Bab 4
Kolaborasi yang Tidak Diminta
(POV: Komaruzaman)
Komaruzaman baru sadar betapa salah perhitungannya setelah tiga puluh menit pertama.
Bukan karena Antika lambat.
Bukan karena ia tidak paham struktur.
Justru karena Antika terlalu cepat.
Ia membaca kalimat seperti orang membongkar mesin—tidak ragu, tidak sentimental, tidak peduli apakah bagian itu mahal atau pernah disukai. Ia mencabut, memindahkan, memotong, lalu melanjutkan seolah tidak ada yang perlu diratapi.
“Ini manipulatif,” kata Antika sambil menyorot satu paragraf di layar Komaruzaman. “Lu minta simpati tanpa ngasih sebab.”
“Itu tension,” jawab Komaruzaman datar.
“Itu pemaksaan emosional.”
Komaruzaman menahan napas. Ia meneguk kopi yang sudah pahit sejak awal, lalu mengetik ulang kalimat itu. Memendekkannya. Mengganti kata kerja. Menghapus metafora yang sebenarnya ia suka—dan selama ini ia pakai sebagai tameng.
Ia berhenti.
Bukan karena selesai.
Karena ada sesuatu yang terasa… telanjang.
“Masih palsu,” kata Antika tanpa mengangkat kepala.
“Lu maunya apa?” Komaruzaman akhirnya bertanya. Nadanya lebih lelah daripada marah.
“Kejujuran,” jawab Antika cepat. “Atau minimal, usaha ke arah sana.”
Komaruzaman bersandar. Menatap layar. Kata jujur selalu membuatnya tidak nyaman—terutama ketika dipakai seolah-olah ia sengaja berbohong. Ia menulis thriller bukan untuk menyembunyikan perasaan. Ia menulisnya untuk mengurung perasaan di tempat yang bisa ia kendalikan.
“Kalau terlalu jujur,” katanya pelan, “cerita bisa runtuh.”
“Kalau terlalu rapi,” balas Antika, “cerita jadi brosur.”
Kalimat itu kena.
Komaruzaman diam lebih lama dari yang ia mau. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memutar laptop ke arah Antika.
“Tulis versi lu.”
Antika tidak bertanya. Tidak minta izin. Ia menarik laptop itu mendekat dan mulai mengetik.
Cepat. Terlalu cepat.
Komaruzaman tidak suka orang lain menyentuh tulisannya. Ada wilayah yang baginya bersifat privat, meski dipublikasikan. Tapi ia juga tidak menghentikannya—karena bagian dari dirinya ingin tahu sejauh mana Antika berani masuk.
Paragraf demi paragraf berubah.
Kalimat jadi lebih panjang. Tidak rapi. Tidak simetris. Ada jeda yang dibiarkan menggantung. Ada keraguan yang tidak dijelaskan—hanya ditunjukkan lewat gerak kecil: napas tokoh yang tertahan, tatapan yang dialihkan, keputusan yang diambil setengah sadar.
Komaruzaman membaca ulang.
Ia tidak suka ritmenya. Terlalu reflektif. Terlalu berani membiarkan tokoh tampak ragu.
“Ini bikin karakter gue keliatan lemah,” katanya.
“Bagus,” jawab Antika tanpa menoleh. “Manusia emang lemah.”
“Tokoh gue nggak butuh simpati.”
“Pembaca butuh pegangan.”
Komaruzaman membuka mulut untuk membalas—lalu menutupnya lagi.
Ia tidak setuju. Tapi ia juga tidak bisa menyangkal satu hal: paragraf itu hidup.
Tidak rapi.
Tidak aman.
Tapi hidup.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari.
Kafe makin sepi. Musik berubah jadi instrumental pelan. Barista sudah dua kali melirik jam dinding dengan wajah yang jelas ingin menutup tempat itu.
Draft menunjukkan: Versi 11.
