**BAB 4 Pulang Tanpa Diikuti**
Pagi datang tanpa suara aneh.
Tidak ada bisikan, tidak ada langkah di lorong, tidak ada rasa mual yang menekan dada Sekar seperti hari-hari sebelumnya.
Ia bangun dengan kepala ringan—bukan karena lupa, tapi karena sesuatu di dalam dirinya akhirnya berhenti melawan.
Di dapur, nenek sudah duduk. Tangannya sibuk merapikan daun-daun kering dan segelas air putih. Wajahnya tenang, seperti orang yang sudah mengambil keputusan sejak lama.
“Kita doakan Ratmi hari ini,” kata nenek singkat. Bukan perintah. Bukan ajakan. Seolah itu hal paling wajar di dunia.
Sekar mengangguk.
Mereka duduk berdampingan. Nenek melantunkan doa pelan, tanpa nada mengancam, tanpa kalimat pengusir. Tidak ada mantra yang terdengar asing di telinga Sekar—hanya permohonan agar yang pergi benar-benar sampai, dan yang tinggal tidak lagi ditarik-tarik oleh kenangan yang terlalu kuat.
Sekar menutup mata.
Dalam diam, ia membayangkan Ratmi seperti dalam mimpi terakhirnya—rambut rapi, senyum tipis, tidak sakit. Ia tidak memanggil. Tidak menahan. Ia hanya mengingat.
Dan untuk pertama kalinya, ingatan itu tidak membuat dadanya sesak.
Setelah doa selesai, nenek menghela napas panjang. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban tua dari pundaknya.
“Yang sudah pergi,” kata nenek pelan, “kalau benar sayang, dia nggak akan ganggu.”
Sekar menatap lantai. Ia mengerti sekarang. Ratmi datang bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk meminta balas. Ia datang karena pernah mencintai—dan cinta yang tidak dilepaskan akan berubah jadi ikatan.
Hari itu, Sekar membantu nenek di dapur. Mengiris bawang. Menanak nasi. Memasak sayur bening—resep lama yang dulu sering dibuat Ratmi.
Aromanya sama.
Tapi rasanya tidak lagi menyesakkan.
Sore menjelang, angin melewati halaman tanpa membuat pintu berderit. Rumah itu kembali menjadi rumah tua biasa—dengan dinding yang menyimpan kenangan, bukan penunggu.
Malamnya, Sekar tidur nyenyak.
Tidak bermimpi.
Dan di sanalah ia paham:
tidak semua yang datang dari dunia lain harus diusir.
Sebagian hanya perlu didengarkan—lalu dilepaskan.
Liburan itu berakhir beberapa hari kemudian. Ayah dan ibunya datang menjemput. Sekar pamit pada nenek, memeluknya lebih lama dari biasanya.
Di mobil, saat rumah itu mengecil di kejauhan, Sekar tidak menoleh dua kali.
Ia membawa pulang cerita.
Bukan ketakutan.
Ratmi tetap tinggal di masa lalu—di ingatan tentang tangan yang hangat, masakan sederhana, dan nasihat yang akhirnya dimengerti.
Dan Sekar melanjutkan hidupnya,
tanpa diikuti siapa pun.
Tidak ada bisikan, tidak ada langkah di lorong, tidak ada rasa mual yang menekan dada Sekar seperti hari-hari sebelumnya.
Ia bangun dengan kepala ringan—bukan karena lupa, tapi karena sesuatu di dalam dirinya akhirnya berhenti melawan.
Di dapur, nenek sudah duduk. Tangannya sibuk merapikan daun-daun kering dan segelas air putih. Wajahnya tenang, seperti orang yang sudah mengambil keputusan sejak lama.
“Kita doakan Ratmi hari ini,” kata nenek singkat. Bukan perintah. Bukan ajakan. Seolah itu hal paling wajar di dunia.
Sekar mengangguk.
Mereka duduk berdampingan. Nenek melantunkan doa pelan, tanpa nada mengancam, tanpa kalimat pengusir. Tidak ada mantra yang terdengar asing di telinga Sekar—hanya permohonan agar yang pergi benar-benar sampai, dan yang tinggal tidak lagi ditarik-tarik oleh kenangan yang terlalu kuat.
Sekar menutup mata.
Dalam diam, ia membayangkan Ratmi seperti dalam mimpi terakhirnya—rambut rapi, senyum tipis, tidak sakit. Ia tidak memanggil. Tidak menahan. Ia hanya mengingat.
Dan untuk pertama kalinya, ingatan itu tidak membuat dadanya sesak.
Setelah doa selesai, nenek menghela napas panjang. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban tua dari pundaknya.
“Yang sudah pergi,” kata nenek pelan, “kalau benar sayang, dia nggak akan ganggu.”
Sekar menatap lantai. Ia mengerti sekarang. Ratmi datang bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk meminta balas. Ia datang karena pernah mencintai—dan cinta yang tidak dilepaskan akan berubah jadi ikatan.
Hari itu, Sekar membantu nenek di dapur. Mengiris bawang. Menanak nasi. Memasak sayur bening—resep lama yang dulu sering dibuat Ratmi.
Aromanya sama.
Tapi rasanya tidak lagi menyesakkan.
Sore menjelang, angin melewati halaman tanpa membuat pintu berderit. Rumah itu kembali menjadi rumah tua biasa—dengan dinding yang menyimpan kenangan, bukan penunggu.
Malamnya, Sekar tidur nyenyak.
Tidak bermimpi.
Dan di sanalah ia paham:
tidak semua yang datang dari dunia lain harus diusir.
Sebagian hanya perlu didengarkan—lalu dilepaskan.
Liburan itu berakhir beberapa hari kemudian. Ayah dan ibunya datang menjemput. Sekar pamit pada nenek, memeluknya lebih lama dari biasanya.
Di mobil, saat rumah itu mengecil di kejauhan, Sekar tidak menoleh dua kali.
Ia membawa pulang cerita.
Bukan ketakutan.
Ratmi tetap tinggal di masa lalu—di ingatan tentang tangan yang hangat, masakan sederhana, dan nasihat yang akhirnya dimengerti.
Dan Sekar melanjutkan hidupnya,
tanpa diikuti siapa pun.
Other Stories
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...