02. Jarak Yang Diciptakan
Hari kedua di vila dimulai dengan sinar matahari yang menembus celah-celah tirai jendela, hangat tapi tak mengusir dingin yang terasa di hati Aruna, ia bangun lebih awal daripada yang lain, mencoba menenangkan pikirannya sebelum semua keramaian pagi dimulai.
Di ruang makan, suara tawa teman-teman mengisi udara, Liz dan Crishty sibuk menyiapkan sarapan, Lina mengingatkan jadwal hari ini, sementara Rian menepuk pundak Aruna seolah menyadari ketegangannya.
Aruna merasa tergoda untuk mencari rasa aman yang familiar, tanpa sadar, ia duduk lebih dekat dengan Rian, yang mana adalah mantannya, sekadar berbicara tentang hal-hal ringan, buku yang baru dibaca, lagu yang sedang hits, hal-hal yang tak memerlukan hati untuk berbicara, itu bukan tentang cinta, Aruna berulang kali meyakinkan dirinya sendiri, tapi tentang rasa nyaman yang hilang sejak Tirta mulai menarik diri.
Sementara itu, Tirta tampak asyik dengan Lina.
Mereka berjalan-jalan di sekitar vila sambil membawa buku dan catatan, karena memang Lina mengajak Tirta untuk diskusi sebuah tugas, tapi Aruna melihat itu hanya sebagai alasan.
Ia menyadari Tirta sengaja menjaga jarak darinya, dan hatinya mulai terasa gelisah, ia ingin menegur, menanyakan apa yang salah, tapi kata-kata kembali ditelannya mentah-mentah.
Pertemuan kecil itu akhirnya memuncak saat sore hari.
Aruna, dengan nada yang tak biasa terdengar tegas, menatap Tirta, “Kenapa kamu bersikap seperti ini? Tidak adil.” Tirta masih diam, wajahnya datar, seolah jarak yang tercipta sekarang adalah sesuatu yang sulit diperbaiki.
" Mungkin kamu tidak mengerti tapi aku memahami pertanyaanmu itu Aruna."
Satu tarikan napas.
Satu tarikan napas yang gagal menahan apapun.
Aruna tidak mendekat, tidak memeluk, tidak menenangkan, ia duduk di kursi disusul Tirta, mereka duduk sejajar hanya ditemani dinginnya angin.
" Aku baca banyak buku." Lanjut Aruna dengan sedikit tenang dan suaranya yang sedikit serak.
"Supaya ngerti, supaya bisa menerima, supaya nggak marah, tapi...tetap saja aku belum sepenuhnya paham tentang semuanya." Sambungnya lagi, tertawa kecil, pahit.
Tirta akhirnya menoleh.
Tatapan mereka bertemu, tidak dramatis, tidak penuh harap.
Rasanya... hanya dua orang yang sama-sama lelah.
Aruna menahan napas, menyesal telah mengungkapkan perasaannya, tapi juga lega karena setidaknya ia mencoba.
"Bukan salah kamu jika gagal memahami semuanya, kamu bingung, aku bingung, kita sama-sama tahu, aku hanya seorang cowok yang berusaha membatasi itu, yang menjaga aman untuk seseorang yang dicintainya." Malam itu, tanpa penyelesaian yang harus dipaksa, Aruna menuju ke balkon untuk menenangkan hatinya dengan masih menggenggam resahnya.
Semakin malam, dengan suasana vila yang mulai senyap, ketegangan itu semakin terasa, teman-teman lain tertidur, lampu-lampu remang mengisi ruang, hanya suara angin malam yang terdengar, Tirta masuk ke kamarnya diikuti Dio, sahabatnya,
meninggalkan Aruna yang duduk sendiri di balkon, ditangannya, ia memutar-mutar secangkir teh hangat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang campur aduk.
Aruna menatap bintang-bintang dari kejauhan, merasakan jarak yang tak kasat mata tapi nyata, ia mungkin mengetahui Tirta menulis sesuatu di dalam kamarnya, sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa.
