Perjamuan Di Tepi Jurang
Hujan badai mengguyur Jakarta, menyamarkan suara bising kota di balik kaca jendela suite mewah lantai 50. Di dalam ruangan itu, udara terasa berat, seolah oksigen telah habis dihisap oleh ketegangan yang kasat mata. Aris berdiri mematung di depan jendela, bayangannya terpantul di kaca, seorang pria tampan dengan rahang tegas yang kini tampak kaku karena beban pikiran yang luar biasa. Tangannya yang memegang gelas wiski sedikit gemetar, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan, sebuah suara yang terdengar nyaring di tengah kesunyian yang mencekam.
Maya mendekat, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet beludru yang tebal. Ia mengenakan gaun sutra hitam backless yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat provokatif, sebuah gaun yang dipilihkan Aris khusus untuk malam ini. Maya melingkarkan lengannya di pinggang suaminya, menyandarkan pipinya di punggung Aris yang tegap.
"Sayang, kau sudah berdiri di sini selama satu jam. Apa yang kau pikirkan?" bisik Maya lembut, jemarinya mengusap perut Aris yang terbungkus kemeja mahal. "Karier adalah pasang surut. Kita punya satu sama lain. Kita akan melaluinya, Aris."
Aris memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh istrinya yang selama ini menjadi pelabuhannya. Namun, bayangan tumpukan hutang dan ancaman kebangkrutan dari dewan direksi terasa lebih nyata daripada pelukan itu. Hasrat untuk tetap berada di puncak telah meracuni akal sehatnya.
"Kau tidak mengerti, Maya," suara Aris parau. Ia berbalik dan menangkup wajah Maya dengan kedua tangannya. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena keputusasaan yang beradu dengan ambisi gelap. "Ini bukan sekadar pasang surut. Ini adalah kehancuran. Besok, jika kontrak ini tidak ditandatangani, semua aset kita akan disita. Kita akan menjadi sampah di kota ini."
Maya mengerutkan dahi, merasakan firasat buruk menyusup di antara rusuknya. "Rencana apa? Bukankah malam ini hanya makan malam perkenalan dengan investor baru itu? Tuan Baron?"
Aris menelan ludah, ia menarik Maya ke sofa, mendudukkannya dengan sangat hati-hati, seolah Maya adalah porselen mahal yang sedang ia tawarkan pada pembeli tertinggi. Ia berlutut di depan istrinya, menggenggam tangan Maya erat-erat.
"Baron bukan sekadar investor, Maya. Dia adalah raja di industri ini. Dia misterius, berkuasa, dan dia... dia memiliki selera yang sangat spesifik," Aris menjeda, suaranya mengecil menjadi bisikan yang memuakkan. "Dia melihat fotomu di mejaku saat pertemuan pertama. Dia bilang, kesepakatan triliunan ini hanya bisa terjadi jika ia bisa mengenal 'sumber inspirasiku' lebih dekat. Secara pribadi. Di kediamannya."
Keheningan yang dingin seketika menyergap. Maya menarik tangannya dari genggaman Aris, wajahnya memucat hingga ke bibir. "Maksudmu... kau memintaku untuk menemuinya sendirian di kamar pribadinya? Apa kau sadar apa yang kau ucapkan, Aris?"
"Hanya satu malam, Maya!" Aris tiba-tiba berseru, suaranya pecah oleh histeria. Ia mencengkeram bahu Maya, wajahnya mendekat hingga napasnya yang beraroma wiski menerpa wajah istrinya. "Hanya satu malam yang bisa menyelamatkan seluruh hidup kita! Dia tidak akan menyakitimu, dia hanya ingin... dia ingin memiliki keindahanmu sesaat. Dan sebagai gantinya, dia akan menandatangani kontrak itu. Kita akan menjadi keluarga paling kuat di Jakarta!"
"Kau menjualku?" suara Maya hampir tak terdengar, air mata mulai mengalir di pipinya. "Suamiku sendiri... menjualku untuk selembar kontrak? Di mana harga dirimu, Aris?"
"Harga diri?" Aris tertawa pahit, suaranya terdengar gila. "Harga diri tidak bisa membayar cicilan rumah ini! Harga diri tidak bisa membuatmu memakai gaun jutaan rupiah ini! Aku melakukannya untuk kita, Maya! Untuk menjaga kehidupan yang kau cintai ini!"
Konflik memuncak saat Maya berdiri, mencoba menampar Aris, namun Aris menangkap pergelangan tangannya. Tenaga Aris kasar, menunjukkan sisi gelap yang belum pernah Maya lihat. "Jangan bersikap seolah kau suci, Maya. Bukankah kau juga menikmati kemewahan yang kuberikan? Sekarang, bantu aku mempertahankannya."
Aris menarik Maya ke dalam pelukan yang paksa, mencium lehernya dengan kasar seolah sedang mencoba "menandai" istrinya untuk terakhir kali sebelum diserahkan pada pria lain. "Lakukan ini, atau besok kita tidak punya apa-apa lagi. Kau mencintaiku, bukan?"
Maya menangis terisak, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya yang kini terasa seperti orang asing. Rasa mual yang hebat menghantam perutnya. Pria yang ia puja, kini memohon sekaligus memaksanya untuk menyerahkan tubuhnya pada predator demi angka di rekening bank.
Aris bangkit, ia mulai merapikan gaun sutra hitam itu dengan jemari yang gemetar, sebuah sentuhan yang kini terasa seperti persiapan untuk sebuah kurban. Ia mengambil jubah bulu dan menyampirkannya di bahu Maya, menutupi punggung indah yang malam ini akan menjadi milik pria lain.
"Mobil sudah menunggu di bawah," ujar Aris pelan, suaranya kini kembali dingin dan fungsional, seolah sisi emosionalnya telah ia matikan sepenuhnya.
Maya melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi. Pikirannya kosong, hatinya hancur berkeping-keping. Di dalam lift yang turun menuju lobi, ia menatap pantulan dirinya di dinding logam yang dingin. Ia terlihat cantik, elegan, dan sangat mahal. Namun, ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi seorang istri yang dicintai. Ia adalah komoditas. Ia adalah umpan yang sedang dikirim menuju sarang sang predator demi menyelamatkan pria yang baru saja menikam jiwanya dengan ambisi.
Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...