Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Reads
4
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
ibu, kuizinkan engkau jadi egois malam ini
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Penulis Anugerah Bagus Ibrahim

Chapter 2: Ketika Diam Tak Cukup Lagi

23 Desember 2024.

Aku pulang tanpa banyak harapan. Aku hanya pulang bawa beberapa ayam guling dan nasi kebuli saja, tidak ada persiapan untuk bakar-bakar atau acara keluarga di tahun baru. Semua makanan yang kubawakan habis keesokan harinya. Dan ya, tahun ini pun sama, ibuku masih saja mengadakan festival tahun baruan, meninggalkan kami lagi, dan meninggalkan setumpuk pekerjaan rumah yang tak terurus. Ibu hanya bilang agar kami coba datang ke festival untuk melihat-lihat apa yang selama ini diusahakan ibuku. Aku tidak mengiayakan, namun tidak menolak. Aku langsung ke kamar untuk membersihkan dan menata ruangan.

Malam itu, aku sedang istirahat di kamar, pintu setengah terbuka. Ibuku baru saja pulang dari pengurusan festival. Ibu sampai didapur yang masih kotor, lalu mencoba mengomeli adikku yang memang seharian tidak bersih-bersih walau sudah disuruh.

Adikku malah merespon dengan cukup tegas “bu! bersihin dapur itu tugasnya ibu, kan ibu yang bilang dulu, aku mau bantu sekali-kali, tapi ya jangan seperti ini tiap hari. Mentang mentang, lama-lama kesel sendiri tau bu”

Ibu berusaha mendebat “loh, ibu kan dari festival, seharian gak dirumah, lagian tadi kan juga sudah ibu kasih uang buat beli lauk dan jajan tapi syaratnya bersih-bersih. Kamu juga tau kan ibu tu sibuuuk banget kalo akhir tahun begini”

Adikku sontak membalas “aku tau!” potong adikku. "semua orang tau. Satu desa tau, tapi kita enggak”

“maksud mu?” saut ibu

“maksudku...” suara adikku mulai gemetaran, namun tetap tegas “orang-orang diluar sana dapet ibu yang sigap, ibu yang peduli, ibu yang beresin segalanya, tapi kita yang dirumah cuma dapet capeknya ibu aja”

Seketika sunyi. Aku hanya bisa membayangkan wajah ibu waktu itu. bukan marah, tapi tersentak.

“ayah diem, kakak juga diem, aku yang mau ngomong, karena kalau aku gak ngomong, nanti dikira kami gak kenapa-napa” suara adikku pecah di kalimat terakhir.

“yasudah, ibu bersihin, tapi jangan minta uang jajan lagi!” ucap ibu yang memang sedang capek dan kesal.

“yang kuminta cuma ibu disini” ucap adikku lirih, lalu langsung masuk kamar dan mengunci pintu.

Aku tau yang ibu katakan terakhir itu tidak tulus, mungkin karena egonya terserang atau memang sedang lelah. Namun di lubuk hatiku, ada bagian yang lega adikku akhirnya konfrotasi seperti itu kepada ibu, ucapan yang ingin kami gaungkan tahun-tahun belakangan.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara air, bukan hujan, tapi air keran. Aku tidak keluar, tapi dari celah pintu, aku melihat ibu berdiri sendirian di dapur, menggulung lengan baju, mencuci piring satu per satu. Tidak tergesa, tidak menangis, hanya diam.

31 Desember 2024

Sore itu ayahku tiba-tiba pulang membawa sekarung arang, batok kelapa dan beberapa jagung. Dia mengatakan mau membuat bakar-bakaran lagi malam ini. Dan dia mengundang beberapa tetangga untuk datang dan menikmati jagung bakar. kali ini Lokasi bakarannya dipindah ke teras rumah, agar memudahkan dan mengundang tetangga untuk datang, tentu tidak semua tetangga datang, karena banyak dari mereka yang punya acara sendiri dirumahnya, dengan keluarga yang utuh. Adikku pun bahkan tidak mau untuk ke teras, dan memilih dikamar saja, mengurung diri.

Saat malam lebih larut, tetangga sudah mulai pulang, ayah menyuruhku memanggil adikku, dan ayah mengeluarkan ayam utuh untuk dipanggang. Ayah tau bahwa ketidakhadiran ibu itu berpengaruh sekali ke suasana, namun ayah tetap berusaha untuk membuat momen tahun baruan ini berkesan bagi kami. Ayah orangnya kaku, dan aku tau betul gimana orang yang kaku saat mencoba menghibur. Beberapa menit ayah bakar ayam itu, diolesi bumbu dan mentega, beberapa bercak hitam gosong mulai kelihatan, tanda sudah matang.

Meskipun rasanya enak, namun dagingnya alot luar biasa, mungkin karena ayam yang dipilih Adalah ayam kampung tua. Namun momen itu sedikit mengobati ketiadaan ibu di malam tahun baru. Saking tidak Sukanya dengan festival itu, untuk datang pun aku enggan, dan lebih memilih untuk berusaha mengunyah daging ayam alot itu. Malam pun ditutup dengan dipadamkannya tungku pembakaran, asap perlahan memudar, dan beberapa perabot dimasukkan kembali kerumah, dan beberapa dibiarkan saja, akan diurus dan dibersihkan keesokan hari. 


Other Stories
Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Download Titik & Koma