Chapter 3: Konfrontasi
24 desember 2025
Kali ini aku akan pulang tanpa membawa harapan karena tau sekeras kepala itu ibuku. Jadi aku hanya pulang bawa beberapa oleh-oleh jajanan seperti biasa. Aku bahkan sudah tidak mengharapkan kumpul-kumpul keluarga lagi, aku hanya memilih berencana beli banyak snack dan minuman, berlangganan satu platform streaming, dan menonton serial favoritku. Itu saja rencanaku untuk tahun baruan ini.
Namun, tetap saja ada yang mengganjal di hati, apalagi kalau bukan ketidakhadiran ibuku, karena aku ingin ada momen spesial di malam tahun baru, momen spesial bersama keluarga. Aku berfikir bahwa momen momen seperti inilah yang nantinya akan dikenang sampai hari tua. Momen kehangatan keluarga, momen makan bersama, dan mungkin sekedar saling diam dengan nyaman, menikmati suasana.
Saat sampai dirumah, aku duduk diam dulu di ruang tamu sambil membuka oleh-oleh yang kubawa, karena aku tidak sanggup melihat kamar dan dapur yang sangat tidak layak dilihat. Ibu pun datang dari luar rumah, aku pun salim dan sungkem. Namun karena tidak tahan lagi aku pun tanya kenapa sih ibu mau mengadakan acara seperti ini Bertahun-tahun, Untung juga tidak, tanggung jawab dirumah diabaikan, pengunjung festival pun katanya tidak seberapa yang datang karena tahun baru hampir selalu hujan sehingga tanah jadi becek. Ibu menarik napas sebelum menjawab. Tangannya sibuk merapikan beberapa naskah dan poster festival, seolah-olah pertanyaanku terlalu berat untuk dijawab.
“nak...” katanya pelan.
“...ibu itu seperti punya dorongan, dorongan untuk berbuat sesuatu untuk desa ini, untuk masyarakat ini”
“apa ibu tidak ada dorongan untuk hadir di momen kekeluargaan? Ini setahun sekali loh” aku sedikit menekan kata-kataku, menahan napas di akhir kalimat.
“acaranya sudah kadung jalan, tidak mungkin juga dibatalkan, semua sudah keluar uang, waktu dan tenaga” jawab ibu.
Akupun mengangguk kecil, bukan tanda setuju, melainkan lebih menahan sesuatu agar tidak langsung tumpah “iya emang tidak mungkin lagi membatalkan acara ini, namun tahun depan pun ibu masih aja akan buat festival seperti ini lagi kan”
“iyaa, ibu akan terus ada untuk mengurus festival ini tahun depan dan tahun depannya lagi, ini sudah tanggung jawab ibu”. Ibu tidak menatapku saat menjawab.
Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata “lalu Dimana tanggung jawab ibu sebagai ibu dirumah, kami butuh ibu disini, rumah gak keurus dan dilimpahkan terus ke aku, bahkan masak pun jadi tidak pernah!”.
Nada bicaraku agak tinggi tanpa kusadari, bibirku sedikit bergetar, namun sebenarnya aku hanya kangen masakan ibuku. Masakan sederhana yang kadang keasinan itu menjadi saksi kehangatan keluarga yang memudar di tahun baru.
Ibuku terdiam sejenak juga, lalu membalas “ibu akan berhenti setelah festival ini bisa jalan sendiri tanpa ibu”
“tidak akan bisa, setelah ibu terjun kesitu, tahun tahun kedepan pun ibu akan tetap dibutuhkan, dan tetap tidak akan bisa tahun baruan Bersama-sama lagi seperti dulu… apasih yang ibu kejar? Kenapa melakukan semua ini? Untuk siapa?” ucapku sembari mencecar ibu.
tanpa jeda, “untuk semua orang nak” ibu menjawab dengan nada lirih,
“ibu lihat orang-orang di desa ini bakatnya bagus, mereka hanya butuh panggung untuk menampilkannya ke dunia, dan sayangnya tidak ada yang mau melakukannya… dan ibu, ibu mau membuat warisan yang bisa dinikmati dan disyukuri orang banyak, meski nanti ibu telah tiada”.
Aku terdiam, lalu berkata lirih “lalu kami bagaimana? Ibu bilang mau bikin warisan, tapi bu... kalau kami cuma ingat ibu sebagai orang yang gapernah ada dirumah, itu juga akhirnya jadi warisan… apa warisan seperti itu yang mau ibu wariskan?”
aku pun agak meninggikan nada bicara “yang akan paling mengenang ibu nanti itu ya keluarga ibu sendiri, bukan mereka! Yang akan ingat dengan ibu, yang akan merawat ibu Ketika tua itu kami, bukan mereka. mereka hanya akan lanjut hidup, mungkin akan terselip beberapa ingatan tentang ibu, tapi tetap itu hanya ingatan lewat saja. Yang utuh itu ingatan dan momen ibu Bersama kami! Keluarga ibu sendiri”
Ditengah Tengah pembicaraan, belum sempat menjawab perkataanku, ibu pun ditelfon, dan benar saja, yang menelfon Adalah salah satu panitia festival. Ibuku langsung bergegas berangkat lagi, entah akan pulang jam berapa. Aku pun berkata dalam hati “egois…”. Ibu pun berpesan lagi, agar saat malam tahun baru, aku berkenan untuk mengecek festivalnya, meski sebentar saja. lalu ibu pun berangkat.
