Plan B

Reads
6.4K
Votes
688
Parts
12
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 8 — Pengejaran

Sinar senter itu bergerak cepat di antara batang-batang pohon.

Satu.

Lalu dua.

Lalu lebih banyak.

Ferry membeku di tempatnya. Baim berdiri di belakangnya, tubuhnya menegang. Suara kaleng yang tadi beradu masih berdengung di telinga mereka, seolah gema logam itu menolak hilang dari hutan.

Cahaya lain menyala di kejauhan. Sebuah suara pendek terdengar samar dari arah sana. “Kalengnya bunyi.”

Senter pertama bergerak lebih rendah, menyapu tanah di antara batang pohon. Lalu berhenti. Lalu bergerak lagi.

Ferry berjongkok. Baim juga.

Langkah kaki terdengar dari berbagai arah. Tanah diinjak dengan ritme yang teratur.

Ferry memasukkan ponselnya ke saku jaket di bagian dada. “Ke sana,” bisiknya nyaris tanpa suara.

Mereka berlari menembus semak-semak, menjauh dari ladang ganja. Daun-daun kasar menggesek celana mereka. Ferry menundukkan kepala.

Cahaya senter menyapu tempat mereka berjongkok beberapa detik sebelumnya.

Seseorang berbicara ke HT dengan suara tertahan. “Tidak ada di sini.” Suara statis menjawab sebentar, lalu hilang.

Ferry dan Baim bersembunyi di balik batang pohon besar.

Para pengejar lewat—hanya beberapa meter dari mereka.

Dua cahaya senter menyilang di tanah.

Ferry menahan napas sampai paru-parunya terasa panas.

“Ke sana,” kata pria itu pada temannya sambil menunjuk ke satu arah.

Langkah-langkah itu menjauh.

Setelah cahaya terakhir menghilang di balik pepohonan, Ferry menunggu satu detik lagi, memastikan tidak ada cahaya yang kembali. Ia memberi isyarat kecil. Mereka kembali menerobos semak-semak.

Tanah mulai menurun pelan. Akar-akar pohon muncul lebih rapat, memaksa mereka melangkah hati-hati.

Ferry tidak lagi mencoba mengingat arah. Yang ia tahu hanya bergerak sejauh mungkin dari ladang itu.

Suara dari HT terdengar lagi, lebih jauh. “Bagaimana di sana?”

Senter lain menyala di sisi kiri.

Ferry menarik Baim ke balik semak. Mereka merunduk. Cahaya putih menyapu tanah tepat di depan lutut mereka, berhenti sejenak pada bekas pijakan sepatu.

“Ada jejak sepatu.” Suara itu datang dari seorang pria yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka.

Senter di tangannya bergerak naik, menyapu batang pohon.

Ferry dapat melihat siluet tubuhnya sekarang.

Satu pria lain mendekati pria pertama dari belakang.

“Kita ke sana,” kata pria kedua.

“Kamu duluan,” jawab yang pertama.

Senter pria pertama kembali turun ke tanah.

Ferry merasakan bahu Baim menegang di sampingnya.

Pria kedua mengangkat HT-nya. “Di sini kosong.” Langkahnya menjauh.

Pria pertama tetap di tempatnya. Ia menyorot tanah sekali lagi, lalu melangkah pelan ke arah semak tempat Ferry dan Baim bersembunyi.

Langkah itu semakin dekat.

Senter menyapu daun tepat di atas kepala mereka.

Pria itu melewati semak mereka satu langkah, lalu berhenti.

Baim bergerak. Tangannya melesat keluar dan melingkari leher pria itu dari belakang. Senter jatuh ke tanah, cahaya berputar liar di antara batang pohon.

Dalam satu gerakan, pria itu mengeluarkan pisau dari pinggangnya. Kilatan logam.

Baim mengerang pendek. Pisau itu menembus sisi tubuhnya.

Baim tetap menahan. Tangannya mencengkeram lebih kuat, berusaha menarik pria itu ke belakang.

Mereka terhuyung dua langkah.

Pisau terlepas dari tangan pria itu ketika sisi tubuh mereka menabrak batang pohon. Benda itu jatuh di tanah lembap.

Ferry bergerak tanpa berpikir. Tangannya menyambar pisau itu.

