Desviar : Libur Dari Kata-kata

Reads
28
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
desviar : libur dari kata-kata
Desviar : Libur Dari Kata-kata
Penulis Tiva Scativana

Prolog

Libur hanyalah hari dalam rencana

Hari itu seharusnya kosong.

Tidak ada agenda. Tidak ada tenggat. Tidak ada alasan untuk berjalan cepat atau memperhatikan jam. Antika membiarkan sore mengalir tanpa rencana—berpindah dari satu bangku taman ke bangku lain, berdiri sebentar hanya untuk memastikan kakinya masih ada, lalu duduk lagi tanpa tujuan.

Ia sengaja meninggalkan jam tangan di tas.

Hari libur tidak perlu diukur.

Liburan, baginya, bukan tentang pergi jauh atau melakukan hal besar. Liburan adalah tidak harus memutuskan apa pun. Tidak perlu menjawab. Tidak perlu selesai.

Ia menikmati kekosongan itu lebih lama dari biasanya.

Sampai matahari turun sedikit lebih rendah dan udara mulai berubah—tidak dingin, tapi cukup untuk membuat duduk terlalu lama terasa ganjil. Antika berdiri. Melangkah. Tidak ke mana-mana secara khusus.

Laptop tetap ada di tas.

Bukan karena niat.

Karena kebiasaan.

Ia tidak menegur dirinya sendiri soal itu. Tidak hari ini. Membawa bukan berarti membuka. Dan membuka bukan berarti menulis. Setidaknya, itu yang ia yakini.

Kafe muncul sebagai persinggahan terakhir. Bukan tujuan. Hanya tempat menunggu hari benar-benar selesai.

Antika masuk tanpa banyak pikir. Memesan kopi. Mencari tempat duduk.

Dan seperti refleks yang sudah terlalu lama dipelihara, matanya menyapu ruangan hanya untuk satu hal: meja dengan colokan.

Ia menyadarinya setelah duduk.

Antika hampir tersenyum sendiri.

Kebiasaan lama, pikirnya. Tidak apa-apa.

Kopi datang. Ia menyesapnya perlahan. Untuk beberapa menit, dunia terasa cukup—cukup sunyi, cukup ringan, cukup tidak menuntut.

Lalu ponselnya bergetar.

Bukan pesan.

Bukan panggilan.

Hanya satu poster digital yang lewat di linimasa.

Sayembara Menulis Bulanan.

Nama platformnya asing. Hadiahnya tidak berlebihan. Tidak menjanjikan perubahan hidup—tapi cukup untuk membuat seseorang berhenti berjalan.

Antika membaca sekilas. Tanpa minat. Tanpa harapan. Ia sudah terlalu sering melihat poster semacam ini untuk bereaksi berlebihan.

Namun jarinya tidak langsung bergerak menjauh.

Bukan karena ambisi.

Bukan karena mimpi lama.

Karena angka.

Angka sewa kos.

Angka tagihan.

Angka yang tidak peduli seseorang sedang libur atau tidak.

Antika mengunci layar ponsel dan meletakkannya terbalik di meja. Ia menatap kopi yang sudah berkurang setengah.

Tidak ada niat menulis.

Tidak ada rencana.

Namun ada satu pikiran kecil yang terlalu ringan untuk disebut keputusan.

Sebentar saja.

Ia membuka laptop.

Bukan untuk menulis.

Ia bersumpah itu pada dirinya sendiri.

Di sisi kota yang lain, Komaruzaman sedang mencoba melakukan sesuatu yang jarang ia izinkan.

Ia menyebutnya jeda.

Bukan liburan. Kata itu terlalu besar. Jeda berarti tidak ada tuntutan. Tidak ada kalimat yang harus selesai. Tidak ada kewajiban untuk produktif atau berguna.

Ia duduk di bangku beton dekat halte, memperhatikan lalu lintas yang lewat tanpa benar-benar melihatnya. Laptop ada di pangkuannya, tertutup. Ia sengaja tidak membukanya.

Menulis, bagi Komaruzaman, bukan pelarian.

Ia pekerjaan yang menuntut kendali.

