Arti Yang Tak Pernah Usai

Reads
54
Votes
7
Parts
7
Vote
Report
Arti yang tak pernah usai
Arti Yang Tak Pernah Usai
Penulis Diahputri

03. Yang Tak Bisa Diucapkan

Diantara suara angin malam dan detak jantungnya sendiri, Aruna menyadari satu hal, jarak yang diciptakan Tirta bukan hanya fisik, itu adalah ruang yang menurutnya menuntut untuk memahami, untuk menunggu, dan untuk menghadapi rasa sakit yang tak bisa ia hindari.

Hari ketiga dimulai dengan keheningan yang berbeda dari sebelumnya, Vila yang biasanya dipenuhi tawa kini terasa cukup berat, sepertinya udara pun ikut menahan napas, Aruna bangun lebih siang, matanya lelah tapi pikirannya tak tenang, ia tahu, Tirta masih bersikap dingin, tapi ia juga merasakan ada sesuatu yang Tirta ingin sampaikan, sesuatu yang tidak bisa ia dengar dari mulutnya.

Disisi lain, Tirta duduk di teras bersama Dio. Sahabatnya menatapnya dengan cemas, akhirnya bertanya, “Kenapa hubungan Lo sama Aruna jadi gini sih, sumpah gue sebagai orang yang belum pernah tahu asal usul hubungan kalian tuh bingung maksimal yaa, kalian kan belum pacaran tapi kenapa segitunya jaga jarak ke dia? "
Tirta hanya menggeleng, diam.

Kata-kata yang ingin keluar dicegatnya, Dio menatap Tirta, mencoba membaca ekspresinya, tapi Tirta memilih masuk ke kamar membuka buku catatan yang selalu ia bawa.

Halaman pertama tertera catatan, "saat di perpustakaan, itu pertama kalinya aku melihat mu hancur yang semestinya tidak pantas disandang, bukannya apa-apa tapi gadis tulus sepertimu membutuhkan lawan yang seirama dan mengerti." Dio melototkan kedua matanya, ia semakin semangat untuk mengetahui kisah Tirta Sagara dan Aruna Angkasa, yang diceritakan langsung keluar dari mulut Tirta.

Tirta bilang bahwa setelah ia melihat Aruna sejak itu, Penanya mulai bergerak di atas kertas, menulis hal-hal yang tak pernah bisa ia ucapkan langsung.

Ia memperhatikan aruna dari jauh, selalu.
Aruna bukan cewek yang mudah jatuh cinta tapi ada hal lain dalam dirinya yang butuh itu, ia sering gonta-ganti cowok, bahkan kerap kali terjebak dalam rayuan manis para buaya.

Tapi Tirta berbeda, ia diam, mencatat setiap senyum Aruna, setiap tawa yang kadang terdengar kosong.
Ia menunggu saat Aruna rapuh, menunggu saat Aruna  butuh seseorang yang tidak akan meninggalkannya.
Dio menatap Tirta dengan serius, mulai memahami.

Saat Aruna mulai rapuh, saat dunia seolah terlalu berat, ia mulai mendekat, bukan untuk memanfaatkan, tapi untuk ada.
Hanya untuk membuatnya merasa nyaman, seperti memang Aruna pantas untuk mendapatkannya.

"Aku tidak memaksa Aruna untuk tahu segalanya… aku selalu ada, meski itu tidak selalu terlihat." Tirta menaruh bukunya sejenak, menatap Dio.

“Itu semua… perasaanku sejak awal, aku tidak bisa mengubah masa lalunya dengan cowok-cowok lain, tapi aku bisa jadi berbeda, aku bisa jadi tempat dia merasa aman tanpa drama.”

Dio mengangguk, “Jadi itulah alasan Lo diam, meski dia marah sama Lo?”

Tirta tersenyum tipis, menatap ke arah kamar Aruna, “Iya, Aku takut jika aku terlalu mendekat terlalu cepat, dia malah pergi lagi, tapi diamku… malah membuatnya gelisah, aku hanya berharap dia bisa merasakan perasaanku, perlahan.”

Di luar, angin malam mengalir lembut, buku catatan itu bukan sekadar kata-kata, itu menjadi penghubung.
Tirta menceritakan kisahnya dengan suara yang semakin bergetar, seolah tidak mampu lagi menahan benteng pertahanannya.

" Aku sendiri cowok yang tidak sepenuhnya utuh, maka dari itu aku memutuskan untuk membaca banyak buku untuk memahami lukaku, dan memaklumi situasi, menulis untuk menuangkan semua kegaduhan yang berisik dikepala, tapi aku lupa untuk mengolahnya." Dio yang merasa cukup kenal lama dengan Tirta, baru saja tercengang mendengar hal lain dari sahabatnya itu.

" Ditengah kenyamanan ku dan Aruna, dia mulai mengajak aku main kerumahnya, untuk sekedar silaturahmi ke orangtuanya, belum sempat berbincang, tatapan papanya seolah menyuruhku untuk segera kembali jangan mengganggu putrinya." Dio mengusap pelan pundak Tirta.

"Dan benar...saat papanya bilang bahwa Aruna sudah dijodohkan dengan anak temannya, mungkin papanya mengira saat itu aku benar-benar akan melamar anaknya, diam-diam dengan terpaksa aku harus mundur selangkah, menjaga batasan agar tetap aman untuk Aruna." Tirta sudah tidak punya cukup tenaga untuk menceritakan lagi hingga gemuruh nafasnya sedikit tersengal, Dio mengambil botol minum untuknya.

"Liburan yang seharusnya menjadi healing untuk ku dan dia malah memperkeruh suasana hati." Sambungnya lagi lalu menutup buku miliknya.

"Lo nggak salah ta, yang Lo lakuin ke Aruna itu bener tapi, mungkin Aruna menangkapnya dengan cara yang salah." Ucap Dio menenangkan Tirta seraya mengelus punggungnya.

Tirta memutuskan untuk mengirim surat untuk Aruna bermaksud memberi dukungan tanpa harus dibalas langsung, tanpa ada interaksi langsung, dalam suratnya ada yang berisi dorongan untuk menikmati liburan, ada yang sekadar mengingatkan Aruna untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.

Other Stories
Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Testing

testing ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Download Titik & Koma