Arti Yang Tak Pernah Usai

Reads
52
Votes
7
Parts
7
Vote
Report
Arti yang tak pernah usai
Arti Yang Tak Pernah Usai
Penulis Diahputri

01. Perjalanan Yang Tidak Benar-benar Pergi

Sembilan mahasiswa tampak seperti satu keluarga kecil yang kebetulan sedang liburan akhir tahun, di dalam mobil van yang menjemput, Mereka berangkat pagi ketika kota belum sepenuhnya bangun dan terasa bau khas sisa derasnya hujan semalaman. Tawa receh muncul dan tenggelam diantara obrolan rencana empat hari kedepan.

Tirta sibuk bertatapan dengan alam lewat jendela yang langsung membuat angin masuk bebas ke dalam area mobil, ia masih sama, mendekap buku yang selalu dibawanya, sementara Dio yang merupakan sahabat lama Tirta sekaligus berbeda kampus kali ini ikut dalam liburan ini, meskipun Dio baru mengenal teman-teman Tirta waktu ini juga.

Aruna duduk tepat dibelakang Tirta, juga ikut menatap pemandangan yang berlalu cepat di luar jendela, sesekali melayangkan pandangannya ke Tirta, namun hatinya terasa sedikit mengganjal.
Mereka semua penuh semangat, Liz dan Crishty saling bertukar cerita tentang rencana pesta malam pertama di vila, Lina sibuk mencatat kegiatan dengan teliti, Rian serta Tito bercanda soal siapa yang akan kalah dipermainan kartu malam ini.
Semua tampak biasa nan ramai, hangat, penuh energi, tapi diantara tawa itu, ada sesuatu yang tak bisa disingkirkan, ada rasa canggung antara Tirta dan Aruna.

Tirta yang biasanya begitu mudah tersenyum padanya, kali ini terlihat berbeda, ada jarak yang tak terlihat tapi nyata, seperti awan tipis yang membatasi mereka, Aruna mengingat dua hari sebelum keberangkatan, ketika papanya menatap Tirta dengan dingin, memperingatkannya untuk, “berhati-hati dengan hubungan ini.”
Kata-kata itu tak pernah ia ucapkan langsung pada Tirta, tapi cukup untuk menanam benih keraguan yang dalam.

Aruna menahan diri untuk tidak bertanya, hanya memaksa senyum yang menenangkan diri sambil menggenggam tasnya, perjalanan itu panjang, tapi Aruna merasa seperti waktu berjalan lambat, menunggu sesuatu yang tidak pasti dan tidak tahu apa itu.
Begitu mereka sampai di vila, udara pegunungan yang sejuk menyambut mereka. Vila itu berada di kaki bukit, sehingga cukup leluasa untuk melepaskan rasa bosan dalam diri mereka.

Malam itu, mereka menyalakan lampu-lampu kecil, mendengarkan musik ikut menyelam kedalam suasana emosinya, dan mulai menikmati malam pertama mereka, semua tertawa, tapi berbeda dengan Tirta dan Aruna yang senyuman mereka kerasa tertahan.
Sampai permainan pertama membuat mereka terjebak dalam satu momen, botol Aqua yang diputar Liz memutar pelan mengikuti irama jantung mereka, rasa siaga datang saat ujung botol Aqua berhenti tepat diantara Aruna dan Tirta.

"Sebenarnya bagaimana sih hubungan kalian itu? Mau dibilang pacaran tapi keknya masih hts an, dibilang gak pacaran tapi dekat, tapi apa yang terjadi hari ini, kalian terlihat kecut, asem banget" Liz memberikan pertanyaan sesuai peraturan permainan mereka, yang memutar yang memberikan pertanyaan,entah bagaimana peraturan aslinya tapi ini peraturan versi mereka.

Tatapan dua pasang mata bertemu untuk pertama kalinya setelah dua hari ini canggung dan membeku, Semua mata tertuju pada mereka sekarang, perlahan, Aruna menundukkan kepala, rambutnya sedikit menutupi pipi, bibirnya bergerak seakan ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata itu berat rasanya seolah sedang tercekat di tenggorokan.
"aku… hmm…” gumamnya, suaranya yang biasa keras nyaris tak terdengar.

Tangannya terburu memainkan ujung lengan baju, gerakannya canggung, tidak nyaman, pandangannya sesaat lari ke Tirta yang masih diam dan memandangnya juga saat itu, "biar aku yang jawab." Kalimat spontan dari Tirta itu seakan menarik semua perhatian yang awalnya tertuju pada Aruna berbalik padanya.

"Hubungan kita itu seperti hujan gerimis yang tersisa setelah badai, ada rasa nyaman dan peduli tapi rintik-rintik dingin mungkin membuat hati merasa canggung, masih ada kehangatan,yaa... seperti anak-anak pada umumnya lah, bedanya kita belum resmi jadian." Napas Aruna terdengar lega setelah mendengar penjelasan dari Tirta tapi tetap saja satu pertanyaan membulat dibenaknya,

"Mengapa Tirta seolah jaga jarak darinya? Membatasi interaksi dengannya, Apakah dia sudah mulai berubah? Apakah karena perjodohanku itu? Tapi rasanya semuanya terlalu cepat berubah."

Maklum Gadis seperti Aruna berpikir seperti itu, melihat dari hubungannya sebelum sebelumnya, yang mana ia sering Gonta ganti pacar karena mengejar untuk menutupi rasa sepinya, entah endingnya akan berakhir buruk atau happy tapi ia terus berputar dalam pola yang sama seperti itu, kadang diselingkuhin, kadang digosting, kadang cuma dijadikan tempat singgah, kalau mulai lelah dan galau ia cuma melampiaskan dalam semalam, besok paginya pun kalau ada cowok yang mendekatinya ia akan semangat, bersenang hati untuk menerimanya.

Tirta duduk sendiri di teras, menatap cahaya lampu yang menari tenang mengikuti irama waktu di lantai kayu.
Ditangannya ada buku catatan yang selalu ia bawa, dan pena yang bergerak pelan, menulis kata-kata yang tak pernah ia ucapkan, Kamar cewek dan cowok sebelahan, kebetulan Aruna memperhatikan, hatinya tersentuh dan sekaligus tersiksa.
Ia ingin mendekat, tapi sesuatu menahan langkahnya.

Di penghujung Malam itu, Vila penuh dengan suara tawa dan musik, tapi
diantara itu semua, ada dua orang yang hadir di tempat yang sama tapi terasa terpisah. Aruna dan Tirta, dekat secara pandangan mata, namun jauh dalam cara yang tak bisa mereka ungkapkan.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna menyadari bahwa hubungan antara mereka berbeda dengan hubungannya yang sebelumnya, sementara Tirta menyadari bahwa liburan ini bukan sekadar perjalanan, yang awalnya direncanakan untuk healing perasaan, menepi sebentar dari hiruk pikuknya dunia malah menjadi momen tercanggung mereka, tapi Tirta juga merasa ini ujian bagi perasaan mereka.


Other Stories
Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Download Titik & Koma