Dan kendali, jika dipegang terlalu lama, bisa berubah jadi sesuatu yang berbahaya.

Ponselnya menyala.

Poster yang sama muncul.

Ia hampir melewatinya.

Hampir.

Platform itu asing. Dan justru karena asing, ia berhenti. Tidak ada reputasi di sana. Tidak ada pembaca yang menunggu. Tidak ada ekspektasi yang harus dijaga.

Ia membuka detail lomba.

Menutupnya.

Membukanya lagi.

Batas waktu.

Ketentuan unggah.

Sistem penilaian.

Ia tidak tertarik pada lombanya. Ia tertarik pada ruangnya.

Bagaimana jika, pikirnya, aku menaruh satu cerita di tempat yang tidak mengenalku?

Bukan untuk menang.

Bukan untuk menetap.

Sekadar memastikan bahwa jeda ini tidak membuatnya tumpul.

Ia membuka laptop.

Kesalahan pertama.

Tidak ada dari mereka yang langsung menulis.

Itulah bagian yang paling menipu.

Antika membuka halaman pendaftaran. Mengisi nama akun. Mengklik persetujuan. Semuanya terasa administratif. Aman. Tidak kreatif. Tidak berbahaya.

Dokumen kosong terbuka di layar.

Ia tidak mengetik.

Ia membiarkannya menyala.

Layar putih itu tidak memanggil. Tidak menuntut. Tapi juga tidak pergi.

Antika melirik jam di sudut layar. Dadanya mengencang—bukan karena waktu hampir habis, tapi karena waktu terasa cukup dekat untuk mulai diperhitungkan.

Masih bisa, pikirnya.

Di tempat lain, Komaruzaman membuka dokumen hanya untuk memastikan formatnya benar. Ia menutupnya. Membukanya kembali.

Satu kalimat muncul.

Bukan kalimat yang ia banggakan.

Bukan kalimat yang ia rancang.

Tapi cukup untuk membuatnya tidak menutup dokumen itu lagi.

Ia tidak melihat jam.

Ia tidak menghitung menit.

Ia hanya tahu satu hal: berhenti sekarang akan meninggalkan gangguan. Dan gangguan kecil sering kali lebih berbahaya daripada keputusan besar.

Hari itu tidak berubah menjadi hari kerja secara dramatis.

Ia bergeser.

Perlahan.

Diam-diam.

Antika menunda menutup laptop. Lima menit. Sepuluh menit. Ia masih merasa santai. Masih merasa memegang kendali.

Komaruzaman menambahkan satu paragraf. Lalu satu kalimat. Ia belum merasa terjebak. Ia merasa sedang bermain.

Waktu tidak peduli pada perasaan itu.

Ketika Antika kembali melirik jam, angka di layar sudah berubah cukup jauh untuk membuat bahunya menegang. Jarinya bergerak lebih cepat. Ia berhenti membaca ulang. Berhenti bertanya apakah ini bagus.

Pertanyaannya berubah.

Cukup selesai atau tidak?

Komaruzaman merasakan hal yang sama. Ia sudah menulis terlalu jauh untuk mundur tanpa konsekuensi. Dan berhenti sekarang berarti mengakui bahwa membuka laptop sejak awal adalah kesalahan.

Ia tidak suka mengakui kesalahan seperti itu.

Liburan tidak runtuh.

Ia mengeras.

Menjadi ruang sempit antara layar dan jam. Antara masih bisa dan harus selesai.

Di luar, dunia bergerak seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi. Sore berubah menjadi malam.

Dan tanpa pernah bertemu, tanpa pernah berbicara, Antika dan Komaruzaman sedang bergerak menuju satu titik yang sama.

Kafe.

Colokan.

Waktu yang hampir habis.

Mereka belum tahu tentang meja nomor empat.

Belum tahu bahwa satu keputusan kecil akan bertabrakan dengan keputusan kecil lainnya.

Yang mereka tahu hanya satu hal:

waktu sudah terlalu dekat untuk mundur, dan terlalu jauh untuk dibiarkan.

Kesalahan terbesar hari itu

bukanlah membuka laptop.

Melainkan melanjutkannya.


Other Stories
Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Download Titik & Koma