Bab 3 — Mitos Desa
Aspal halus perlahan berubah menjadi jalan beton sempit.
Setelah beberapa kilometer, beton itu pun habis. Ban mobil berderak di atas tanah padat bercampur kerikil. Pepohonan di kiri-kanan makin rapat. Udara terasa lebih lembap.
Tidak ada papan nama besar. Hanya plang kayu kecil yang digantung miring di batang pohon: nama desa yang catnya mulai pudar.
Mobil melambat.
Beberapa rumah panggung berdiri berjajar tidak rapi. Dindingnya dari kayu, sebagian dicat warna terang yang sudah memudar.
Jemuran tergantung di halaman. Seekor ayam menyeberang pelan, memaksa Baim mengerem ringan.
Anak-anak berhenti bermain ketika mobil lewat. Mereka tidak mendekat. Hanya melihat.
“Udah pernah ke sini?” tanya Ferry.
“Belum. Tahu dari temen kantor aja,” jawab Baim.
“Yang penting nggak ada pelat merah,” timpal Willy.
Ferry tidak menanggapi. Ia memperhatikan wajah-wajah yang mereka lewati. Tatapan itu tidak bermusuhan. Tapi juga tidak ramah berlebihan. Hanya melihat.
Di ujung jalan, seorang pria paruh baya berdiri di bawah pohon besar. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari. Kemeja lengan panjang digulung sampai siku. Ia mengangkat tangan memberi isyarat agar mobil berhenti.
Baim menurunkan kaca.
“Dari kota?” tanya pria itu.
“Iya, Mang,” jawab Baim. “Mau nginep satu-dua malam. Katanya bisa?”
Pria itu mengangguk pelan. “Bisa. Ikut saya.”
Mobil bergerak pelan mengikuti motor tua yang dinyalakan pria itu. Mereka melewati satu tikungan, lalu berhenti di depan rumah kayu yang lebih besar dari yang lain. Halamannya bersih. Ada kursi dan meja kayu di teras.
Pria itu mematikan motor.
Baim turun duluan. Lalu Willy.
Lalu Ferry. Udara desa terasa berbeda. Tidak sedingin kawasan vila tadi, tapi lebih ringan. Ia berdiri sebentar, membiarkan angin menyentuh wajahnya.
“Saya Baim. Ini teman saya, Willy dan Ferry. ” Tangannya terulur, cepat.
“Mang Ujang,” kata pria itu. Ia menjabat tanpa senyum lebar. “Di sini tenang. Air terjun dekat. Kalau mau keliling, bisa saya temani.”
Ia menunjuk ke sebuah rumah kayu yang berjarak beberapa rumah dari situ. Ukurannya lebih kecil. Catnya lebih baru, tapi tetap sederhana. “
Kalau ada tamu dari luar, biasanya di situ,” katanya. “Dua kamar. Kamar mandi di dalam.”
Baim mengangguk. “Cukup, Mang.”
Mang Ujang mengambil kunci dari saku celananya dan menyerahkannya pada Baim.
Dari dalam rumah, seorang perempuan keluar membawa gelas-gelas air di atas nampan. Usianya sekitar 19 atau 20. Rambutnya diikat sederhana. Kaos polos dan rok panjang. Tidak ada riasan mencolok.
Ia berhenti ketika melihat mereka bertiga.
“Ini anak saya, Ayu,” kata Mang Ujang singkat. “Silakan duduk,” lanjutnya. Ia sendiri tetap berdiri di bawah anak tangga teras, satu kaki bertumpu pada pijakan kayu
Ferry duduk di kursi paling ujung teras, dekat sisi rumah yang terbuka ke arah kebun belakang.
Baim duduk di kursi satu lagi. Willy tetap di halaman, berjalan memutari motor tua Mang Ujang.
Ayu meletakkan nampan di meja. Tatapannya sempat bertemu Ferry. Hanya sebentar. Lalu ia menunduk, mendorong gelas ke arah mereka satu per satu.
“Terima kasih,” kata Ferry pelan.
Ayu mengangguk kecil. Ujung jarinya menyentuh gelas saat Ferry mengambilnya. Sentuhan singkat, hampir tidak terasa. Namun Ferry tidak langsung menarik tangannya. Ayu yang lebih dulu melepas.
Saat Ferry mendongak, Mang Ujang sedang melihat ke arah mereka.
