Nala

Reads
724
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Dimana Tawaku?

Ayah … sandaran, pemimpin, panutan.

Bagi Nala, Ayah selalu seperti itu. Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, Ayah tetap Nala anggap sebagai pahlawan. Seseorang yang selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dan bayangan itu semakin terpatri, semakin tergores dalam di benaknya.

Ayah pergi.
Dan Mama pun perlahan ikut pergi, bukan secara fisik, tapi dalam caranya hadir.

Beban Mama yang dulu hanya di dapur kini bertambah: mengantar-jemput anak, mengurus sisa-sisa keuangan perusahaan Ayah yang telah gulung tikar, dan mengurus rumah yang dulu dikerjakan Mbak Siti.
Mama berubah. Wajahnya lebih sering lelah. Matanya jarang benar-benar beristirahat.

Libur sekolah tahun itu, tak ada yang sama.

Dengan mata sembab yang bengkaknya tak bisa berbohong, Mama tetap mencoba tersenyum.
“Ke Lembang, yuk,” katanya pelan.

“Di rumah aja kita tahun ini, Mah,” ujar Kak Mila. Anak pertama itu berusaha tegar menenangkan Mama, juga adik-adiknya.

Nala hanya tahu satu hal: hidupnya berubah.
Tanpa tahu harus bagaimana, ia memilih diam.

Hanya beda satu tahun, tapi rasanya seperti melompat ke jurang. Kak Mila jauh lebih dewasa. Lebih mengerti.
Sementara Nala masih anak-anak, bingung, marah, dan kehilangan arah.

Malam itu, Nala membuka buku hariannya. Sampul bukunya bergambar pelangi, berbeda dengan suasana hatinya yang gelap gulita.

Air mata menetes, membasahi halaman. Dengan tangan gemetar dan napas terputus-putus, ia menulis:

Ayah penipu!!!
Nala nggak akan percaya sama Ayah lagi!!!
Ayah janji kita akan selalu sama-sama dan liburan setiap tahun, tapi sekarang Ayah di mana???

.
.
.

Keesekokan harinya, Nala meminta dihantar sendirian ke makam. Ia naik motor bersama satpam kompleks.

Langit sore agak mendung, tapi matahari masih sempat menyelinap di sela-sela daun kamboja.
Nala berjalan pelan di antara batu nisan, hingga langkahnya berhenti di satu nama yang begitu ia kenal:

H. Firman Rizaldi
2 Januari 1965 – 3 Juni 2003

Setiap kali membaca tulisan itu, dada Nala terasa sesak.
Kenyataan yang selama ini ia tolak kembali menatapnya lurus-lurus.

Ayah telah tiada.

Tak ada lagi tamasya mendadak ke minimarket sebelum field trip.
Tak ada lagi Ayah yang diam-diam membelikan es krim walau Mama melarang.
Tak ada lagi suara klakson mobil di pagi hari.

Namun Nala menolak semuanya.

Ia menciptakan Ayah di kepalanya, di setiap adegan, di setiap kesepian.
Ayah yang masih tersenyum.
Ayah yang menyiram tanaman.
Ayah yang memperbaiki mobil.

Padahal semua itu telah berhenti.

Kalimat yang terus keluar dari mulutnya, berulang seperti doa yang patah:

“Maafin Nala, Ayah…
Maafin Nala…”

Di depan nisan itu, Nala duduk. Tangannya menyentuh tanah yang lembap, dingin, tapi terasa akrab. Jemarinya bergetar pelan.

Air mata jatuh.
Lalu raungan itu pecah dari dadanya.

Raungan yang selalu datang setiap kali Nala bersama Ayah.

“Ayah… Nala sayang Ayah.”

Angin sore berhembus lembut, menyentuh wajahnya seperti belaian, seolah Ayah benar-benar ada di sana, mendengarkan, dan menjawab dalam diam.

Other Stories
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Desa Di Ujung Senja

Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Download Titik & Koma