Pulang Tanpa Diikuti

Reads
53
Votes
1
Parts
5
Vote
Report
Penulis Ayu Ayy

**BAB 2 Nama Yang Tidak Pernah Disebut**

Pagi datang tanpa benar-benar mengusir rasa dingin. Sekar terbangun dengan kepala berat dan perasaan tidak enak yang menggantung di dada. Rumah nenek terasa berbeda—bukan karena suara, melainkan karena keheningan yang terlalu rapi, seolah setiap benda sedang menahan napas.
Ia duduk di tepi ranjang dan menatap lantai. Ada bau samar yang tidak ia kenali. Bukan bau kayu, bukan minyak kayu putih. Bau itu mengingatkannya pada sesuatu yang lama, sesuatu yang pernah akrab, tapi tidak pernah ia simpan namanya.
Di dapur, nenek sedang menyiapkan sarapan. Gerakannya pelan, teratur, seperti biasa. Sekar memperhatikan tangan itu—tangan yang dulu sering memegang kepala orang sakit, menempelkan doa, mengusap pelan seolah rasa sakit bisa berpindah.
“Kamu mimpi?” tanya nenek tanpa menoleh.
Sekar terdiam. “Sedikit,” jawabnya akhirnya.
Nenek mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.
Menjelang siang, suara motor berhenti di depan rumah. Sekar menoleh ketika seorang perempuan masuk membawa plastik berisi sayur dan lauk. Buliknya. Wajahnya ramah, senyumnya lebar, tapi matanya bergerak cepat—menyapu rumah, lorong, dan berhenti sesaat di pintu kamar yang terkunci.
“Kamu sudah sampai kemarin ya,” kata bulik pada Sekar sambil tersenyum.
“Iya, Bulik.”
“Orang tuamu langsung pulang?”
Sekar mengangguk. “Ada kerjaan.”
Bulik mengangguk juga, lalu mengalihkan pandangan. Seolah jawaban itu menutup sesuatu yang lain.
Mereka makan siang bersama. Obrolannya ringan—tentang cuaca, harga sayur, kabar tetangga. Sekar mencoba ikut tertawa, tapi pikirannya terus kembali ke lorong samping rumah.
“Bulik,” kata Sekar pelan, “dulu… aku sering sama siapa waktu kecil di sini?”
Sendok di tangan bulik berhenti sejenak.
“Maksudnya?” tanyanya, terlalu cepat.
Sekar ragu. “Aku ingat ada yang sering gendong aku. Perempuan. Bukan ibu, bukan nenek.”
Bulik tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Kamu kebanyakan ingat yang aneh-aneh,” katanya ringan. “Namanya juga anak kecil.”
Nenek berdiri dan mengambil piring kotor, suaranya memecah jeda. “Sudah, jangan dibahas.”
Satu nama hampir keluar dari mulut bulik—Sekar yakin itu. Tapi tidak jadi. Nama itu mengendap di udara, tidak terucap, tapi terasa.
Sore hari, Sekar duduk sendirian di teras. Angin membawa suara dedaunan dan aroma tanah basah. Dari sudut matanya, ia melihat bayangan perempuan berdiri di lorong samping rumah. Rambutnya panjang, tubuhnya kurus. Bayangan itu tidak mendekat, tidak menatap. Hanya berdiri, seperti menunggu.
“Siapa kamu?” bisik Sekar.
Bayangan itu memudar.
Malam datang lagi, lebih berat dari sebelumnya. Saat Sekar memejamkan mata, suara itu kembali.
Bukan langkah.
Bukan panggilan.
Hanya satu kalimat pendek, berulang, seperti doa yang tersesat.
“Kamu ingat aku, kan?”
Sekar membuka mata, air mata mengalir tanpa ia tahu sebabnya. Ia sadar, ada seseorang yang dulu sangat dekat dengannya. Seseorang yang pernah merawat, menjaga, dan mencintainya dengan caranya sendiri.
Dan sekarang, orang itu menunggu.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Hanya untuk diingat.

Other Stories
Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma