tiba-tiba Ferry menoleh. “Mang … HP saya?”
Mang Ujang tetap menatap jalan. Lampu mobil menyapu aspal yang basah di depan mereka. “Tenang,” katanya. “Saya yang pegang.”
Ferry diam sebentar, lalu mengangguk kecil.
Ia kembali menatap keluar jendela. Sawah-sawah gelap membentang di kiri kanan jalan.
Suara azan terdengar di kejauhan.
Beberapa menit kemudian, di depan sana terlihat bangunan beton dengan lampu neon putih menyala di terasnya.
Mobil berbelok dan masuk ke halaman berkerikil. Sebuah papan kayu tergantung di depan bangunan itu. Kantor polsek.
Mang Ujang mematikan mesin. Untuk beberapa detik mereka hanya diam.
Ferry membuka pintu dan turun lebih dulu. Udara subuh terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan.
Di halaman kantor, bendera merah-putih berkibar pelan di ujung tiang. Ferry sempat mendongak sebelum mengikuti Mang Ujang masuk.
Di dalam, ruangan itu tidak besar. Cat temboknya kusam. Sebuah kipas angin berdiri di sudut, berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berderit kecil.
Seorang polisi duduk di belakang meja kayu dengan tumpukan berkas di depannya. Polisi lain berdiri di dekat jendela sambil memegang gelas kopi.
Mang Ujang mengangguk kecil. “Pagi.”
Polisi yang duduk mengangkat wajahnya. “Mang Ujang.” Nada suaranya terdengar seperti menyapa seseorang yang sudah lama dikenal.
Ferry berdiri beberapa langkah di belakang Mang Ujang. Polisi itu meliriknya sekilas, lalu kembali ke Mang Ujang. “Ada apa?”
Mang Ujang menjawab pelan. Suaranya terlalu rendah untuk didengar jelas oleh Ferry. Polisi itu mengangguk beberapa kali.
“Duduk dulu,” kata polisi lain pada Ferry sambil menunjuk kursi besi di dekat dinding.
Ferry pun duduk. Kursi itu berderit kecil ketika ia bersandar. Matanya menyapu ruangan tanpa benar-benar fokus pada satu titik.
Di salah satu dinding, dekat jendela, ada papan pengumuman besar dari kayu. Beberapa lembar kertas ditempel di sana dengan paku payung. Sebagian sudah menguning di tepinya.
Ferry memandanginya tanpa niat tertentu. Lalu matanya berhenti pada satu foto.
Ia berdiri. Langkahnya mendekat perlahan.
Di foto itu terlihat seorang pria sekitar tiga puluhan. Rambutnya pendek dan rapi. Ia mengenakan kemeja biru dan berdiri tegak menghadap kamera. Wajahnya tidak asing.
Ferry memiringkan kepala sedikit.
Ingatan itu datang perlahan.
Pria itu.
Pria pincang yang duduk di batu di pinggir jalan desa.
Pria yang menatapnya terlalu lama.
Di bawah foto itu tertulis nama: Rizal Hadi.
Di bawahnya lagi, ada tulisan hilang sejak Agustus 2024.
Ferry menatap foto itu lebih lama.
Kilasan-kilasan pendek muncul di kepalanya. Tangan yang mengusir. Mata yang menatapnya lekat-lekat. Suara serak yang tak membentuk kata-kata.
Di bawah foto Rizal Hadi, ada beberapa foto lain. Wajah-wajah yang berbeda. Tahun-tahun yang berbeda.
Di belakang Ferry, terdengar bunyi kursi digeser. Ia menoleh.
Mang Ujang berdiri dekat meja polisi. Lengan kemejanya sedikit digulung. Ada tato huruf B di lengannya.
Ferry menatap tato itu tanpa berkedip. Bayangan lain muncul di kepalanya. Pria yang ia tikam. Lengan yang tersingkap. Huruf yang sama.
Ferry teringat tulisan “Riz ...” di mobil yang tadi ia tumpangi. Wajah pria pincang terlintas di benaknya.
“Kang,” kata polisi dari balik meja.
Ferry menoleh.
Polisi itu membuka buku laporan. “Silakan.”
Ferry melangkah mendekat.
Ketika ia berdiri di depan meja, matanya tanpa sengaja melirik keluar jendela.
Di halaman, sebuah mobil hitam terparkir. Pelatnya merah. Kombinasi angka dan huruf yang sama.
Yang ia lihat di jalan tol. Yang ia lihat di vila.
Polisi itu membuka halaman kosong di buku. Ada tulisan “17 Agustus 2025”. Pena siap di tangannya. “Ada yang bisa dibantu?”
Ferry tidak langsung menjawab. Ia melihat foto Rizal di papan pengumuman, tato Mang Ujang, dan mobil pelat merah di luar.
Beberapa detik berlalu. Ferry akhirnya berkata pelan. “Dompet saya hilang.”
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Polisi itu lalu mengangguk dan mulai menulis. “Kira-kira di mana hilangnya?” tanyanya sambil menatap Ferry.
Ferry melirik sekilas ke arah Mang Ujang. “Sekitar penginapan,” kata Ferry pada polisi di depannya. Tangannya sedikit gemetar.
Polisi itu mencatat lagi.
Setelah beberapa pertanyaan formalitas lainnya, polisi itu menutup buku tersebut. “Selesai,” katanya.
Suara pintu terbuka. Seorang polisi lain keluar dari sebuah ruangan. Ia berjalan ke papan pengumuman, lalu menempelkan sebuah foto dengan paku payung.
Ferry menoleh.
Di foto itu, Baim berdiri di samping Willy. Willy menjulurkan lidah ke arah kamera. Air jatuh di belakang mereka seperti tirai putih.
Di bawah foto itu ada tulisan kecil. Ferry hanya sempat membaca tiga kata pertama: kecelakaan lalu lintas.
Polisi itu menekan paku payung dengan ibu jari, lalu kembali ke ruangannya.
Ferry membeku.
Mang Ujang menepuk bahu Ferry.
Mereka keluar dari kantor polisi.
Pagi mulai terang. Cahaya matahari tipis menyentuh halaman yang masih lembap.
Mobil berpelat merah itu masih di sana. Mesinnya menyala pelan.
Seorang pria berdiri di samping pintu belakang dan membukanya.
Ferry berhenti sebentar. Lalu masuk. Pintu ditutup dari luar.
Ferry menoleh ke kaca jendela. Papan orang hilang terlihat sebentar. Foto kedua sahabatnya mengecil di kejauhan. Ferry menelan ludah.
Mobil itu bergerak meninggalkan halaman kantor polisi. Di kaca spion tengah, tiang bendera perlahan mengecil.
Opsi 2
Ferry menoleh ke kaca jendela. Papan orang hilang terlihat sebentar. Foto kedua sahabatnya mengecil di kejauhan. Ferry menelan ludah.
Mobil itu bergerak meninggalkan halaman kantor polisi. Di kaca spion tengah, tiang bendera perlahan mengecil.
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...