DELAPAN
Pagi terakhir di Labuan Bajo datang dengan cahaya matahari yang begitu lembut. Aku bangun dengan perasaan yang sangat ringan, sebuah ketenangan yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku berdiri di balkon, menghirup aroma laut untuk terakhir kalinya. Arif muncul di sampingku,dengan kemeja biru kesukaannya, menyodorkan secangkir kopi yang uapnya menari-nari ditiup angin pagi.
"Kamu terlihat cantik hari ini, Nad. Jauh lebih tenang," ucapnya lembut.
Aku tersenyum tulus. "Aku merasa sehat, Rif. Mungkin kamu benar. Aku hanya butuh liburan ini untuk berdamai dengan semuanya."
Proses checkout berlangsung tanpa drama. Aku berjalan melewati lobi dengan kepala tegak. Membalas senyuman resepsionis dengan ramah.
"Terima kasih untuk semuanya," kataku tulus saat menyerahkan kunci.
"Sama-sama, Ibu Nadia. Hati-hati di jalan," jawab resepsionis itu. Kali ini, tatapannya tidak lagi terasa aneh bagiku. Mungkin karena aku sendiri sudah tidak lagi memancarkan kegelisahan.
Di dalam mobil menuju bandara, aku duduk bersandar di bahu Arif. Sepanjang jalan, kami hanya diam, menikmati pemandangan bukit-bukit gersang yang mulai menjauh. Aku meraba kamera kuning di pangkuanku. Angka di jendela kecilnya menunjukkan tujuh.
"Tinggal tujuh, Rif. Aku akan menyimpannya baik-baik," bisikku.
Sesampainya di bandara, semuanya terasa begitu teratur. Tidak ada kerumunan yang menyesakkan, tidak ada suara bising yang mengganggu. Saat melewati pemeriksaan, aku tersenyum pada petugas. Aku merasa benar-benar sudah sembuh. Botol obat yang kuhancurkan semalam adalah masa lalu. Kamera ini adalah masa depanku.
Saat menunggu di ruang tunggu, aku mengangkat kamera. Aku ingin satu foto Arif dengan latar belakang pesawat yang akan membawa kami pulang.
Klik. Enam.
"Jangan dihabiskan sekarang, Nad. Simpan untuk di rumah nanti," Arif mengingatkan sambil mengelus jemariku.
Di dalam pesawat, aku mendapatkan kursi di dekat jendela. Arif duduk di sampingku. Saat pesawat mulai meninggalkan daratan Flores, aku melihat hamparan pulau-pulau kecil di bawah sana yang tampak seperti permata hijau di atas kain beludru biru.
"Lihat itu, Rif. Indah sekali," kataku pelan.
Aku mengambil dua foto lagi dari jendela pesawat. Awan yang berarak dan bayangan sayap pesawat yang membelah langit. Aku ingin momen kedamaian ini terekam abadi.
Klik. Lima. Klik. Empat.
Sisa perjalanan kami habiskan dengan mengobrol santai tentang apa yang akan kami lakukan sesampainya di Jakarta. Aku berencana untuk langsung pergi ke tempat untuk mencetak foto langgananku di daerah Jakarta Selatan. Aku sudah tidak sabat melihat hasilnya dan memajangnya di dinding rumah kami.
Saat pesawat mendarat di Jakarta, hujan rintik menyambut kami. Bau tanah basah yang khas Jakarta membuatku merasa benar-benar telah pulang.
"Kita sampai, Nad," bisik Arif saat kami berjalan keluar dari garbarata.
Aku mengambil satu foto lagi di terminal kedatangan. Arif yang berdiri di antara kerumunan orang tampak begitu gagah dengan latar belakang lampu-lampu bandara yang mulai menyala.
Klik. Tiga.
"Sisa tiga, Rif. Satu untuk di taksi, satu untuk di depan rumah kita, dan satu untuk..."
"Satu untuk bukti terakhir," potong Arif dengan senyum paling manis yang pernah kulihat.
Aku mengangguk bahagia. Aku mendekap tas kameraku, berjalan keluar menuju antrean taksi dengan langkah yang ringan. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Aku tidak sabar untuk menunjukkan kepada semua apa saja yang kita lakukan di liburan kali ini.