Aku hanya menghela napas panjang, dan sedikit menyesal telah berkata seperti itu kepada ibu. Aku melihat poster festivalnya yang ketinggalan di meja ruang tamu, lalu berkata dalam hati “anjirlah jelek banget lagi posternya”. Lalu aku pergi ke dapur, dengan ekspektasi bahwa akan ada banyak piring kotor dan sebagainya, namun yang kulihat justru dapur bersih, tidak ada piring kotor menumpuk, tidak ada bau sisa makanan dan di rice cooker ada nasi yang sudah matang dan hangat. Ibu masih tidak masak lauk, namun kali ini dia menitipkan uang untuk beli lauk disamping rice cooker.
Malamnya, aku masih kepikiran dengan omongan ibuku tadi, bahwa dia melakukan ini untuk memberikan panggung bagi talenta lokal yang selama ini kurang disorot, serta memajukan pedagang-pedagang disekitar sana dengan festivalnya. Mungkin aku yang selama ini egois untuk menyuruh ibu selalu ada buatku dan keluarga, tanpa pernah memikirkan apa yang ibuku mau. Akupun teringat tatapannya yang seolah tidak puas dengan dirinya hanya duduk sambil menunggu ayam panggang tersaji di piringnya. Dan juga, dua tahun lalu ibuku tetap mau mendampingi kami untuk memanggang daging yang tidak sempat dimasak di tahun baru. Meski suasananya berbeda dari malam tahun baru, dia tetap menyempatkan dirinya untuk keluarga, walau aku tau dia masih lelah dengan festivalnya.
31 Desember 2025.
Ayah kembali melakukan hal yang sama seperti tahun lalu, namun kali ini ayah sudah tampak lebih menerima bahwa ibu memang tidak bisa hadir. Seperti biasa, kami memangang jagung dan beberapa sosis. menjelang larut malam, ayah mengeluarkan ayam utuh lagi, kali ini memang lebih kecil karena ayah pilih ayam yang masih muda supaya dagingnya masih jauh lebih empuk. Seperti biasa juga ayah tetap menyisihkan beberapa jagung bakar dan ayam untuk ibu nanti setelah pulang dari festival.
Pukul 23.30, aku kepikiran dengan omongan ibu untuk datang sekedar menengok festivalnya. Akupun mengajak adikku bergegas menuju festival meski awalnya ragu dan enggan. untungnya malam tahun baru ini sangat cerah, tidak ada awan mendung yang berarti. Saat aku kesana, festival itu ramai sekali, banyak pedagang pedagang sudah hampir kehabisan dagangannya, dan banyak sekali remaja dan orang tua yang sumringah menghadiri festivalnya. Begitupun talenta yang ditampilkan, meski tidak semuanya sempat kutonton, mereka benar benar mempertunjukkan apa yang mereka miliki dan latih selama ini. Disitu aku akhirnya menyaksikan, tentang bagaimana mereka akhirnya bisa punya panggung untuk menampilkan hasil kerja keras mereka, dan itu berkat ibuku.
Setelah pentasnya selesai, layar panggung menampilkan hitung mundur tahun baru, dan sudah dipersiapkan Gong untuk ditabuh tepat pukul 00.00 WIB. ada banyak sekali yang berdiri menyambut hitung mundur itu, dan aku menarik adikku mencoba menerobos kerumunan itu untuk bisa melihat dari depan. Disitu, aku lihat ibuku dari kejauhan, di samping bawah panggung, dengan beberapa lampu sorot menyoroti sebagian rambutnya yang mulai putih, melihat acaranya berjalan dengan lancar dan spektakuler. Lalu ibu menoleh pada kami, dengan tatapan penuh rasa lega, senyum tipis, tanpa mengucap apa-apa seolah hadirnya kami disana sudah sangat berarti baginya.
3...2...1...GOONNNGGGG!!!! semua bersorak dan pertunjukan penutup pun digelar. Suara gong yang nyaring itu seolah meruntuhkan egoku selama ini, dan membuka tahun yang baru dengan pemahaman dan penerimaan, meski aku tetap tidak bisa menerima bahwa poster festivalnya jelek sekali, dan aku mengajukan diri untuk membuatkan poster festivalnya tahun depan...
Other Stories
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...