Kamera Sekali Pakai

Reads
207
Votes
126
Parts
10
Vote
Report
Penulis Alieya Nugroho

DUA

Labuan Bajo menyambut kami dengan hawa panas, aroma ikan bakar yang terbawa angin dari dermaga. Kami tidak berlama-lama di pusat kota. Sebuah speedboat pribadi sudah menunggu untuk membawa kami ke resort yang terletak di pulau kecil, sekitar empat puluh menit dari pelabuhan utama.
"Pelan-pelan, Nad," Arif mengulurkan tangannya saat aku hendak melompat ke atas kapal yang bergoyang terkena ombak.Aku menyambut tangannya.
Begitu mesin kapal menderu, aku membiarkan rambutku berantakan ditiup angin. Aku menoleh ke arah Arif yang duduk di belakang, dekat dengan kapten kapal. Dia tampak menikmati cipratan air yang sesekali mengenai wajahnya.
"Seru, ya?" teriakku di tengah bising mesin.
Arif hanya mengangguk, senyumnya lebar, matanya menyipit karena silau matahari. Aku segera meraih kamera sekali pakai dari tas selempangku.
Klik. Dua puluh empat.
"Jangan boros-boros fotonya," teriak Arif lagi. "Simpan buat di Pulau nanti."
"Tenang saja, aku tahu apa yang kulakukan!" sahutku sambil tertawa.
Saat kami menepi di dermaga kayu, seorang pria muda berseragam linen putih menyambut kami dengan dua gelas minuman dingin berwarna kemerahan.
"Selamat datang di Resort Eden, Ibu Nadia. Dan..." Pelayan itu menjeda kalimatnya, matanya menatap ke arah belakangku selama satu detik yang terasa sangat lama. "...dan selamat datang untuk rekan perjalanannya."
"Suami saya," koreksiku cepat, memberikan penekanan pada kata terakhir.
"Tentu saja. Mari, saya antar ke lobi."
Lobi resort itu terbuka, tanpa dinding, hanya tiang-tiang kayu besar yang menopang atap. Angin laut berhembus bebas di sana.
"Ini kunci untuk Pondok Nomor 3, Bu Nadia," kata resepsionis sambil meletakkan kartu kunci di atas konter. "Kamar sudah disiapkan untuk dua orang. Makan malam romantis di pinggir pantai sudah kami reservasi untuk pukul tujuh malam ini, sesuai permintaan di email."
"Terima kasih," aku mengambil kuncinya. "Rif, ayo. Aku mau mandi, gerah banget."
Arif sudah lebih dulu berjalan menuju jalan setapak setapak yang dikelilingi pohon kamboja. Dia membawa ranselnya dengan santai di satu bahu. Aku menyusulnya. Langkahku terasa ringan di atas pasir putih yang halus.
Di pondok kami aroma kayu cendana langsung menyapa. Sebuah tempat tidur besar dengan kelambu putih transparan berdiri gagah di tengah ruangan. Di atas sprei putih yang kaku, terdapat hiasan dua ekor angsa yang dibentuk dari handuk, saling beradu paruh membentuk lambang hati.
"Terlihat norak ya, Rif?" Aku terkekeh, menunjuk handuk itu.
Arif meletakkan tasnya di pojok ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. "Tapi kamu suka, kan?"
Aku mengangguk sembari membongkar isi koper. Mengeluarkan baju-baju pantai yang sudah kupersiapkan dengan teliti. Gaun musim panas, kacamata hitam, dan tentu saja, sunscreen.
Arif mendekat, membelai pipiku dengan punggung tangannya. "Ayo, ganti bajumu. Kita ambil foto lagi sebelum matahari benar-benar hilang."
Aku segera berganti pakaian dengan terusan putih yang tipis. Kami berjalan keluar menuju balkon pribadi yang luas. Matahari mulai turun, mengubah warna langit menjadi gradasi jingga, ungu, dan merah darah. Cantik.
"Berdiri di sana, Rif. Dekat pagar kayu itu," perintahku.
Arif menurut. Dia bersandar di pagar, membelakangi laut yang tenang. Cahaya senja menyinari wajahnya dari samping, mempertegas garis rahangnya yang tegas. Di mataku, dia adalah pemandangan paling indah di pulau ini.
Aku mengangkat kamera sekali pakai itu. Fokus. Klik. Dua puluh tiga.
"Lagi," kataku. "Sekarang senyum yang lebar."
Klik. Dua puluh dua.
