Kamera Sekali Pakai

Reads
203
Votes
126
Parts
10
Vote
Report
Penulis Alieya Nugroho

TIGA

Aku terbangun oleh cahaya matahari yang menembus kelambu putih, menciptakan pola-pola geometris di atas sprei. Di sampingku, tempat tidur sudah kosong, tapi bantalnya masih menunjukkan bekas tekanan kepala.
"Rif?" panggilku pelan.
"Di sini, Nad. Di Balkon."
Aku bangkit, menyibakkan kelambu, dan menemukan Arif sedang berdiri membelakangi kamar, menatap laut lepas dengan secangkir kopi di tangannya. Aku tersenyum. Momen ini begitu sempurna, begitu tenang. Aku meraih kamera sekali pakai kuning itu dari nakas.
Klik. Dua puluh satu.
"Pagi-pagi sudah memotret," komentar Arif tanpa menoleh. "Mandilah. Kita harus berangkat ke Pulau Padar sebelum terlalu terik."
Kami sarapan di restoran terbuka yang sama dengan semalam. Suasana lebih ramai pagi ini. Ada beberapa pasangan muda yang sibuk berfoto dengan ponsel mereka, melakukan pose-pose yang menurutku terlalu dibuat-buat. Aku menatap mereka dengan perasaan superior yang aneh. Mereka butuh sepuluh kali jepretan untuk satu foto bagus dan aku hanya butuh satu, karena momenku dengan Arif adalah asli.
"Selamat pagi, Ibu Nadia," sapa pelayan yang semalam, Namanya, kalau tidak salah, adalah Rio. Dia meletakkan satu piring buah potong dan satu gelas jus jeruk di depan tempat dudukku. "Sarapan utama akan segera menyusul."
Aku menatap piring itu, lalu menatap Arif yang duduk di depanku. Arif hanya diam, sibuk melihat peta wisata yang ia bawa.
"Maaf, jus jeruknya satu lagi untuk suami saya," kataku sambil menunjuk ke arah Arif.
Rio terhenti. Dia menatap kursi di depanku, lalu menatapku. Matanya berkedip cepat. Ada keraguan yang melintas di sana. "Oh... tentu. Satu lagi. Maaf, saya pikir Ibu hanya..."
"Hanya apa?" tanyaku. Nada suaraku sedikit tajam.
"Hanya… suka minum dua gelas jus," jawabnya dengan tawa kecil yang terdengar sangat gugup. Dia segera berlari kembali ke arah dapur.
"Kamu lihat itu, Rif? Mereka benar-benar tidak kompeten," keluhku.
Arif melipat petanya, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Mungkin kamu yang harus lebih santai, Nad. Jangan terlalu banyak menuntut perhatian dari orang asing."
Kapal kecil yang kami sewa membawa kami membelah laut menuju Pulau Padar. Di atas kapal, aku tidak bisa berhenti memotret. Aku mengambil foto kaki kami yang bersisian di atas dek kapal. Aku mengambil foto bayangan kami yang jatuh di atas air yang jernih.
Sesampainya di dermaga Pulau Padar, tantangan sebenarnya dimulai. Ratusan anak tangga batu membentang menuju puncak. Panas mulai menyengat, membuat keringat membasahi tengkukku.
"Kamu kuat, Nad?" tanya Arif. Dia berjalan beberapa anak tangga di depanku, tampak sama sekali tidak berkeringat.
"Tentu saja. Aku ingin foto itu, Rif. Foto dari puncak tertinggi."
Kami mendaki dalam diam. Napas saya mulai memburu. Jantung saya berdegup kencang melawan gravitasi. Setiap kali saya merasa ingin menyerah, saya melihat punggung Arif di depan sana. Dia adalah kompas saya. Dia adalah alasan saya berada di sini.
Tiga teluk dengan pasir warna berbeda, putih, hitam, dan merah muda terbentang di bawah kami. Indah sekaligus menakutkan. Ketinggian ini… rasa mual mulai merayap di perutku.
"Jangan lihat ke bawah, Nad. Lihat aku saja," suara Arif terdengar begitu dekat, meskipun dia berdiri beberapa meter jauhnya.
Aku menarik napas panjang, menstabilkan kakiku yang gemetar. Aku mengangkat kamera kuning itu. Aku ingin menangkap Arif dengan latar belakang tiga teluk itu. Komposisi yang sempurna.
"Rif, geser ke kiri sedikit. Aku mau ambil semua pandangannya,” instruksiku.
Arif bergerak ke kiri, tepat di bibir tebing yang tidak berpagar. Angin bertiup kencang, menerbangkan ujung kemejanya.
"Mbak, hati-hati," teriak seorang turis asing yang lewat di dekatku. Dia menatapku dengan wajah cemas. "Jangan terlalu dekat dengan pinggir. Itu berbahaya."
Aku hanya mengangguk sopan pada turis itu. Membidik kameraku. Apa urusannya dengan dia? Aku kan cuma memotret suamiku.
Klik. Dua puluh.
"Dapat!" seruku gembira. "Hasilnya pasti bagus banget, Rif."
"Bagus," jawab Arif pelan. "Ayo, lanjut ke puncak."
"Nadia? Kamu tidak apa-apa?"
"Aku cuma pusing sedikit. Mungkin karena panas," bisikku.
"Mari kita ambil foto berdua," usul Arif. "Jepretan terakhir untuk hari ini."
Aku menoleh ke sekeliling, mencari seseorang yang bisa dimintai tolong. Ada seorang gadis remaja yang sedang asyik berswafoto tak jauh dari kami.
"Permisi," kataku, menghampirinya. "Bisa tolong ambilkan foto saya dan suami saya? Pakai kamera ini saja."
Gadis itu mengambil kamera sekali pakai itu dengan wajah bingung. Dia melihat benda kuning itu seolah-olah itu adalah artefak dari zaman purba. "Kamera film, ya? Oke... di mana suaminya?"
Aku menunjuk ke arah Arif yang berdiri dengan gagah di latar belakang bukit. "Itu, yang pakai kemeja biru."
Gadis itu menatap ke arah yang kutunjuk. Dia terdiam selama beberapa detik. Dia menoleh padaku, lalu kembali menatap ke arah Arif, lalu menoleh padaku lagi. Ekspresi wajahnya berubah.
Gadis itu mengangkat kamera dengan tangan yang gemetar. Dia melihat melalui jendela bidik kecil itu cukup lama. Aku berdiri di samping Arif, merangkul pinggangnya, menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku bisa merasakan detak jantung, entah itu jantungku atau jantungnya.
"Sudah?" tanyaku.
Klik. Sembilan belas.
Gadis itu hampir menjatuhkan kameranya saat mengembalikannya padaku. Dia tidak mengatakan "sama-sama" atau "bagus". Dia justru langsung berbalik dan setengah berlari menjauh dariku. Mungkin dia buru-buru.
"Ada apa dengan semua orang di pulau ini?" gerutuku, memasukkan kembali kamera itu ke dalam tas.
Arif tidak menjawab. Dia hanya menatap ke arah laut lepas dengan pandangan kosong.
Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba aku merasa sangat takut untuk menghabiskan sisa film di kamera itu. Karena jauh di dalam hatiku, ada suara kecil yang berbisik: Jika filmnya habis, realitas ini juga akan berakhir.



Other Stories
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

32 Detik

Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...

Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma