Bab 10 — Sosok Itu
Ferry mengayunkan pisaunya sekuat tenaga.
Sosok itu bergerak cepat ke samping. “Tenang. Saya Mang Ujang.”
Ferry masih memegang pisau. Dadanya naik turun cepat. Ia menatap wajah itu beberapa detik sebelum akhirnya mengenalinya. “Mang?”
Mang Ujang mengangguk kecil.
Ferry menurunkan pisaunya. Tangannya masih gemetar.
Mang Ujang menatap Ferry dari kepala sampai kaki—jaket basah, celana penuh lumpur, napas tidak beraturan. Lalu, matanya menyapu sekitar. “Mana teman kamu?”
“Teman saya,” Ferry menelan ludah, “dibunuh.”
Mang Ujang tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah hutan yang gelap di belakang Ferry.
“Ada banyak orang di sana,” lanjut Ferry. “Ladang ganja.”
Mang Ujang menatap Ferry. “Ladang ganja?”
Ferry merogoh saku jaketnya. “Saya sempat foto—”
“Kita ke mobil sekarang.” Mang Ujang melirik ke arah hutan di belakang Ferry sebentar, lalu berbalik.
Ia melangkah. Ferry berjalan di belakangnya.
Mereka melewati semak belukar. Sesekali Mang Ujang menyingkirkan cabang rendah dengan tangannya agar Ferry bisa lewat.
Tidak ada lagi suara pengejar. Hanya bunyi langkah kaki mereka dan serangga malam.
Beberapa menit kemudian, mobil Mang Ujang terlihat di tanah kosong di antara pepohonan.
Mang Ujang membuka pintu belakang dan mengambil jaket tebal. “Pakai ini.”
Ferry menerima jaket itu tanpa berkata apa-apa. Ia melepas jaket dan bajunya yang basah.
“Sini pakaian basahnya.”
Ferry menyerahkannya.
Mang Ujang naik ke kursi pengemudi.
Ferry menatap sebentar ke arah hutan tempat Baim mati. Lalu membuka pintu penumpang dan duduk tanpa menutupnya dengan benar. Mang Ujang yang menarik pintu itu hingga rapat.
Kunci mobil diputar. Mobil melaju perlahan.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Mang Ujang melirik tangan Ferry. “Pisaunya.”
Ferry baru sadar ia masih menggenggamnya.
Mang Ujang mengulurkan tangan. “Sini.”
Ferry menyerahkannya tanpa bicara.
Ujang meletakkannya di laci dashboard. “Tenang,” katanya. “Kita langsung ke kantor polisi sekarang.”
Mobil kembali melaju tanpa ada yang bicara.
“Makasih, Mang,” kata Ferry akhirnya.
Mang Ujang menoleh Ferry sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan yang becek. “Mobil kalian masih di penginapan.”
Ferry menoleh.
“Makanya saya cari kalian.”
Ferry menurunkan pandangannya ke dashboard yang retak di beberapa tempat.
Di dekat kisi-kisi ventilasi ada goresan lama—seperti pernah diukir dengan ujung kunci. Hurufnya tidak rapi, sebagian sudah pudar.
Ia hanya sempat menangkap beberapa bentuk: “Riz …” lalu garis patah yang mungkin huruf berikutnya. Ia kembali menatap jalan.
Mobil terus bergerak perlahan di antara batang-batang pohon.
Ferry menyandarkan kepala ke kursi. Untuk pertama kalinya sejak masuk hutan ia berhenti berlari.
Other Stories
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...