Aku menatap angka di kamera itu. Sepuluh persen memori liburan ini sudah terpakai. Aku merasa puas.
"Nad, kenapa kamu tidak minta tolong orang lain untuk memotret kita berdua?" tanya Arif sambil berjalan mendekat. "Dari tadi kamu cuma memotret aku saja."
"Nanti saja. Aku lebih suka mengambil fotomu," jawabku. "Kamu tahu kan, aku selalu jadi orang di balik lensa."
"Tapi dunia perlu tahu kalau kita di sini bersama," bisiknya. Suaranya terdengar sangat dekat di telingaku, membuat aku merinding kegelian.
Malam mulai turun. Lampu-lampu obor di sepanjang pantai mulai dinyalakan. Kami bersiap untuk makan malam. Restoran resort berada di atas pasir, dengan meja-meja yang diletakkan cukup berjauhan satu sama lain untuk menjaga privasi. Pelayan mengantar kami ke meja.
"Mau pesan apa, Bu?" tanya pelayan itu, siap dengan catatan kecilnya.
"Kami mau paket Seafood Grill untuk dua orang," kataku. "Dan dua gelas white wine."
"Baik, akan segera disiapkan." Pelayan itu pergi dengan terburu-buru. Langkahnya tampak sedikit canggung.
"Orang-orang disini aneh ya," gumamku pada Arif.
Arif tertawa. Suara tawanya menyatu dengan suara ombak. "Mungkin mereka jarang melihat pasangan sesempurna kita."
Arif tidak banyak menyentuh makanannya, dia lebih banyak bicara tentang rencana kami besok tentang snorkeling dan mencari tempat tersembunyi di pulau ini.
"Kenapa makanannya tidak dimakan, Rif? Enak lho," tanyaku, sambil mengunyah udang bakar.
"Aku masih kenyang, tadi di pesawat kan aku makan banyak," jawabnya santai.
Aku tidak mendebatnya. Setelah makan malam selesai, kami kembali ke pondok. Udara malam di pulau itu terasa lebih dingin dari yang kuduga. Aku merapatkan kardigan yang kupakai.
Sebelum masuk ke dalam kamar, aku melihat sebuah kotak kayu kecil di depan pintu kami. Isinya adalah beberapa keperluan tambahan: handuk ekstra, air mineral, dan sebuah catatan kecil dari manajemen resort.
Aku mengambil catatan itu dan membacanya di bawah lampu teras.
'Kepada Ibu Nadia, kami harap Anda menikmati malam pertama Anda di Resort Eden. Jika ada sesuatu yang Ibu butuhkan selama masa penyembuhan Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami.'
Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat. Masa Penyembuhan?
Aku membaca ulang kalimat itu. 'Masa penyembuhan'. Tulisan tangannya agak cakar ayam, mungkin aku salah baca karena cahaya lampu yang temaram. Aku meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah di dekat pintu.
"Ada apa, Nad?" Suara Arif muncul dari dalam kamar.
"Nggak ada apa-apa. Cuma catatan sambutan biasa," jawabku, berusaha terdengar santai meskipun tanganku sedikit gemetar.
Aku masuk ke dalam, mengunci pintu rapat-rapat. Arif sudah berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit berkanopi. Aku mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur yang redup.
Aku berbaring di sampingnya, memejamkan mata, mencoba mengusir kata-kata di catatan tadi dari pikiranku. Namun, saat aku mencoba memeluknya, aku menyadari sesuatu yang membuat mataku kembali terbuka lebar di kegelapan.
Aku merasa aku sedang memeluk bantal guling yang keras, padahal jelas-jelas aku melihat kepala Arif bersandar di bantal yang sama denganku. Aku menyentuh bahunya, dan rasanya nyata. Kain kemejanya, lekuk tulangnya. Tapi kenapa ada bagian dari diriku yang merasa… kosong?
Aku meraih kamera sekali pakai yang kuletakkan di atas nakas. Aku memeluk benda plastik kuning itu seolah itu adalah satu-satunya peganganku pada realitas.
Besok. Besok aku akan mengambil lebih banyak foto. Foto yang akan membuktikan bahwa aku tidak memerlukan penyembuhan apapun.





Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Download Titik & Koma