Liburan Yang Tak Pernah Dinanti
Hari libur di rumah—sesuatu yang baru bagi Mila, Nala, dan Gala.
Mila dan Gala banyak menghabiskan waktu bersama Mama. Belajar menyalakan kompor, belajar memasak nasi, belajar hal-hal yang dulu tak pernah mereka sentuh.
Sementara Nala lebih sering mengurung diri di kamar.
Di sanalah ia mulai melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukan saat liburan: belajar sains.
Libur sekolah kali ini bukan tentang pergi kemana. Nala ingin mencari uang. Membantu Mama melunasi hutang-hutang yang tersisa.
Bukan demi liburan, tapi demi mengembalikan Mama yang dulu. Walau ia tahu, itu mungkin mustahil.
Setidaknya, untuk ease the pain. Sedikit saja.
Di sekolah akan dipilih satu murid untuk mewakili tiap mata pelajaran. Nala akan mendaftarkan diri untuk lomba sains. Katanya, kalau menang di level nasional, hadiahnya jutaan rupiah. Itu tujuan Nala.
Ia belajar dari pagi sampai malam.
Istirahatnya hanya untuk salat, makan, dan tidur.
Setelah itu, kembali ke kamar. Ke meja. Ke buku.
Begitulah caranya menghabiskan tiga minggu libur yang terasa sangat panjang.
.
.
.
Libur sekolah usai.
Libur terlama yang pernah Nala rasakan. Tapi semuanya terasa terbayar.
Nala mendapat nilai tertinggi di seleksi lomba sains sekolah dan berhak maju ke lomba nasional di Bogor.
Biasanya, setiap field trip, Ayah selalu mengajak mampir ke minimarket. Beli bekal untuk di bus bersama teman-teman. Walau ujung-ujungnya selalu habis duluan dimakan bertiga dengan kakak adiknya sebelum field trip.
“Nanti ke minimarket, yuk, Ma,” ajak Nala. Suaranya lembut, senyumnya dipaksakan.
“Yuk.”
Hal kecil yang dulu terasa sepele ternyata begitu membekas. Pergi ke minimarket bersama. Seperti family trip mini, walau cuma lima ratus meter dari rumah. Momen yang menyenangkan, namun juga membawa perih sekarang ini.
.
.
.
Keesokan paginya, semua peserta lomba berkumpul di sekolah.
Nala melirik kanan-kiri.
Anak-anak pintar semua.
Sains: Nala.
Bahasa Inggris: Shabrina.
Matematika: Nabila.
Sosial: Andhika.
Nilai Nala memang bagus, tapi menurutnya ia bukan “pintar versi lomba nasional”.
Motonya sederhana:
Malu, nggak pede, tapi yaudah lah, jalanin aja.
Sesampainya di Bogor, mereka makan siang bersama. Nala duduk di samping Pak Husein, guru sainsnya, yang tampak sangat bersemangat.
“Nanti ada sepuluh soal. Kerjain dulu yang kamu bisa, ya.”
“Iya, Pak.”
“Nomor tujuh biasanya tentang energi. Materi itu yang paling kamu suka kan”
“Iya, Pak.”
“Nomor tiga biasanya bumi dan antariksa.”
“Iya, Pak.”
“Pergunakan waktu sebaik mungkin.”
“Iya, Pak.”
Sampai suapan nasi kuning terakhir.
“Iya, Pak.”
.
.
.
Di hall lomba, ketegangan semakin terasa.
Satu ruangan besar. Semua mata pelajaran. Barisan terpisah. Rasanya sendirian.
“Peserta tidak diperkenankan membuka lembar soal sebelum pukul 13.00.”
Hening.
Saking heningnya, Nala merasa kedipan matanya pun terdengar.
Tiba-tiba …
“HEYYY KAMU!”
Nala kaget setengah mati.
Petugas dengan mikrofon berjalan mendekat.
“Kenapa sudah membuka lembar soal? Silakan keluar.”
Jarinya menuding peserta di sebelah kanan Nala.
Satu orang gugur sebelum lomba dimulai.
Jantung Nala semakin nggak karuan. Tangannya basah. Tetes-tetes air menodai halaman belakang kertas lomba.
