Sandiwara Di Balik Sutra
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang dingin, namun bagi Maya, udara di dalam mobil yang membawanya pulang terasa jauh lebih membekukan. Ia duduk di kursi belakang, menatap tanda kemerahan di lehernya melalui cermin bedak kecil. Tanda itu adalah stempel kekuasaan Baron, sebuah jejak yang mengingatkannya bahwa ia telah melewati ambang pintu yang tak mungkin ia lalui kembali.
Sesampainya di rumah, Maya menemukan Aris sedang duduk di meja makan dengan wajah yang bercahaya, pemandangan yang membuat perut Maya bergejolak mual. Di depan Aris, tersaji sarapan mewah dan sebuah map kulit berisi draf kontrak yang sudah ditandatangani Baron secara digital semalam.
"Maya! Kau sudah pulang!" Aris menghambur ke arahnya, mencoba memeluknya dengan antusiasme yang menjijikkan. "Baron menelepon asistenku subuh tadi. Dia menyetujui pendanaan tahap pertama! Triliunan, Maya! Kita selamat!"
Maya berdiri kaku, membiarkan tangan Aris menyentuh bahunya. Rasa jijik menjalar seperti racun di bawah kulitnya. "Begitukah? Selamat, Aris. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
Aris melepaskan pelukannya, sedikit tersentak oleh nada dingin istrinya. Matanya kemudian tertuju pada leher Maya, pada bekas yang ditinggalkan Baron. Aris menelan ludah, kilatan rasa bersalah sempat melintas di matanya, namun dengan cepat ia menepisnya demi egonya yang besar.
"Maya, dengar... aku tahu ini berat. Tapi lihat hasilnya! Perusahaan kita akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Semua pengorbanan ini, "
"Pengorbananku, Aris. Bukan pengorbananmu," potong Maya tajam. Ia menatap lurus ke mata suaminya. "Kau tidur nyenyak di sini sementara kau mengirimku ke sana. Jangan pernah gunakan kata 'kita' untuk dosa yang kau rencanakan sendiri."
"Aku melakukannya demi masa depan kita!" Aris membela diri, suaranya naik satu oktaf. "Kau pikir aku suka membayangkanmu bersama pria itu? Tapi ini bisnis, Maya! Di dunia ini, segala sesuatu punya harga!"
"Dan sekarang kau sudah tahu harganya, Aris," Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Aris merasa kerdil. "Tapi kau lupa satu hal. Barang yang sudah dijual tidak lagi menjadi milik penjualnya."
Sesuai instruksi Baron, Maya harus memastikan Aris menandatangani dokumen "pengalihan kuasa darurat" dengan alasan untuk mempermudah aliran dana dari konsorsium Baron.
Sepanjang hari, Maya memainkan peran sebagai istri yang terluka namun tetap mendukung. Ia membiarkan Aris membujuknya, membelikannya perhiasan mahal sebagai "permintaan maaf", dan ia menerimanya dengan tatapan kosong. Namun, di balik itu, Maya terus berkomunikasi dengan Baron melalui ponsel rahasia.
Malam harinya, Aris mencoba mendekati Maya di tempat tidur. Ia merindukan kehangatan istrinya, mungkin juga ingin membuktikan bahwa ia masih "memiliki" Maya secara fisik.
"Maya, maafkan aku... biarkan aku menunjukkan betapa aku mencintaimu," bisik Aris, mencoba mencium pundak Maya yang terbuka.
Maya berbalik, matanya berkilat penuh amarah. Setiap sentuhan Aris terasa hambar dan lemah jika dibandingkan dengan dominasi Baron yang meledak-ledak. "Jangan sentuh aku, Aris. Tanganmu bau pengecut."
"Kenapa? Apa karena Baron lebih hebat dariku?" Aris meledak, kecemburuan yang ia pendam seharian akhirnya pecah. Ia mencengkeram pergelangan tangan Maya, menjatuhkannya ke ranjang. "Kau adalah istriku! Aku yang memilikimu lebih dulu!"
Aris mencoba mencium Maya dengan paksa, sebuah upaya putus asa untuk mengklaim kembali otoritasnya. Namun, Maya melawan. Ia mendorong Aris dengan tenaga yang tidak pernah ia duga ia miliki.
"Kau tidak punya hak lagi atas tubuh ini!" teriak Maya. "Kau sendiri yang menyerahkan kuncinya pada Baron! Sekarang, diam dan tanda tangani dokumen ini jika kau ingin dana triliunan itu cair besok pagi!"
Maya melempar map dari Baron ke dada Aris. Aris terengah-engah, wajahnya merah padam antara nafsu dan amarah. Namun, keserakahannya jauh lebih besar daripada harga dirinya. Ia melihat dokumen itu, sebuah skema rumit yang terlihat seperti prosedur perbankan biasa, padahal di dalamnya terdapat klausul pengalihan aset secara bertahap ke tangan Maya jika terjadi kegagalan performa perusahaan dalam 30 hari.
"Tanda tangani, Aris. Atau aku akan menelepon Baron sekarang juga dan menyuruhnya membatalkan semua kontrak," ancam Maya, suaranya sedingin es.
Dengan tangan gemetar karena emosi yang campur aduk, Aris mengambil pena. Ia menandatanganinya tanpa membaca detail kecil di halaman tengah. Ia merasa telah menang, merasa telah menguasai istrinya kembali dengan kekayaan.
Setelah Aris keluar dari kamar dengan rasa bangga yang semu, Maya segera mengirim pesan singkat ke Baron, “Ikan sudah memakan umpannya. Semua aset akan berpindah dalam waktu singkat.”
Maya berdiri di depan jendela, menatap kegelapan malam. Ia menyadari bahwa ia kini berada di tengah pusaran intrik yang sangat berbahaya. Ia mengkhianati suaminya bersama pria yang telah membelinya, namun baginya, ini bukan lagi soal perselingkuhan. Ini adalah keadilan. Ia akan membiarkan Aris merasakan puncak kesuksesan yang palsu, sebelum ia sendiri yang akan menarik karpet dari bawah kaki suaminya dan membiarkan Aris jatuh ke jurang kemiskinan yang paling dalam.
Di kejauhan, petir menyambar, menerangi wajah Maya yang kini tak lagi menyimpan kelembutan seorang istri, melainkan ketajaman seorang konspirator yang siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya menuju kebebasan mutlak.
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
Hotel De Rio
Di balik kemewahan Hotel De Rio, Bianca terjebak dalam pengkhianatan saat Dante, pria dari ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Desa Ria
Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...