Kamera Sekali Pakai

Reads
201
Votes
126
Parts
10
Vote
Report
Kamera sekali pakai
Kamera Sekali Pakai
Penulis Alieya Nugroho

SATU

"Arif, tiket kamu di mana?" suaraku meninggi satu oktav, ada nada panik yang terselip di sana. Aku membongkar isi tas jinjingku dengan kasar. Dompet, botol minum, alat make-up, sisir, sepatu semuanya berhamburan. "Tadi aku yang pegang atau kamu?"
"Di kantong depan, Nad. Seperti biasa. Tenang sedikit, kita nggak bakal ketinggalan pesawat."
Suara itu. Begitu tenang, begitu berat, dan selalu memiliki daya magis untuk menurunkan suhu kepalaku yang mendidih. Aku mendongak. Arif berdiri di sampingku, hanya terpaut beberapa inci. Dia mengenakan kemeja flanel biru favoritnya yang lengannya selalu dia gulung sampai siku dan celana chino krem. Wajahnya tampak segar, meskipun ada sedikit bayangan kelelahan di bawah matanya.
Dia merogoh kantong depan tas ransel hitamnya, selembar kertas berbentuk persegi Panjang, lalu menyodorkannya padaku. Jemarinya yang panjang sempat bersentuhan dengan kulit tanganku. Dingin. Mungkin karena AC bandara terlalu kencang pagi ini.
"Oh, syukur," aku mengembuskan napas panjang, merebut tiket itu dan menggenggamnya erat. "Aku benar-benar tidak bisa fokus hari ini."
"Kamu terlalu bersemangat," Arif terkekeh. Suara rendahnya bergetar di telingaku. "Ini kan cuma liburan ke Labuan Bajo, bukan pindah warga negara."
Aku tidak membalas. Dia tidak mengerti. Bagi orang lain, ini mungkin hanya liburan biasa. Tapi bagiku, ini adalah pembuktian. Sebuah proklamasi bahwa kami baik-baik saja. Bahwa semua badai yang menghantam kami tahun lalu telah berlalu, dan sekarang adalah saatnya untuk membangun kembali semua yang sempat retak.
Kami berjalan menuju konter check-in. Antreannya tidak terlalu panjang, tapi setiap detik terasa seperti siksaan. Aku terus memperhatikan Arif. Dia sedang sibuk dengan jam tangan analognya, memutar tombol kecil di sampingnya untuk menyesuaikan waktu.
"Selamat pagi, Bu. Bisa lihat tiketnya?" petugas check-in dengan sanggul rapi dan senyum yang dipaksakan itu menyapa.
"Nadia Sasmita dan Arif Rahman. Penerbangan ke Labuan Bajo jam 08.15."
Petugas itu mengambil tiket kami, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard komputer. Matanya menatap layar monitor, lalu sesekali melirik ke arahku. Aku merasakan dorongan untuk menoleh ke arah Arif, memastikan dia masih berdiri tepat di sebelahku. Dan benar saja, dia ada di sana, sedang bersandar di konter sambil melihat-lihat brosur wisata yang tergeletak di meja sebelah.
"Dua orang, ya?" petugas itu bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Iya, dua orang," jawabku mantap. Aku melirik Arif, berharap dia ikut bicara, tapi dia hanya mengangguk kecil ke arah petugas itu.
"Ini boarding pass-nya, Ibu Nadia. Kursi 12A dan 12B. Dekat jendela. Bagasinya sudah masuk semua?"
"Sudah, hanya satu koper besar," kataku. Arif yang mengangkat koper itu tadi ke timbangan. Dia memang selalu bersikeras membawa beban yang berat.
"Baik. Semoga perjalanannya menyenangkan."
Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang melelahkan, kami memiliki waktu sekitar empat puluh menit sebelum boarding. Aku merasa lapar, tapi perutku terlalu mulas oleh kombinasi antara kegembiraan dan kecemasan yang tidak bisa kujelaskan. Kami melewati deretan toko barang mewah yang memamerkan tas-tas seharga mobil, hingga langkahku terhenti di depan sebuah toko suvenir kecil di sudut terminal.
Di sana, di antara gantungan kunci berbentuk Monas dan kartu pos bergambar pemandangan Indonesia, ada sebuah rak kaca kecil berisi barang-barang yang tampak asing di era digital ini.
Kamera sekali pakai.
Warnanya kuning terang perpaduan hitam doff, dengan desain plastik yang tampak rapuh dan murahan. Di labelnya tertulis: Kodak FunSaver - 27 Exposure.
"Arif, lihat!" Aku menarik ujung lengan kemejanya. "Bagaimana kalau kita pakai ini?"
Arif mendekat, menunduk untuk melihat benda itu. "Kamera sekali pakai? Bukannya kamera HP kamu jauh lebih bagus?"
"Bukan itu poinnya," aku mengambil satu kotak kuning itu dari rak. "Kalau pakai HP, kita akan sibuk mengambil seribu foto, memilih yang terbaik, mengeditnya dengan filter, lalu menghapus sisanya. Di kamera ini, kita cuma punya dua puluh tujuh kesempatan. Tidak ada filter. Tidak ada tombol delete. Apa yang tertangkap di film, itulah yang nyata."