Pukul 13.00 tepat.
“Selamat mengerjakan.”
Nala langsung loncat ke nomor tujuh.
.
.
.
“Nala!”
Suara Pak Husein memanggil di tengah kerumunan.
“Pak… kalau saya nggak lolos gimana?” tanyanya pelan.
Pak Husein menepuk pundaknya.
“Yang penting kita have fun.”
Have fun?
Nala ragu ini termasuk fun atau tidak.
Dua jam kemudian, hasil diumumkan.
“Yang masuk ke lomba selanjutnya cuma tiga besar,” terdengar suara panitia mengingatkan.
Nala menyelinap di antara kerumunan, berdesakan mendekati papan pengumuman. Matanya langsung menyapu dari atas: satu, dua, tiga.
Namanya tidak ada.
Ia menghela napas panjang.
“Tidak lolos,” gumamnya pelan.
Namun matanya tetap turun, mencari. Bukan untuk berharap, tapi untuk tahu, ia ada di urutan ke berapa.
“Gapapa ya,” kata Pak Ismail, guru Sosial. “Kita perwakilan sekolah belum ada yang lolos.”
“Yang penting pengalaman,” sambung Pak Husein.
Sedih, tentu. Tapi di saat yang sama, ada sedikit rasa lega.
At least gagal bareng-bareng.
Jadi kalau nanti ditanya di rumah, Nala bisa bilang, “Semua juga nggak lolos kok.”Hehehe.
Yang pasti urutan jangan sampai bocor.
Urutan hasil dari tiap mata pelajaran:
• Nabila: ke-9
• Andhika: ke-8
• Shabrina: ke-4 (nyaris!)
• Nala: … urutan ke-19.
Dari 20.
Tapi yang ke-20 didiskualifikasi.
Tapi tetep yang penting Nala bukan terakhir.
Maaf ya, Pak Husein.
.
.
.
Meski begitu, Nala tetap bangga.
Ia bisa mewakili sekolah. Dan ia sadar, banyak anak yang lebih pintar dan lebih siap darinya. Artinya hanya satu: ia harus belajar lebih giat lagi.
Mila dan Gala banyak menghabiskan waktu bersama Mama. Belajar menyalakan kompor, belajar memasak nasi, belajar hal-hal yang dulu tak pernah mereka sentuh.
Sementara Nala lebih sering mengurung diri di kamar.
Di sanalah ia mulai melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukan saat liburan: belajar sains.
Libur sekolah kali ini bukan tentang pergi kemana. Nala ingin mencari uang. Membantu Mama melunasi hutang-hutang yang tersisa.
Bukan demi liburan, tapi demi mengembalikan Mama yang dulu. Walau ia tahu, itu mungkin mustahil.
Setidaknya, untuk ease the pain. Sedikit saja.
Di sekolah akan dipilih satu murid untuk mewakili tiap mata pelajaran. Nala akan mendaftarkan diri untuk lomba sains. Katanya, kalau menang di level nasional, hadiahnya jutaan rupiah. Itu tujuan Nala.
Ia belajar dari pagi sampai malam.
Istirahatnya hanya untuk salat, makan, dan tidur.
Setelah itu, kembali ke kamar. Ke meja. Ke buku.
Begitulah caranya menghabiskan tiga minggu libur yang terasa sangat panjang.
.
.
.
Libur sekolah usai.
Libur terlama yang pernah Nala rasakan. Tapi semuanya terasa terbayar.
Nala mendapat nilai tertinggi di seleksi lomba sains sekolah dan berhak maju ke lomba nasional di Bogor.
Biasanya, setiap field trip, Ayah selalu mengajak mampir ke minimarket. Beli bekal untuk di bus bersama teman-teman. Walau ujung-ujungnya selalu habis duluan dimakan bertiga dengan kakak adiknya sebelum field trip.
“Nanti ke minimarket, yuk, Ma,” ajak Nala. Suaranya lembut, senyumnya dipaksakan.
“Yuk.”
Hal kecil yang dulu terasa sepele ternyata begitu membekas. Pergi ke minimarket bersama. Seperti family trip mini, walau cuma lima ratus meter dari rumah. Momen yang menyenangkan, namun juga membawa perih sekarang ini.