Pria itu setengah berbalik, mencoba merebutnya kembali.

Ferry menusuk. Cepat. Hampir tanpa arah.

Pisau masuk ke dada pria itu.

Udara keluar dari mulutnya dalam satu embusan berat. Tubuhnya berhenti bergerak.

Beberapa detik tubuh mereka bertiga mematung.

Lalu tubuh pria itu meluncur ke tanah.

Ferry mundur selangkah. Tangannya masih memegang pisau—terasa licin oleh darah. Ia tidak melepas pisau itu.

Cahaya senter yang jatuh di tanah menyorot wajah pria itu dari samping. Matanya terbuka, menatap kosong ke atas. Lengan bajunya tersingkap sedikit. Terlihat tato kecil: huruf B.

“Fer ....” Suara Baim membuatnya menoleh.

Baim memegang pinggangnya. Darah merembes di antara jari-jarinya. “Jalan,” bisik Baim.

Ferry mematikan senter yang jatuh itu dan memapah Baim.

Mereka bergerak secepat yang mereka bisa. Tidak lagi peduli dengan ranting yang patah atau daun yang terinjak.

Beberapa detik hutan tetap sunyi.

Di belakang mereka, suara HT tiba-tiba meletup. “Posisi?”

Cahaya senter menyala lagi di kejauhan.

“Tim tiga, ke selatan.”

Ferry menarik Baim menuruni lereng kecil menuju suara air.

Tanah berubah lebih licin. Batu-batu basah muncul di antara akar pohon.

Suara air terdengar semakin jelas.

Mereka terus menuruni lereng itu hingga tiba di tepi sungai.

Air mengalir deras di antara batu-batu besar, memantulkan cahaya bulan yang terpecah-pecah.

Tak jauh dari situ, sebuah pondok kayu berdiri di atas tiang-tiang panjang, sekitar satu setengah meter dari permukaan air.

Ferry menarik napas cepat. “Ke sana.”

Ferry menyeret Baim naik ke pondok.

Lantai kayu itu dingin dan lembap.

Ferry menyandarkan Baim ke tiang, lalu menyalakan senter ponselnya.

Ia berlutut dan membuka jaket Baim. Ia menyayat jaket itu lalu menekan sobekannya ke luka. Darah masih mengalir.

“Tekan,” kata Ferry.

Baim menekan lukanya sambil meringis.

Ferry menyayat jaket itu lagi. Kali ini lebih panjang. Ia melilitkannya kuat-kuat di sekitar tubuh Baim.

Beberapa detik kemudian, bunyi langkah dan suara para pengejar terdengar lagi dari arah hutan.

Cahaya senter muncul di antara batang pohon.

Ferry mematikan senter ponselnya.

Seorang pengejar menaiki pondok dan menendang pintunya.

Ia masuk, tangannya siap menebas dengan parangnya.

Wajahnya berubah melihat pondok itu tidak ada orang.

Di bawah pondok, air sungai mengalir pelan di sekitar dada mereka. Ferry memeluk Baim dari belakang, menahan kepalanya agar tidak masuk ke air. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Cahaya senter menyapu lantai pondok.

“Ada darah!” kata pria itu.

“Mereka masih sekitar sini,” sambung pria lain di luar pondok.

Pria itu berjongkok.

Cahaya senter turun lebih dekat ke papan lantai.
Cahaya itu menyusup melalui celah-celah kayu. Tepat di atas kepala Ferry.

Baim mengeluarkan napas berat. Ferry menutup mulut Baim dengan telapak tangan.

Papan di atas mereka berderit.

Ferry membekap mulut Baim semakin kuat.

Cahaya senter berhenti tepat di atas mereka.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

HT berbunyi lagi. Seseorang di luar pondok berkata, “Ke arah sana. Cepat.”

Pria di dalam pondok berdiri dan menoleh keluar.

Cahaya senter bergerak menjauh.

Langkah kaki di atas pondok turun lagi ke tanah.

Beberapa senter lain bergerak melintasi tepi sungai, lalu menjauh ke arah hutan.

Ferry tidak bergerak. Tangannya masih membekap mulut Baim.

Di atas mereka, langkah terakhir menjauh.

Suara air kembali menjadi suara yang paling keras.


Other Stories
Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber

Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Download Titik & Koma