ENAM
Air laut berwarna biru safir karena begitu dalam. Kapal kami bergoyang pelan, memantul di atas ombak yang cukup kuat. Aku sudah mengenakan masker snorkeling. Arif berdiri di sampingku, menyesuaikan letak sirip renangnya dengan tenang.
"Siap, Nad?" tanya Arif.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunjukkan kamera sekali pakai yang sudah kubungkus dengan plastik kedap air. Ini adalah jepretan yang paling penting. Di bawah air, dunia menjadi jujur. Tidak ada suara, tidak ada gangguan. Hanya ada aku dan dia.
"Hati-hati, Mbak. Arusnya lumayan kencang hari ini," kapten kapal mengingatkan. Dia menatapku dengan kerutan dalam di dahinya. "Jangan jauh-jauh dari kapal, ya?"
"Saya bersama suami saya, Pak. Dia penyelam yang hebat," kataku sambil melirik Arif.
Kapten itu terdiam. Dia melihat ke arah tempat Arif berdiri, lalu beralih menatap asistennya dengan tatapan yang sangat aneh, namun dia tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk pelan dengan gerakan yang kaku.
Byur!
Dinginnya air laut menusuk tubuhku saat aku melompat. Di bawah permukaan, dunia mendadak menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara napasku yang menderu melalui pipa snorkel dan degup jantungku yang berdentum di dada.
Aku melihat ke bawah. Terumbu karang tampak seperti istana hantu di kegelapan biru yang luas. Dan di sana, Arif sudah berenang lebih dulu. Dia bergerak dengan sangat lincah tanpa pelampung, seolah air adalah elemen aslinya. Kemeja birunya melambai-lambai di dalam air, memberikan warna kontras yang indah di tengah kegelapan laut.
Aku berenang mendekatinya. Arif berhenti di depan sebuah karang besar, lalu menoleh padaku. Dia melambai, memintaku mendekat.
Aku mengangkat kamera sekali pakai itu. Fokus.
Klik. Enam belas.
Udara keluar dari mulutku. Aku merasa menang. Aku telah menangkap sosoknya di sini, di bawah tekanan jutaan liter air.
Tiba-tiba, arus bawah laut menarikku dengan kuat. Tubuhku tersentak. Maskerku mulai kemasukan air asin yang perih di mata. Aku panik. Kakiku menendang-nendang liar mencoba mencari pegangan. Di tengah kepanikan itu, aku melihat Arif.
Dia hanya melayang diam, sekitar tiga meter dariku. Dia tidak bergerak menolongku. Dia hanya menatapku dengan ekspresi datar dari balik masker selamnya.
Lalu, sesuatu yang sangat kuat menarik kerah pelampungku. Aku tersedak. Air masuk ke tenggorokanku saat asisten kapten kapal mengangkatku paksa ke permukaan.
"Mbak! Mbak, tidak apa-apa?!" teriak pria itu saat kepalaku muncul di permukaan. Wajahnya tampak sangat ketakutan. Napasnya memburu.
Aku terbatuk-batuk hebat. Begitu aku bisa melihat lagi, aku segera mencari Arif. "Arif! Mana suami saya? Dia di bawah! Tolong dia!"
Pria itu terdiam. Dia menoleh ke arah kapten kapal yang berada di atas dek. Mereka saling berpandangan. Kapten kapal memberikan isyarat gelengan kepala yang samar pada asistennya.
"Suaminya…" .Pria itu menjeda kalimatnya, Matanya bergerak gelisah. "...mungkin sudah naik duluan ke kapal, Mbak. Ayo, kita naik sekarang."
Aku ditarik naik ke atas dek. Aku jatuh terduduk, memeluk kamera kuning yang masih basah itu seerat mungkin. Tubuhku menggigil hebat. Aku menoleh ke sekeliling kapal. Kosong. Arif tidak ada di dek.
"Mana dia? Tadi katanya sudah naik?!" teriakku pada kapten kapal.
Kapten itu tidak berani menatap mataku. Dia sibuk menarik jangkar dengan gerakan yang sangat terburu-buru. "Mungkin dia di... di kabin depan, Mbak. Istirahat. Mbak tenang dulu, ya?"
Aku langsung berlari ke kabin depan. Di sana hanya ada tumpukan pelampung dan kotak P3K. Kosong.
"ARIF!" teriakku.
Lalu, aku melihatnya. Arif sedang berdiri di ujung buritan kapal, menatap laut yang kami tinggalkan. Dia basah kuyup, tapi kemeja birunya tampak rapi. Dia menoleh padaku dan tersenyum tipis.
"Aku di sini, Nad. Jangan teriak-teriak, mereka jadi melihatmu terus," bisiknya lembut.
Aku menghela napas lega. Aku terduduk di lantai kabin, memegang kamera itu. Aku tidak peduli dengan bisikan kru kapal di belakangku. Aku tidak peduli mereka saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Kita kembali ke resort sekarang, Mbak," kata kapten kapal dari balik kemudi. Suaranya terdengar gemetar. "Cuaca sepertinya akan memburuk."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap angka di jendela kecil kameraku. Lima belas.
Aku punya lima belas jepretan lagi. Aku akan menghabiskannya malam ini di resort. Aku akan memotret setiap sudut di mana Arif berdiri. Dan saat aku kembali ke Jakarta nanti, saat film ini dicuci, aku akan memamerkan hasil fotoku pada semua keluarga dan temanku dengan bangga.
Other Stories
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Plan B
Ketika liburan mereka gagal, tiga orang bersahabat mengambil rute lain. Desa pegunungan ya ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...