Lust

Reads
227
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Takhta Dan Fajar Baru

Pagi itu, Jakarta diguyur hujan abu-abu yang suram, seolah langit tahu bahwa sebuah kerajaan akan runtuh. Gedung pencakar langit milik Aris berdiri megah, namun di dalamnya, suasana terasa seperti di dalam peti mati. Aris berdiri di ruang rapat utama, merapikan dasi sutranya untuk yang terakhir kali. Di hadapannya, beberapa pengacara dan notaris sudah menunggu, lengkap dengan tumpukan dokumen yang akan mengubah hidupnya selamanya.

"Di mana Baron?" tanya Aris, suaranya sedikit gemetar.

"Tuan Baron sedang dalam perjalanan. Namun, Nyonya Maya sudah berada di sini," jawab sekretarisnya.

Pintu terbuka, dan Maya melangkah masuk. Ia mengenakan gaun merah darah yang kontras dengan suasana ruangan yang kaku. Tidak ada lagi jejak air mata atau keraguan di wajahnya. Ia tampak seperti seorang ratu yang siap menerima penyerahan diri dari musuhnya.

"Mari kita selesaikan ini, Aris," ujar Maya tenang, duduk di kursi utama yang biasanya diduduki Aris.

"Maya, kenapa kau duduk di sana? Itu kursiku," Aris mencoba tertawa, namun suaranya terdengar sumbang.

"Bukan lagi, Aris. Bacalah paragraf terakhir di dokumen pengalihan yang kau tanda tangani minggu lalu," Maya menyodorkan sebuah berkas.

Wajah Aris berubah pucat pasi saat ia membacanya. Seluruh saham pengendali dan aset properti dialihkan kepada pihak ketiga, yaitu yayasan yang dikelola penuh oleh Maya, jika terjadi penyalahgunaan dana operasional. Dan pagi ini, Baron telah menarik seluruh likuiditasnya, membuat perusahaan Aris secara teknis bangkrut dalam hitungan detik.

"Kau... kau menjebakku? Kau bekerja sama dengan pria itu untuk merampokku?!" Aris berteriak, mencoba menerjang Maya, namun petugas keamanan, yang kini digaji oleh rekening Maya, segera menahannya.

Pintu kembali terbuka. Baron masuk dengan langkah tegap, memberikan map terakhir kepada Maya. "Semua sudah selesai, Maya. Dia tidak punya apa-apa lagi. Bahkan rumah yang kalian tempati sekarang sudah atas namamu."

Aris jatuh terduduk di lantai, menangis histeris saat menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya, harta, jabatan, dan istri yang ia jual demi ambisinya. Ia diusir keluar dari gedungnya sendiri, hanya dengan jas yang menempel di badannya, sementara Maya menatapnya dari balik jendela kaca besar dengan tatapan yang kosong namun lega.

Setelah ruangan dikosongkan, hanya tersisa Maya dan Baron di dalam ruang kerja yang kini menjadi milik Maya sepenuhnya. Keheningan itu pecah saat Baron mendekati Maya dan memutar kursinya.

"Kau sudah mendapatkan kebebasanmu, Maya. Bagaimana rasanya?" tanya Baron, tangannya merayap ke leher Maya, merasakan detak jantungnya yang masih kencang.

"Rasanya seperti baru saja terlahir dari abu," jawab Maya, matanya berkilat penuh gairah yang kini murni miliknya sendiri.

Baron mengangkat Maya, mendudukkannya di atas meja rapat yang luas, meja tempat Aris biasa membuat keputusan-keputusan egoisnya. Di bawah lampu kristal yang mahal, Baron mulai mencumbu Maya dengan cara yang lebih liar dan posesif dari sebelumnya. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi dendam, hanya ada dua pemenang yang ingin merayakan kemenangan mereka.

Baron menanggalkan kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang kekar penuh dengan otoritas. Ia melucuti gaun merah Maya, membiarkan kain itu meluncur ke lantai seperti bendera kekalahan Aris. Dalam penyatuan yang luar biasa erotis di atas meja kayu ek itu, Maya merasakan setiap inci kulitnya terbakar. Baron bergerak dengan ritme yang dalam dan menuntut, seolah ingin memastikan bahwa setiap sel tubuh Maya telah menghapus sisa-sisa ingatan tentang Aris.

Tangan Maya mencengkeram pinggiran meja, tubuhnya melengkung indah saat Baron memberikan stimulasi yang menghujam langsung ke titik paling sensitifnya. Suara desahan Maya yang memenuhi ruangan luas itu menjadi musik bagi Baron. Penyatuan mereka kali ini adalah perpaduan antara kekuasaan dan nafsu yang murni. Di atas dokumen-dokumen yang telah menghancurkan satu pria, dua orang ini bersatu dalam gairah yang meledak, menciptakan puncak ekstasi yang membuat dunia di luar sana seolah lenyap.

Setiap sentuhan Baron terasa seperti klaim baru atas hidupnya yang baru. Maya tidak lagi menjadi objek, ia adalah subjek yang menuntut kenikmatannya sendiri. Di tengah keringat dan panas tubuh yang menyatu, Maya akhirnya menemukan puncak kebebasannya, sebuah ledakan rasa yang membawanya keluar dari kegelapan masa lalunya.

Satu jam kemudian, Maya berdiri di balkon gedung, mengenakan kemeja putih milik Baron yang longgar. Ia menatap Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Di bawah sana, di suatu tempat di jalanan yang kotor, Aris mungkin sedang berjalan tanpa arah.

Baron memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Maya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang, Nyonya Komisaris?"

Maya tersenyum, sebuah senyum yang manis namun mengandung misteri yang dalam. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto pernikahannya dengan Aris, lalu dengan satu gerakan jempol, ia menghapus foto itu selamanya.

"Aku akan membangun sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan satu malam gairah, Baron," jawab Maya. Ia berbalik dan mencup bibir Baron dengan lembut. "Tapi untuk malam ini, aku hanya ingin menjadi wanita yang tidak perlu merasa takut akan hari esok."

Maya melepaskan pelukan Baron dan berjalan masuk, meninggalkan pria itu yang menatapnya dengan rasa kagum yang bercampur dengan waspada. Baron menyadari satu hal, ia mungkin telah membantu Maya bangkit, tapi sekarang, Maya adalah badai yang tidak bisa lagi ia kendalikan sepenuhnya.

Maya telah menukar cintanya yang naif dengan kekuasaan yang dingin, dan di kota yang tidak pernah tidur ini, ia telah resmi menjadi penguasa baru dalam permainannya sendiri.


Other Stories
Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Download Titik & Koma