Malam itu, Jakarta terasa jauh lebih ramah. Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa benar-benar utuh.
Aku berdiri di balkon, menghirup aroma laut untuk terakhir kalinya. Arif muncul di sampingku,dengan kemeja biru kesukaannya, menyodorkan secangkir kopi yang uapnya menari-nari ditiup angin pagi.
"Kamu terlihat cantik hari ini, Nad. Jauh lebih tenang," ucapnya lembut.
Aku tersenyum tulus. "Aku merasa sehat, Rif. Mungkin kamu benar. Aku hanya butuh liburan ini untuk berdamai dengan semuanya."
Proses checkout berlangsung tanpa drama. Aku berjalan melewati lobi dengan kepala tegak. Membalas senyuman resepsionis dengan ramah.
"Terima kasih untuk semuanya," kataku tulus saat menyerahkan kunci.
"Sama-sama, Ibu Nadia. Hati-hati di jalan," jawab resepsionis itu. Kali ini, tatapannya tidak lagi terasa aneh bagiku. Mungkin karena aku sendiri sudah tidak lagi memancarkan kegelisahan.
Di dalam mobil menuju bandara, aku duduk bersandar di bahu Arif. Sepanjang jalan, kami hanya diam, menikmati pemandangan bukit-bukit gersang yang mulai menjauh. Aku meraba kamera kuning di pangkuanku. Angka di jendela kecilnya menunjukkan tujuh.
"Tinggal tujuh, Rif. Aku akan menyimpannya baik-baik," bisikku.
Sesampainya di bandara, semuanya terasa begitu teratur. Tidak ada kerumunan yang menyesakkan, tidak ada suara bising yang mengganggu. Saat melewati pemeriksaan, aku tersenyum pada petugas. Aku merasa benar-benar sudah sembuh. Botol obat yang kuhancurkan semalam adalah masa lalu. Kamera ini adalah masa depanku.
Saat menunggu di ruang tunggu, aku mengangkat kamera. Aku ingin satu foto Arif dengan latar belakang pesawat yang akan membawa kami pulang.
Klik. Enam.
"Jangan dihabiskan sekarang, Nad. Simpan untuk di rumah nanti," Arif mengingatkan sambil mengelus jemariku.
Di dalam pesawat, aku mendapatkan kursi di dekat jendela. Arif duduk di sampingku. Saat pesawat mulai meninggalkan daratan Flores, aku melihat hamparan pulau-pulau kecil di bawah sana yang tampak seperti permata hijau di atas kain beludru biru.
"Lihat itu, Rif. Indah sekali," kataku pelan.
Aku mengambil dua foto lagi dari jendela pesawat. Awan yang berarak dan bayangan sayap pesawat yang membelah langit. Aku ingin momen kedamaian ini terekam abadi.
Klik. Lima. Klik. Empat.
Sisa perjalanan kami habiskan dengan mengobrol santai tentang apa yang akan kami lakukan sesampainya di Jakarta. Aku berencana untuk langsung pergi ke tempat untuk mencetak foto langgananku di daerah Jakarta Selatan. Aku sudah tidak sabat melihat hasilnya dan memajangnya di dinding rumah kami.
Saat pesawat mendarat di Jakarta, hujan rintik menyambut kami. Bau tanah basah yang khas Jakarta membuatku merasa benar-benar telah pulang.
"Kita sampai, Nad," bisik Arif saat kami berjalan keluar dari garbarata.
Aku mengambil satu foto lagi di terminal kedatangan. Arif yang berdiri di antara kerumunan orang tampak begitu gagah dengan latar belakang lampu-lampu bandara yang mulai menyala.
Klik. Tiga.
"Sisa tiga, Rif. Satu untuk di taksi, satu untuk di depan rumah kita, dan satu untuk..."
"Satu untuk bukti terakhir," potong Arif dengan senyum paling manis yang pernah kulihat.
Aku mengangguk bahagia. Aku mendekap tas kameraku, berjalan keluar menuju antrean taksi dengan langkah yang ringan. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Aku tidak sabar untuk menunjukkan kepada semua apa saja yang kita lakukan di liburan kali ini.
Malam itu, Jakarta terasa jauh lebih ramah. Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa benar-benar utuh.
Other Stories
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...