Bab 2
Yang Terbit Bukan Milik Kami
(POV: Antika)
Antika tertidur dengan laptop masih menyala.
Bukan karena nyaman—tubuhnya hanya menyerah lebih dulu. Kursi kos yang keras, meja sempit, dan sisa kopi dingin tidak lagi terasa setelah tombol Publish ditekan. Yang tertinggal hanya satu pikiran terakhir sebelum matanya menutup:
sudah lewat.
Ponselnya bergetar pukul 06.18 WIB.
Sekali.
Dua kali.
Lalu terus-menerus.
Antika menggeram pelan dan membalikkan badan. Mimpi tentang halaman kosong terasa lebih masuk akal daripada pagi. Tapi getaran itu tidak berhenti—seperti sesuatu yang sengaja tidak mau diberi waktu.
“Ya ampun…” gumamnya.
Ia meraih ponsel tanpa membuka mata.
Begitu layar menyala, Antika langsung duduk.
99+ notifikasi.
Dari satu aplikasi.
Dadanya menghantam keras—bukan panik, lebih seperti irama yang tidak sinkron. Terlalu cepat. Terlalu penuh.
“Ha?”
Ia membuka satu notifikasi.
Lalu dua.
Lalu sepuluh.
Semakin ia menggulir, semakin napasnya pendek.
— “Kak, ini serius?”
— “Aku nggak siap baca ini pagi-pagi.”
— “Ini romance tapi kok berdarah?”
— “Takut… tapi lanjut.”
Antika membuka aplikasi dan masuk ke dashboard penulis.
Judul masih benar.
Nama akun masih benar.
Genre masih tertulis Romance.
Ia menggulir ke paragraf pertama.
Darah segar merembes dari sela koper hitam itu. Bau besi dan parfum melati bercampur, membuat malam terasa terlalu hidup untuk seseorang yang seharusnya sudah mati.
Layar terasa miring.
“Apa… ini…”
Antika menggulir cepat.
Tidak ada hujan romantis.
Tidak ada metafora manis.
Tidak ada pengakuan cinta.
Yang ada hanya kalimat pendek, dingin, dan detail yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
“Ini bukan tulisan gue.”
Tangannya gemetar. Ia menutup mulutnya, napasnya terpotong-potong.
“Ini tulisan cowok psikopat di kafe semalam.”
Ponselnya bergetar lagi.
— “Kak, aku follow karena romance.”
— “Ini eksperimen atau akun Kakak diretas?”
— “Aku marah… tapi penasaran.”
Antika memejamkan mata.
Marah.
Penasaran.
Dua hal yang tidak pernah datang sendiri—dan selalu menuntut lebih.
Ia membuka statistik.
Grafik pembaca melonjak tajam. Terlalu tajam. Jauh lebih cepat daripada cerita mana pun yang pernah ia unggah. Durasi baca tinggi. Kolom komentar bergerak tanpa jeda.
Ini salah.
Tapi sistem tidak mengenal kata salah.
(POV: Komaruzaman)
Komaruzaman bangun pukul 07.02 WIB.
Ia tidak langsung membuka ponsel. Itu kebiasaan lama—memberi jarak antara bangun dan dunia. Ia membuat kopi hitam, berdiri sebentar di dapur apartemennya yang rapi, lalu duduk di meja kerja.
Baru setelah itu ia membuka laptop.
Dan berhenti.
Ada sesuatu yang terasa… keliru.
Dashboard terbuka otomatis. Grafik pembaca bergerak, tapi arahnya tidak familiar. Terlalu ramai. Terlalu cepat. Tidak terkendali.
Ia membuka satu komentar.
— “Bang, ini serius?”
— “Gue kira bakal ada mayat.”
— “Ini indah sih… tapi kenapa?”
Komaruzaman membuka bab yang ia unggah semalam.
Paragraf pertama muncul.
Ia tahu cintanya tidak akan dibalas. Tapi pagi itu, ia tetap memilih menunggu.
Komaruzaman membeku.
Itu bukan kalimatnya.
Ia menggulir.
Ada dialog lembut.
Ada jeda perasaan.
Ada tokoh yang berharap—bukan mengintai.
“Tidak,” gumamnya.
Ia menutup mata sebentar. Membukanya lagi. Berharap ini hanya kesalahan tampilan.
Tetap sama.
Ia menoleh ke sudut laptopnya.
Stiker bunga kecil.
Komaruzaman menarik napas panjang.
“Kafe,” katanya pelan.
Kolom komentar semakin ramai.
— “Bang, ini bikin mikir mantan.”
— “Sejak kapan TheWatcher nulis begini?”
— “Gue nunggu horor, bukan pelangi.”
Ia membuka statistik.
Pembaca tidak pergi.
Mereka tinggal.
Tapi nadanya berubah. Diskusi muncul. Spekulasi bermunculan. Orang-orang mulai merasa punya hak atas arah cerita.
Komaruzaman tidak panik.
Yang muncul justru perhitungan.
Namun sebelum ia sempat menutup laptop, satu pesan lain muncul—bukan dari pembaca.
Nada profesional. Singkat. Bersih.
Kita jeda dulu kerja sama ke depan. Gaya tulisanmu berubah. Kita perlu evaluasi.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada makian.
Itu yang membuat dadanya mengeras.
Ini bukan akun anonim. Ini dunia yang selama ini memberinya ruang.
Komaruzaman menutup pesan itu tanpa membalas.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia sadar:
Kesalahan semalam tidak berhenti di platform lomba.
Ia merembet ke dunia yang seharusnya aman.
(POV: Antika)
Antika menekan tombol Edit tiga kali.
Setiap kali, sistem menolak.
Postingan terkunci selama masa penilaian lomba.
Ia tertawa pendek. Bukan lucu—lebih seperti suara orang yang hampir putus.
“Ini lomba,” gumamnya. “Bukan status harian.”
DM masuk bertubi-tubi.
— “Kak, aku takut tapi nagih.”
— “Tolong jangan hapus.”
— “Ini beda. Serius.”
Antika menutup ponsel.
Ia mencoba berpikir jernih, tapi satu nama terus muncul.
Komaruzaman.
Hoodie hitam.
Thriller.
Mayat.
Ia membuka Instagram. Mencari akun kafe itu. Menggali unggahan lama.
Satu foto muncul.
Dua laptop perak di meja nomor empat. Sebagian tertutup bayangan.
Komentarnya ramai.
Kayak adegan film.
Antika berdiri.
Ia tahu harus ke mana.
(POV: Komaruzaman)
Komaruzaman menutup laptop dengan ketenangan yang dipaksakan.
Ia mengambil jaket, kunci, ponsel.
Sebelum keluar, ia membaca satu komentar terakhir.
— “Apa pun ini, aku nunggu kelanjutannya.”
Ia tidak menyukai kalimat itu.
Other Stories
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...