.
.
.
Keesokan paginya, semua peserta lomba berkumpul di sekolah.
Nala melirik kanan-kiri.
Anak-anak pintar semua.
Sains: Nala.
Bahasa Inggris: Shabrina.
Matematika: Nabila.
Sosial: Andhika.
Nilai Nala memang bagus, tapi menurutnya ia bukan “pintar versi lomba nasional”.
Motonya sederhana:
Malu, nggak pede, tapi yaudah lah, jalanin aja.
Sesampainya di Bogor, mereka makan siang bersama. Nala duduk di samping Pak Husein, guru sainsnya, yang tampak sangat bersemangat.
“Nanti ada sepuluh soal. Kerjain dulu yang kamu bisa, ya.”
“Iya, Pak.”
“Nomor tujuh biasanya tentang energi. Materi itu yang paling kamu suka kan”
“Iya, Pak.”
“Nomor tiga biasanya bumi dan antariksa.”
“Iya, Pak.”
“Pergunakan waktu sebaik mungkin.”
“Iya, Pak.”
Sampai suapan nasi kuning terakhir.
“Iya, Pak.”
.
.
.
Di hall lomba, ketegangan semakin terasa.
Satu ruangan besar. Semua mata pelajaran. Barisan terpisah. Rasanya sendirian.
“Peserta tidak diperkenankan membuka lembar soal sebelum pukul 13.00.”
Hening.
Saking heningnya, Nala merasa kedipan matanya pun terdengar.
Tiba-tiba …
“HEYYY KAMU!”
Nala kaget setengah mati.
Petugas dengan mikrofon berjalan mendekat.
“Kenapa sudah membuka lembar soal? Silakan keluar.”
Jarinya menuding peserta di sebelah kanan Nala.
Satu orang gugur sebelum lomba dimulai.
Jantung Nala semakin nggak karuan. Tangannya basah. Tetes-tetes air menodai halaman belakang kertas lomba.
Pukul 13.00 tepat.
“Selamat mengerjakan.”
Nala langsung loncat ke nomor tujuh.
.
.
.
“Nala!”
Suara Pak Husein memanggil di tengah kerumunan.
“Pak… kalau saya nggak lolos gimana?” tanyanya pelan.
Pak Husein menepuk pundaknya.
“Yang penting kita have fun.”
Have fun?
Nala ragu ini termasuk fun atau tidak.
Dua jam kemudian, hasil diumumkan.
“Yang masuk ke lomba selanjutnya cuma tiga besar,” terdengar suara panitia mengingatkan.
Nala menyelinap di antara kerumunan, berdesakan mendekati papan pengumuman. Matanya langsung menyapu dari atas: satu, dua, tiga.
Namanya tidak ada.
Ia menghela napas panjang.
“Tidak lolos,” gumamnya pelan.
Namun matanya tetap turun, mencari. Bukan untuk berharap, tapi untuk tahu, ia ada di urutan ke berapa.
“Gapapa ya,” kata Pak Ismail, guru Sosial. “Kita perwakilan sekolah belum ada yang lolos.”
“Yang penting pengalaman,” sambung Pak Husein.
Sedih, tentu. Tapi di saat yang sama, ada sedikit rasa lega.
At least gagal bareng-bareng.
Jadi kalau nanti ditanya di rumah, Nala bisa bilang, “Semua juga nggak lolos kok.”Hehehe.
Yang pasti urutan jangan sampai bocor.
Urutan hasil dari tiap mata pelajaran:
• Nabila: ke-9
• Andhika: ke-8
• Shabrina: ke-4 (nyaris!)
• Nala: … urutan ke-19.
Dari 20.
Tapi yang ke-20 didiskualifikasi.
Tapi tetep yang penting Nala bukan terakhir.
Maaf ya, Pak Husein.
.
.
.
Meski begitu, Nala tetap bangga.
Ia bisa mewakili sekolah. Dan ia sadar, banyak anak yang lebih pintar dan lebih siap darinya. Artinya hanya satu: ia harus belajar lebih giat lagi.
Other Stories
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Dentistry Melody
Stella ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Testing
testing ...