*BAB 3 Yang Tidak Bisa Disembuhkan**
Sekar terbangun dengan rasa mual yang datang tiba-tiba. Tenggorokannya perih, perutnya bergejolak seperti baru saja menelan sesuatu yang pahit. Ia bergegas ke kamar mandi, tapi tidak ada yang keluar selain air mata dan napas yang terengah.
Di cermin, wajahnya pucat. Mata itu menatap balik dengan tatapan yang bukan sepenuhnya miliknya—seperti ada kelelahan lama yang ikut menumpang di sana.
Nenek berdiri di ambang pintu.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Suaranya tenang, tapi ada kewaspadaan yang tidak ia sembunyikan.
“Enggak tahu,” jawab Sekar pelan. “Tiba-tiba sakit.”
Nenek mendekat, menyentuh pergelangan tangan Sekar, lalu menutup mata sebentar. Sekar merasakan dingin menjalar dari sentuhan itu, dingin yang bukan berasal dari udara.
“Kamu mimpi lagi?” tanya nenek.
Sekar mengangguk. “Perempuan itu… dia kelihatan makin kurus.”
Nenek menarik napas panjang. Napas orang tua yang menyimpan terlalu banyak cerita.
“Namanya Ratmi,” kata nenek akhirnya.
Nama itu jatuh pelan, tapi menghantam dada Sekar dengan tepat.
Sekar terdiam. Ingatan-ingatan yang selama ini tercerai mulai menyatu. Ia melihat dirinya kecil—tubuhnya ringan, sering terangkat ke udara, dipeluk erat oleh lengan perempuan yang selalu hangat.
“Dia yang paling sering gendong kamu,” lanjut nenek. “Katanya kamu ringan, tapi nggak pernah mau turun.”
Sekar tersenyum tipis tanpa sadar. Ia ingat. Ratmi selalu menggendongnya ke mana-mana, bahkan saat memasak. Sekar kecil duduk di pinggulnya, memeluk lehernya, sementara Ratmi mengaduk sayur dengan satu tangan.
Masakan Ratmi.
Nasi hangat, sayur bening, tempe goreng yang selalu terasa lebih enak dari masakan siapa pun.
“Dia paling senang nyuapin kamu,” kata nenek. “Kalau kamu susah makan, dia yang paling sabar.”
Sekar menunduk. Dadanya sesak. Bukan karena takut—tapi karena rindu yang baru saja menemukan bentuknya.
“Ratmi sakit,” kata nenek kemudian. Suaranya berubah, lebih pelan, lebih berat. “Sakit yang nggak wajar.”
Nenek bercerita tanpa menatap Sekar. Tentang tubuh Ratmi yang mulai bau meski sudah dimandikan. Luka yang muncul tanpa sebab. Muntah hitam yang tidak bisa dijelaskan dokter. Tentang malam-malam ketika Ratmi menggigil, memanggil nama Sekar kecil dengan suara yang makin lemah.
“Orang-orang mulai bilang itu kiriman,” ujar nenek singkat.
Sekar menelan ludah. Tubuhnya kembali terasa tidak enak, seolah cerita itu bukan sekadar cerita.
Nenek berusaha. Ia berjaga malam, berdoa, menempelkan ramuan, memegangi tubuh Ratmi yang semakin ringan. Ada hari-hari ketika Ratmi terlihat membaik—bisa duduk, bisa makan sedikit, bahkan tersenyum sambil berkata, ‘Sekar sekarang pasti sudah besar.’
Tapi itu tidak bertahan lama.
“Ilmuku ada batasnya,” kata nenek. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. “Niat orang yang mengirim itu… lebih kuat.”
Sekar menatap nenek. Untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Bukan lelah fisik—melainkan lelah karena gagal menyelamatkan seseorang yang ia anggap keluarga.
Ratmi meninggal menjelang subuh. Tidak menjerit. Tidak meronta. Hanya mengembuskan napas terakhir dengan mata terbuka, seperti ingin memastikan sesuatu masih ada di hadapannya.
“Kamu,” kata nenek pelan. “Kamu yang dia panggil terakhir.”
Malam itu, mimpi datang lebih jernih dari sebelumnya.
Sekar berdiri di kamar yang terkunci. Tidak gelap. Tidak menakutkan. Ratmi duduk di lantai, rambutnya terurai rapi, wajahnya pucat tapi tenang—tidak lagi terlihat sakit.
“Kamu sekarang gimana?” tanya Ratmi lembut.
Sekar duduk di hadapannya. “Aku… sekolah. Kadang capek.”
Ratmi tersenyum kecil. “Sekolah yang bener ya. Fokus. Jangan mikirin yang aneh-aneh dulu.”
Sekar menunduk. “Kenapa?”
Ratmi menghela napas pelan. “Jangan kayak aku,” katanya. Tidak marah. Tidak menyalahkan. Hanya jujur. “Aku kebanyakan nurutin hati. Lupa jaga diri.”
Ratmi menatap Sekar lama, seperti dulu saat menyuapinya. Tatapan penuh sayang.
“Kamu itu pinter,” lanjutnya. “Sayang kalau salah langkah.”
Sekar ingin menangis. “Aku kangen,” katanya.
Ratmi tersenyum lebih lebar. “Aku tahu.”
Lalu suaranya melembut. “Doain aku ya. Jangan lupain.”
Sekar terbangun dengan air mata membasahi bantal. Dadanya sesak, tapi bukan karena takut. Karena kehilangan yang akhirnya diberi nama.
Dari lorong, tidak ada suara langkah. Tidak ada panggilan.
Hanya keheningan yang terasa penuh—bukan kosong.
Sekar sadar, yang tinggal di rumah nenek bukan kemarahan.