Aku menatap mata Arif. "Aku ingin sesuatu yang nyata untuk liburan ini. Sesuatu yang bisa kita pegang hasilnya nanti."
Arif terdiam sejenak. Dia menatap kamera di tanganku, lalu beralih menatap mataku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalau itu bisa membuatmu tenang, belilah," katanya lembut.
Aku membayar kamera itu dengan kartu kreditku. Saat kasir menyerahkan kantong plastik kecil berisi kamera itu, aku merasa seperti baru saja membeli sebuah jimat pelindung. Seolah-olah selama kamera ini ada di tanganku, dan selama aku bisa menangkap bayangan Arif di dalamnya, maka kenyataan ini akan tetap utuh. Tidak akan ada yang bisa merenggutnya dariku.
Kami duduk di ruang tunggu yang penuh sesak. Aku mengeluarkan kamera itu dari bungkus plastiknya. Teksturnya kasar di jemariku. Ada bau kimia samar yang keluar dari kemasannya. Aku memutar roda penggulung filmnya sampai terdengar bunyi klik yang memuaskan.
"Siap untuk foto pertama?" tanyaku.
Arif sedang menatap ke arah landasan pacu melalui jendela kaca raksasa yang membatasi ruang tunggu dengan dunia luar. Di luar sana, sebuah pesawat baru saja lepas landas, membelah awan pagi yang kelabu.
"Jangan sekarang, Nad. Cahayanya kurang bagus," protesnya pelan.
"Justru ini yang bagus. Realistis" kataku keras kepala.
Aku mengangkat kamera itu, menempelkan jendela bidik kecilnya ke mata kananku. Di dalam bingkai kecil itu, aku melihat Arif. Dia tampak seperti siluet yang indah dengan latar belakang langit pagi. Dia tidak menoleh, tetap menatap jauh ke luar.
Klik.
Bunyi kamera itu terdengar nyaring di telingaku. Angka di jendela kecil di bagian atas kamera berubah. Dari 27 menjadi 26.
Satu momen telah terkunci. Tersimpan aman di dalam gulungan film gelap di dalam plastik kuning ini. Tidak bisa diubah, tidak bisa dihapus. Aku tersenyum lebar, merasakan kemenangan kecil dalam hatiku.
"Satu sudah," bisikku. "Tinggal dua puluh enam lagi."
Arif akhirnya menoleh. Dia tidak tersenyum. Dia menatapku dengan ekspresi yang begitu serius, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting tapi lidahnya kelu.
"Nadia," panggilnya. Suaranya hampir tenggelam oleh suara pengumuman boarding untuk pesawat kami.
"Ya, Sayang?"
Dia terdiam cukup lama. Orang-orang di sekitar kami mulai berdiri, menggendong tas mereka, membentuk barisan yang tidak teratur menuju gerbang.
"Kamu tahu kan, kalau aku sangat mencintaimu?" tanya Arif. Pertanyaan itu terdengar aneh, muncul tiba-tiba di tengah keriuhan bandara.
"Tentu saja aku tahu. Aku juga mencintaimu. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. Aku meraih tangannya, mencoba menggenggam jemarinya.
"Hanya ingin memastikan kamu tidak lupa," katanya, akhirnya memberikan senyum tipis. Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya tetap terlihat kosong, seperti sumur yang dalam tanpa dasar.
"Ayo," kataku, menarik tangannya menuju antrean. "Petualangan kita dimulai sekarang."
Kami berjalan menyusuri garbarata, lorong sempit yang menghubungkan terminal dengan pintu pesawat. Aku melirik ke samping. Arif berjalan tepat di sebelahku. Bahunya bersentuhan dengan bahuku.
"Arif," panggilku saat kami sampai di pintu pesawat.
"Ya?"
"Liburan kali ini akan berbeda, kan? Kita tidak akan melakukan hal-hal ekstrem lagi. Tidak ada skydiving, tidak ada panjat tebing yang berbahaya. Kita cuma akan duduk di pantai, melihat Komodo, dan mengambil foto. Setuju?"
Arif berhenti melangkah sejenak. Dia menatapku, lalu mengangguk pelan. "Iya, Nad. Liburan kali ini akan berbeda. Aku janji."
Aku tersenyum lega. Aku masuk ke dalam kabin pesawat, menemukan kursi 12A dan 12B. Aku membiarkan Arif duduk di dekat jendela, seperti biasanya. Aku duduk di tengah, menjaga jarak antara dia dan dunia luar.
Saat pesawat mulai bergerak mundur, aku memegang kamera sekali pakai itu di pangkuanku. Jemariku gemetar kecil saat mengelus permukaannya. Aku punya 26 kesempatan lagi untuk membuat momen nyata.
Aku menghela napas panjang, menenangkan jantungku yang berpacu karena pesawat yang akan lepas landas. Aku mengangkat kamera lagi, membidik profil samping wajahnya yang terkena cahaya matahari pagi yang menembus jendela pesawat.
Ceklek.
Dua puluh lima.





Other Stories
Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Download Titik & Koma