Plan B

Reads
6.4K
Votes
688
Parts
12
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 2 — Pelat Merah

Udara masih tipis ketika mobil tujuh penumpang berwarna hitam itu melaju di jalanan Jakarta yang masih lenggang.

Baim duduk di balik kemudi. Tangannya mantap di setir, mata fokus ke depan.

Ferry duduk di sampingnya, menatap jalan yang memanjang lurus. Tawa kecil terdengar dari belakang. Ferry melirik kaca spion tengah.

Di baris kedua, Willy duduk di kursi tengah.

Di samping kanannya, model pertama—yang namanya sudah Ferry lupa—menempel tanpa jarak. Pahanya terbuka oleh potongan celana pendek dan tangan Willy bergerak santai di atasnya.

Di sisi kiri, tepat di belakang kursi Ferry, model kedua duduk dengan kaki menyilang. Rok denimnya terangkat sedikit saat ia bergeser posisi.

Rambutnya jatuh di bahu. Aroma parfumnya tipis namun menetap, bercampur dengan udara pendingin yang berembus pelan dari dashboard.

Model pertama membisikkan sesuatu ke telinga Willy. Willy tertawa pendek. Wanita itu menepuk tangan Willy manja.

Baris ketiga dilipat. Dua koper dan dua tas jinjing berjejer.

“Gua bilang juga apa,” kata Willy, setengah berbisik, setengah tertawa. “Udara luar kota beda.”

Model pertama menyenggol bahunya pelan. “Belum nyampe juga.”

Ferry menatap jalan tol yang mulai menanjak. Matahari naik pelan di sisi kiri. Cahaya memantul di kaca depan.

Di spion, Willy mencium pipi model pertama. Lalu bibirnya. Wanita itu terkekeh kecil.

“Fer,” kata Willy, “jangan dianggurin tuh.”

Model kedua memegang pundak Ferry, membelainya.

Ferry menatap jalan. Tidak berkata apa-apa.

Willy terkekeh. “Have fun, Bro.”

"Nanti aja,” jawab Ferry cepat.

Baim tersenyum kecil, hampir tak terlihat. Tangannya memindahkan tuas persneling.

Jalan mulai ramai. Di kejauhan, suara sirene terdengar samar. Lalu semakin jelas.

Tot … tot … wuk wuk ....

Iring-iringan mobil hitam melintas di jalur kanan.

Lampu strobo biru-merah berkedip di atap salah satu kendaraan pengawal. Mobil paling depan dan paling belakang memiliki plat dengan warna dasar berbeda dari kendaraan biasa.

Baim memindah jalur dengan tenang. Semua mobil di sekitar melakukan hal yang sama. Kolom kendaraan terbentuk di pinggir seperti lautan membelah.

Ferry menoleh sekilas. Matanya berhenti pada kombinasi angka dan huruf di salah satu pelat. Tidak lama, tapi cukup untuk mengingatnya.

Willy meniru bunyinya. "Tot tot wuk wuk." Teatrikal, dengan tangan di mulut seperti corong. "Minggir, rakyat jelata!”

Ferry menggeleng pelan.

Model pertama tertawa. Baim ikut tersenyum.

Rombongan itu melaju dan menghilang di depan.

Mobil Willy kembali bergerak normal.

Menjelang siang, mobil keluar dari jalan utama dan memasuki kawasan vila. Aspal berubah lebih halus. Pepohonan rapi di kiri-kanan.

Tak lama kemudian, mobil masuk melewati gerbang kayu yang terbuka. Ban bergesek pelan di atas kerikil sebelum kembali ke aspal halaman.

Mesin dimatikan. Suara alam menggantikan dengung mobil.

Di sisi kanan halaman, sudah terparkir tiga mobil hitam berpelat merah. Kaca gelap. Mesin salah satunya masih menyala, knalpot mengeluarkan asap tipis.

Di teras vila, dua pria berseragam berdiri sejajar. Tidak berbicara. Hanya mengamati.

Willy turun lebih dulu. Kacamata hitam terpasang. Ia menatap bangunan dua lantai itu sambil tangannya bertumpu di pinggang.