“Ini kebanyakan,” kata Komaruzaman, menunjuk satu bagian. “Pembaca thriller bakal kabur.”
“Dan kalau ini dibuang,” balas Antika, “pembaca romance bakal ngerasa dibohongi.”
“Mereka bukan target utama gue.”
“Dan mereka bukan target utama gue juga,” kata Antika. “Makanya ini kolaborasi, Zaman. Kita nggak lagi nulis buat diri sendiri.”
Kalimat itu berat. Bukan karena nadanya—karena kebenarannya.
Komaruzaman menghela napas. “Lu sadar nggak kita lagi nulis di platform yang bahkan bukan rumah kita?”
Antika berhenti mengetik.
“Justru itu,” katanya pelan. “Makanya taruhannya gede. Kita nggak punya sejarah di sini. Sekali salah, kita cuma—”
“Anomali,” sela Komaruzaman.
Kata itu terasa makin sering muncul. Dan makin terasa seperti vonis.
Ponsel mereka bergetar hampir bersamaan.
Komentar baru.
— “Ini makin intens.”
— “Capek bacanya, tapi nggak bisa berhenti.”
— “Kenapa aku ngerasa penulisnya lagi ribut?”
Antika membacanya keras-keras.
“Tuh.”
Komaruzaman mengernyit. “Mereka mulai nebak.”
“Karena kita bocor,” balas Antika. “Lu sadar nggak? Kita nggak lagi nulis tokoh. Kita lagi ninggalin jejak.”
Komaruzaman menatap layar.
Ada satu paragraf yang sejak tadi mengganggunya. Terlalu spesifik. Terlalu dekat. Ia tahu persis dari mana itu datang—dan kenapa ia membiarkannya lolos.
Ia ingin berhenti.
Tapi berhenti berarti mengakui bahwa semua ini tidak terkendali sejak awal.
“Itu terlalu dekat,” katanya.
“Kenapa?” tanya Antika.
“Karena itu bukan tokoh,” jawab Komaruzaman. “Itu kita.”
Antika membaca ulang paragraf itu. Lama.
“Lu mau hapus?” tanyanya.
Komaruzaman berpikir.
Lama.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena pembaca bakal nganggep itu fiksi,” katanya. “Dan selama mereka mikir begitu… kita aman.”
Antika menoleh. “Atau justru makin terbuka.”
Komaruzaman tidak menjawab.
Mereka menyelesaikan bab itu lewat tengah malam.
Tidak ada rasa puas. Tidak ada euforia. Hanya kelelahan yang lengket—seperti keringat yang tidak sempat mengering sebelum tubuh dipaksa lanjut.
Judul bab disepakati dengan nada sinis:
Cinta dalam Bidikan
“Judul ini bakal bikin mereka salah fokus,” kata Komaruzaman.
“Biarkan,” jawab Antika. “Salah tafsir itu bensin.”
Komaruzaman menekan Publish.
Beberapa detik sunyi.
Lalu—
Komentar masuk.
— “Ini bukan genre, ini konflik.”
— “Aku nggak tahu harus dukung siapa.”
— “Tolong jangan bikin aku terlalu kenal penulisnya.”
Kalimat terakhir itu membuat Komaruzaman menutup laptop lebih cepat dari rencananya.
“Ini mulai keluar jalur,” katanya.
Antika mengangguk. “Dan kita belum jatuh.”
“Belum,” ulang Komaruzaman.
Mereka berdiri tanpa janji pertemuan berikutnya.
Di meja nomor empat, dua cangkir kopi kosong berdiri seperti saksi bisu dari sesuatu yang tidak lagi bisa disebut eksperimen.
Kolaborasi ini bukan lagi strategi bertahan.
Ia sudah menjadi risiko.
Dan Komaruzaman tahu satu hal dengan pasti:
risiko yang melibatkan perhatian publik
tidak pernah berhenti menagih—
ia hanya menunggu saat yang tepat untuk masuk ke dunia nyata.
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...