Bukan dendam.
Melainkan seseorang yang pernah mencintainya sepenuh hati,
dan hanya ingin diingat dengan baik.
Di cermin, wajahnya pucat. Mata itu menatap balik dengan tatapan yang bukan sepenuhnya miliknya—seperti ada kelelahan lama yang ikut menumpang di sana.
Nenek berdiri di ambang pintu.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Suaranya tenang, tapi ada kewaspadaan yang tidak ia sembunyikan.
“Enggak tahu,” jawab Sekar pelan. “Tiba-tiba sakit.”
Nenek mendekat, menyentuh pergelangan tangan Sekar, lalu menutup mata sebentar. Sekar merasakan dingin menjalar dari sentuhan itu, dingin yang bukan berasal dari udara.
“Kamu mimpi lagi?” tanya nenek.
Sekar mengangguk. “Perempuan itu… dia kelihatan makin kurus.”
Nenek menarik napas panjang. Napas orang tua yang menyimpan terlalu banyak cerita.
“Namanya Ratmi,” kata nenek akhirnya.
Nama itu jatuh pelan, tapi menghantam dada Sekar dengan tepat.
Sekar terdiam. Ingatan-ingatan yang selama ini tercerai mulai menyatu. Ia melihat dirinya kecil—tubuhnya ringan, sering terangkat ke udara, dipeluk erat oleh lengan perempuan yang selalu hangat.
“Dia yang paling sering gendong kamu,” lanjut nenek. “Katanya kamu ringan, tapi nggak pernah mau turun.”
Sekar tersenyum tipis tanpa sadar. Ia ingat. Ratmi selalu menggendongnya ke mana-mana, bahkan saat memasak. Sekar kecil duduk di pinggulnya, memeluk lehernya, sementara Ratmi mengaduk sayur dengan satu tangan.
Masakan Ratmi.
Nasi hangat, sayur bening, tempe goreng yang selalu terasa lebih enak dari masakan siapa pun.
“Dia paling senang nyuapin kamu,” kata nenek. “Kalau kamu susah makan, dia yang paling sabar.”
Sekar menunduk. Dadanya sesak. Bukan karena takut—tapi karena rindu yang baru saja menemukan bentuknya.
“Ratmi sakit,” kata nenek kemudian. Suaranya berubah, lebih pelan, lebih berat. “Sakit yang nggak wajar.”
Nenek bercerita tanpa menatap Sekar. Tentang tubuh Ratmi yang mulai bau meski sudah dimandikan. Luka yang muncul tanpa sebab. Muntah hitam yang tidak bisa dijelaskan dokter. Tentang malam-malam ketika Ratmi menggigil, memanggil nama Sekar kecil dengan suara yang makin lemah.
“Orang-orang mulai bilang itu kiriman,” ujar nenek singkat.
Sekar menelan ludah. Tubuhnya kembali terasa tidak enak, seolah cerita itu bukan sekadar cerita.
Nenek berusaha. Ia berjaga malam, berdoa, menempelkan ramuan, memegangi tubuh Ratmi yang semakin ringan. Ada hari-hari ketika Ratmi terlihat membaik—bisa duduk, bisa makan sedikit, bahkan tersenyum sambil berkata, ‘Sekar sekarang pasti sudah besar.’
Tapi itu tidak bertahan lama.
“Ilmuku ada batasnya,” kata nenek. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. “Niat orang yang mengirim itu… lebih kuat.”
Sekar menatap nenek. Untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Bukan lelah fisik—melainkan lelah karena gagal menyelamatkan seseorang yang ia anggap keluarga.
Ratmi meninggal menjelang subuh. Tidak menjerit. Tidak meronta. Hanya mengembuskan napas terakhir dengan mata terbuka, seperti ingin memastikan sesuatu masih ada di hadapannya.
“Kamu,” kata nenek pelan. “Kamu yang dia panggil terakhir.”
Malam itu, mimpi datang lebih jernih dari sebelumnya.
Sekar berdiri di kamar yang terkunci. Tidak gelap. Tidak menakutkan. Ratmi duduk di lantai, rambutnya terurai rapi, wajahnya pucat tapi tenang—tidak lagi terlihat sakit.
“Kamu sekarang gimana?” tanya Ratmi lembut.
Sekar duduk di hadapannya. “Aku… sekolah. Kadang capek.”
Ratmi tersenyum kecil. “Sekolah yang bener ya. Fokus. Jangan mikirin yang aneh-aneh dulu.”
Sekar menunduk. “Kenapa?”
Ratmi menghela napas pelan. “Jangan kayak aku,” katanya. Tidak marah. Tidak menyalahkan. Hanya jujur. “Aku kebanyakan nurutin hati. Lupa jaga diri.”
Ratmi menatap Sekar lama, seperti dulu saat menyuapinya. Tatapan penuh sayang.
“Kamu itu pinter,” lanjutnya. “Sayang kalau salah langkah.”
Sekar ingin menangis. “Aku kangen,” katanya.
Ratmi tersenyum lebih lebar. “Aku tahu.”
Lalu suaranya melembut. “Doain aku ya. Jangan lupain.”
Sekar terbangun dengan air mata membasahi bantal. Dadanya sesak, tapi bukan karena takut. Karena kehilangan yang akhirnya diberi nama.
Dari lorong, tidak ada suara langkah. Tidak ada panggilan.
Hanya keheningan yang terasa penuh—bukan kosong.
Sekar sadar, yang tinggal di rumah nenek bukan kemarahan.
Bukan dendam.
Melainkan seseorang yang pernah mencintainya sepenuh hati,
dan hanya ingin diingat dengan baik.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...