TUJUH
Begitu kapal merapat di dermaga resort, aku tidak menunggu bantuan siapa pun. Aku melompat turun dengan kamera kuning yang masih basah dalam genggamanku, mengabaikan tatapan aneh para staf yang berkumpul di sana. Aku tidak butuh simpati mereka. Aku hanya butuh privasi.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak, sementara Arif berjalan santai di sampingku, seolah insiden di laut tadi tidak pernah terjadi. Aku merogoh saku, menyentakkan kunci ke lubang pintu pondok nomor 3, memutarnya dengan kasar, dan segera membanting pintu itu hingga tertutup rapat.
Ceklek. Selot kunci terpasang. Aku aman.
Aku bersandar pada daun pintu, napasku menderu pendek-pendek. Kamar ini remang, hanya diterangi cahaya senja yang memudar dari balik tirai. Di pojok ruangan, Arif sudah duduk menunggu di kursi kayu.
"Aku nggak suka dengan resort ini, Rif. Semuanya menyebalkan," kataku dengan suara serak, hampir menyerupai bisikan.
Arif tidak menjawab secara lisan. Dia hanya berdiri, berjalan mendekati jendela, dan menarik tirai hingga rapat. Cahaya oranye yang tersisa lenyap, menyisakan kami dalam kesunyian yang mencekam.
Aku menyalakan lampu duduk di samping ranjang. Cahaya kuningnya yang kecil menyinari lantai kayu, menyoroti butiran pil putih yang masih berserakan di sana, sisa ledakan emosiku semalam. Aku sengaja menginjak salah satu pil itu hingga hancur menjadi bubuk di bawah sandalku. Aku tidak butuh obat.
Aku melirik angka di jendela kecil kamera kuningku. Lima belas. Sama seperti yang kulihat di kapal tadi.
"Duduk di sana, Rif. Dekat lampu itu," perintahku.
Arif menurut. Dia duduk tegak. Kemeja birunya yang lembap tampak kontras dengan cahaya lampu. Aku memutar penggulung film ‘krak, krak, krak’. Suara itu terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian kamar.
Klik. Empat belas.
Aku tidak berhenti. Aku memotret Arif yang sedang mematung. Klik. Tiga belas. Aku memotret bayangannya yang memanjang di dinding. Klik. Dua belas.
Tiba-tiba, terdengar ketukan ragu di pintu.
"Ibu Nadia? Ini dari layanan kamar. Kami membawakan handuk bersih untuk Ibu…"
"Taruh saja di depan pintu!" teriakku tanpa menoleh. "Jangan masuk! Saya sedang tidur!"
"Tapi Ibu, kami hanya ingin memastikan..."
"PERGI!"
Suara langkah kaki di luar sana bergegas menjauh, hampir terdengar seperti orang yang lari ketakutan. Aku tersenyum tipis. Biarkan saja mereka menganggapku aneh. Mereka tidak tahu apa yang sedang aku abadikan di dalam sini.
Aku kembali fokus pada Arif. Aku mulai bergerak mengitari ruangan, memotret setiap sudut di mana dia berada. Aku memotret kemejanya, bayangannya, hingga profil wajahnya yang tampak sangat tenang.
Klik. Sebelas. Klik. Sepuluh. Klik. Sembilan. Klik. Delapan. Klik. Tujuh.
Ruangan itu dipenuhi suara mekanis kamera yang gila. Jari telunjukku mulai terasa kebas.
"Sisa tujuh, Rif," bisikku, terduduk lemas di lantai. Air mata mulai menetes, namun aku tidak menyekanya. "Hanya tujuh jepretan lagi, dan kita akan pulang ke Jakarta dengan bangga."
Arif duduk di lantai depananku. Dia tidak menyentuhku, tapi aku bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya. "Simpan sisanya untuk perjalanan pulang, Nadia. Aku nggak suka melihat kamu seperti ini. Aku hanya mau kamu bahagia dan melihat kamu selalu tersenyum.” Suaranya benar-benar membuatku tenang.
Aku mengangguk patuh. Aku memeluk Arif dengan erat. “Aku sangat mencintaimu,Rif! Jani, jangan pernah tinggalkan aku”
“Kamu tau aku selalu mencintaimu, Nadia”
Other Stories
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...