Nala

Reads
724
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Buku Menjadi Tempat Sembunyi

Kriiinggg… bel istirahat berbunyi. Pelajaran sains selesai hari itu. Suasana kelas mendadak riuh, murid-murid berhamburan keluar seperti lebah keluar dari sarangnya.

Seperti biasa, Nala mengeluarkan bekalnya dan makan di mejanya.

“Nala,” panggil Pak Husein, tepat saat Nala hampir menyuap ayam bumbu lengkuas dan nasi buatan Mama.

Nala langsung berdiri dan melangkah ke depan.

“Kamu terus belajar yang giat, ya. Kita bisa coba lagi tahun depan. Tetap semangat,” kata Pak Husein. Kalimat penyemangat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat bermakna.

“Iya, Pak.”

Dua kata yang selalu sama ‘Iya dan Pak’. Tapi kali ini Nala mengucapkannya lebih kencang, lebih yakin, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Nala memberi porsi lebih untuk pelajaran sains. Bukan berarti pelajaran lain ditinggalkan, tapi sains menjadi dunianya sendiri.

Tanpa sadar, sepulang sekolah ia langsung masuk kamar, membuka buku, dan belajar.

“Nala, lagi apa?” tanya Gala yang menyelonong masuk.

“Lagi belajar.”

Tiga puluh menit kemudian—

“Nala lagi apa?” tanya Mila.

“Lagi belajar.”

Satu jam setelahnya—

“Nala?” panggil Mama dari pintu.

“Lagi belajar, Mah,” jawab Nala tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

“Makan malam dulu, yuk,” ajak Mama, matanya sempat menyapu meja Nala yang penuh buku.

Nala keluar dari kamarnya. Keluar dari kepompong kecil yang nyaman itu.

Mila dan Gala sudah duduk di meja makan. Tempe goreng, tumis kangkung, dan telur dadar tersaji rapi. Nala langsung tersenyum, melihat makanan Nala langsung menyadari bahwa dirinya lapar.

Malam itu mereka tertawa, berbincang, dan bermain tebak-tebakan.

“Buah apa yang suka main tembak-tembakan?” tanya Gala.

Semua terdiam.

“Doorrrr-ian!”

“Jayussss banget,” sahut Mila dan Nala kompak.
Mama hanya tertawa melihat tingkah anak-anaknya.

Setelah makan dan mencuci piring masing-masing, Nala kembali ke kamarnya.

Belajar.
Belajar.

Ia melakukannya setiap hari, bahkan di akhir pekan. Tanpa paksaan. Namun, karena memang ia senang.

.
.
.

Di sekolah—

“Nala, ke kantin yuk,” ajak Ipeh.

“Mulai sekarang aku nggak mau sering jajan. Aku makan bekal aja.”

Ipeh menoleh bingung. “Kenapa, Nal?”

“Aku mau nabung. Entah buat apa. Tapi aku pengin di dompetku selalu ada uang.”

Nala sendiri belum tahu. Tapi ia ingin siap kalau suatu hari Mama butuh.

“Aku juga mau nabung deh. Buat beli komik,” kata Ipeh nyengir.

Nala mengeluarkan dompetnya.
“Peh, uangku udah segini. Dua puluh ribu!”

Ipeh ikut menghitung uangnya dengan wajah lesu.

“Peh, kenapa ngitung uangnya kayak gitu?” tanya Nala.

“Terus gimana?”

“Kalau ngitung uang itu harus sambil senyum. Kayak gini,” kata Nala, memperagakan.
“Seribu… dua ribu… tiga ribu…”

Mereka tertawa.

Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Download Titik & Koma