Willy yang masih berdiri di halaman melihat-lihat sekitar. “Sunyi juga ya,” gumamnya.
“Memang,” jawab Mang Ujang. “Di sini orang datang buat ... cari tempat yang damai.” Ia melirik sekilas ke arah teras, ke tempat Ayu berdiri tadi. Lalu kembali menatap Ferry.
Baim meminum airnya sampai habis.
Ferry menoleh ke arah belakang rumah. Dari sela pepohonan, tampak jalur kecil menuju hutan yang lebih lebat. Tanahnya ditumbuhi rumput setinggi pinggang, seperti jarang dilalui.
Mang Ujang mengikuti arah pandang Ferry.
“Ada tempat yang tidak boleh dimasuki di kampung ini,” katanya datar. “Sekitar air terjun masih aman. Tapi jangan pernah masuk ke hutan dalam.” Mang Ujang menegakkan punggung. Nadanya berubah serius.
Ferry tidak merespons. Ia masih menatap jalur tanah yang lebih gelap itu.
Willy tertawa kecil. “Wah, ada zona merah juga ya.”
Mang Ujang tidak ikut tertawa. Ia mengangkat dagunya sedikit ke arah hutan. “Saya ulangi,” katanya pelan, “jangan pernah sekali pun.”
“Kenapa?” tanya Willy cepat.
Mang Ujang memalingkan wajahnya ke arah pepohonan. Tangannya terlipat di depan dada, ibu jarinya mengusap pelan ruas jari lain.
Sunyi beberapa detik.
“Dulu,” kata Mang Ujang akhirnya, “ada dukun yang dianggap penyebab kematian banyak orang tak berdosa.”
Ia berhenti. Menelan ludah kecil. “Warga kampung marah. Mereka seret perempuan itu ke dalam hutan.”
Angin bergerak tipis. Ujung daun pisang bergetar.
“Dibakar hidup-hidup.” Suaranya tidak meninggi. Tidak dramatis. Datar.
Willy menyeringai tipis. “Terus?”
Mang Ujang menghela napas pendek. “Sejak itu, warga desa dilarang masuk ke hutan.”
Ia menggaruk pelipisnya sebentar, lalu melanjutkan. “Ada juga tamu dari kota. Seperti kalian.”
Matanya kini beralih satu per satu ke wajah mereka. “Diam-diam masuk ke hutan.” Ia menggeleng pelan. “Tidak pernah pulang.”
Hening turun tanpa aba-aba.
Ferry kembali menangkap tatapan Mang Ujang. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Ayu berdiri tanpa berkata apa-apa. Ia mengangkat nampan kosong dan masuk kembali ke dalam rumah.
Ferry melihat punggungnya menghilang di balik pintu kayu.
Ada rasa aneh di dadanya. Bukan karena cerita Mang Ujang, melainkan karena cara Ayu tadi menatap lalu cepat menunduk. Ia baru sadar gelas di tangannya masih penuh.
“Kalau mau ke air terjun, bisa besok pagi atau sore ini,” lanjut Mang Ujang. “Siang panas.”
Baim mengangguk. “Oke, Mang.”
Di sisi jalan, tak jauh dari rumah Mang Ujang, seorang pria duduk di atas batu.
Pakaiannya compang-camping. Rambutnya kusut. Kaki kirinya sedikit diseret ketika ia mengubah posisi duduk, meninggalkan garis tipis di tanah. Ia menatap ke arah mereka bertiga.
Ia mengeluarkan suara serak, seperti hendak berbicara. Tidak jelas apa. Tangannya bergerak sedikit, menunjuk ke arah jalan yang tadi mereka lewati. Lalu ke arah hutan.
Willy melirik sekilas. “Siapa tuh?”
“Orang sini,” jawab Mang Ujang singkat. “Sakit.”
Dua warga lain mendekat pelan. Mereka berdiri di belakang pria itu, tidak menyentuh, hanya mengawasi.
Pria pincang itu masih menatap Ferry.
Beberapa detik berlalu. Bunyi ayam berkokok terdengar di kejauhan.
Ferry mengalihkan pandangannya ke rumah kayu di belakang mereka. Ke bangku panjang. Ke pintu tempat Ayu tadi masuk.
Desa itu tampak biasa. Terlalu biasa.
Untuk pertama kalinya sejak kemarin, Ferry merasa napasnya sedikit lebih lapang.
Other Stories
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...