Dan ia juga tahu, liburan ini mulai berubah, bukan lagi sekadar perjalanan menyenangkan, tapi perjalanan yang menuntut hati mereka untuk memilih antara diam atau mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Di ruang makan, suara tawa teman-teman mengisi udara, Liz dan Crishty sibuk menyiapkan sarapan, Lina mengingatkan jadwal hari ini, sementara Rian menepuk pundak Aruna seolah menyadari ketegangannya.
Aruna merasa tergoda untuk mencari rasa aman yang familiar, tanpa sadar, ia duduk lebih dekat dengan Rian, yang mana adalah mantannya, sekadar berbicara tentang hal-hal ringan, buku yang baru dibaca, lagu yang sedang hits, hal-hal yang tak memerlukan hati untuk berbicara, itu bukan tentang cinta, Aruna berulang kali meyakinkan dirinya sendiri, tapi tentang rasa nyaman yang hilang sejak Tirta mulai menarik diri.
Sementara itu, Tirta tampak asyik dengan Lina.
Mereka berjalan-jalan di sekitar vila sambil membawa buku dan catatan, karena memang Lina mengajak Tirta untuk diskusi sebuah tugas, tapi Aruna melihat itu hanya sebagai alasan.
Ia menyadari Tirta sengaja menjaga jarak darinya, dan hatinya mulai terasa gelisah, ia ingin menegur, menanyakan apa yang salah, tapi kata-kata kembali ditelannya mentah-mentah.
Pertemuan kecil itu akhirnya memuncak saat sore hari.
Aruna, dengan nada yang tak biasa terdengar tegas, menatap Tirta, “Kenapa kamu bersikap seperti ini? Tidak adil.” Tirta masih diam, wajahnya datar, seolah jarak yang tercipta sekarang adalah sesuatu yang sulit diperbaiki.
" Mungkin kamu tidak mengerti tapi aku memahami pertanyaanmu itu Aruna."
Satu tarikan napas.
Satu tarikan napas yang gagal menahan apapun.
Aruna tidak mendekat, tidak memeluk, tidak menenangkan, ia duduk di kursi disusul Tirta, mereka duduk sejajar hanya ditemani dinginnya angin.
" Aku baca banyak buku." Lanjut Aruna dengan sedikit tenang dan suaranya yang sedikit serak.
"Supaya ngerti, supaya bisa menerima, supaya nggak marah, tapi...tetap saja aku belum sepenuhnya paham tentang semuanya." Sambungnya lagi, tertawa kecil, pahit.
Tirta akhirnya menoleh.
Tatapan mereka bertemu, tidak dramatis, tidak penuh harap.
Rasanya... hanya dua orang yang sama-sama lelah.
Aruna menahan napas, menyesal telah mengungkapkan perasaannya, tapi juga lega karena setidaknya ia mencoba.
"Bukan salah kamu jika gagal memahami semuanya, kamu bingung, aku bingung, kita sama-sama tahu, aku hanya seorang cowok yang berusaha membatasi itu, yang menjaga aman untuk seseorang yang dicintainya." Malam itu, tanpa penyelesaian yang harus dipaksa, Aruna menuju ke balkon untuk menenangkan hatinya dengan masih menggenggam resahnya.
Semakin malam, dengan suasana vila yang mulai senyap, ketegangan itu semakin terasa, teman-teman lain tertidur, lampu-lampu remang mengisi ruang, hanya suara angin malam yang terdengar, Tirta masuk ke kamarnya diikuti Dio, sahabatnya,
meninggalkan Aruna yang duduk sendiri di balkon, ditangannya, ia memutar-mutar secangkir teh hangat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang campur aduk.
Aruna menatap bintang-bintang dari kejauhan, merasakan jarak yang tak kasat mata tapi nyata, ia mungkin mengetahui Tirta menulis sesuatu di dalam kamarnya, sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa.
Dan ia juga tahu, liburan ini mulai berubah, bukan lagi sekadar perjalanan menyenangkan, tapi perjalanan yang menuntut hati mereka untuk memilih antara diam atau mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...