Ferry turun dari mobil. Udara lebih dingin. Ia menutup pintu perlahan dan melihat sekeliling.

Model pertama dan kedua turun hampir bersamaan. Sepatu hak mereka menyentuh aspal halaman. Suaranya kecil tapi jelas.

Seorang petugas vila berjalan mendekat sambil tersenyum ramah. “Selamat siang, Pak,” katanya pelan. “Mohon maaf. Ada perubahan mendadak.”

Willy menoleh. “Perubahan apa?”

Petugas itu tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah teras.

Salah satu pria berseragam turun satu anak tangga. Tidak tergesa. Hanya berpindah posisi.

“Reservasi Bapak harus kami batalkan,” lanjut petugas itu. “Dananya akan dikembalikan penuh hari ini.”

Willy tertawa pendek. “Becanda?”

Petugas menggeleng. “Ada instruksi.”

Seorang pria paruh baya dengan jas hitam keluar dari dalam vila. Ia berhenti di ambang pintu, berdiri lebih tinggi dari semua yang ada di halaman.

Kedua wanita itu hampir serentah menoleh ke arah teras.

Pria berjas itu tidak memanggil. Ia hanya mengangkat tangan sedikit—gerakan kecil yang hampir tidak terlihat—lalu menurunkannya kembali.

Pria berseragam yang tadi turun satu anak tangga berjalan mendekat.

Model kedua menggeser berat badan ke satu kaki. Ia menoleh ke Willy. “Gimana, Kak?”

Willy menatap kedua wanita itu bergantian. “Ya ikut kita lah.”

Petugas vila tetap berdiri di tempatnya. Tidak memaksa. Tidak menyentuh.

Pria berseragam itu kini berdiri sejajar dengan kedua model itu. Jaraknya cukup dekat untuk terdengar, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap.

Model pertama merapikan rambutnya. Model kedua menarik napas pendek. Mereka saling pandang sebentar.

“Maaf ya, Kak,” kata model pertama, ringan.

Willy tertawa pendek. “Gila.”

“Ada bagasi,” kata model kedua pada pria berseragam.

Pria itu membuka pintu belakang mobil Willy dan meraih dua tas jinjing. Lengan seragamnya sedikit terangkat saat menarik tas keluar. Sekilas tampak tinta hitam kecil di bagian dalam lengannya. Huruf B.

Ia berjalan menuju teras diikuti kedua wanita itu. Hak sepatu mereka terdengar jelas.

Willy tidak bergerak.

Ferry berdiri di samping mobil. Matanya berpindah ke salah satu mobil hitam yang terparkir. Pelatnya sama dengan yang tadi ia lihat di jalan tol.

Petugas vila menyerahkan map cokelat kepada Willy. “Pengembalian dananya sudah kami proses.”

Willy mengambilnya tanpa melihat. Tangannya tetap di sisi tubuhnya.

Di teras, kedua wanita itu masuk ke vila bersama pria berjas—tanpa menoleh lagi.

Angin lembah berembus pelan. Daun-daun bergerak ringan.

Baim membuka pintu pengemudi tanpa berkata apa-apa.

Ferry masuk kembali ke kursi depan.

Willy menyandarkan punggungnya keras ke kursi. “Anjing,” gumamnya pelan.

Tidak ada yang menimpali. Beberapa detik berlalu dalam diam.

Baim menyalakan mesin.

Mobil mundur pelan. Tidak ada yang menghalangi. Tidak ada yang mengantar.

Di halaman vila, mobil-mobil hitam berpelat merah itu terparkir tenang, seolah tidak pernah bergerak tergesa-gesa di jalan tol tadi.

Baim membelokkan setir menjauh dari kawasan vila. “Gua tau tempat yang adem,” katanya. “Nggak jauh dari sini. Jarang ada yang tahu.”

Baim membelokkan setirnya ke kanan. Mobil masuk ke jalan yang lebih sempit.

Ferry mengencangkan sabuk pengaman sambil tetap menatap lurus.


Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma