Nala

Reads
77
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Tawa Sesak Di Pantai Jimbaran

Nala, Samuel, dan Tiwi berjalan tanpa alas kaki menyusuri Pantai Jimbaran. Kemeja putih, blazer hitam, dan celana bahan hitam masih melekat di tubuh mereka, seragam lawyer yang belum sempat dilepas.
Nala dan Tiwi menenteng sepatu heels hitam setinggi tiga sentimeter, sementara Samuel membawa sepatu pantofel hitamnya, lengkap dengan sepasang kaus kaki bergambar alpukat yang tersembunyi di dalamnya.

Pantai Jimbaran sore itu cukup ramai. Terlihat beberapa keluarga yang tengah menyantap seafood, tawa mereka pecah dan menyebar bersama aroma ikan bakar dan sambal matah.
Nala, Samuel, dan Tiwi berjalan pelan, menikmati pasir dingin di telapak kaki dan bau makanan yang sebentar lagi akan mereka santap setelah puas berjalan tanpa tujuan.

Konferensi law firm di Bali memang terdengar keren. Tapi kenyataannya, tiga hari terakhir terasa sangat menguras tenaga. Diskusi panjang soal inovasi, sustainability, dan AI membuat kepala penuh dan hati lelah.
Sekarang, yang mereka butuhkan hanya satu: decompress. Menyatu dengan alam, sesuatu yang selama tiga hari ini terasa dekat di mata, tapi jauh di hati. Pantainya ada di depan mereka, namun baru hari ini terasa nyata.

“Mau duduk sebentar sebelum makan?” tanya Nala.

“Boleh,” jawab Samuel dan Tiwi hampir bersamaan.

Mereka bertiga duduk di pasir, memandang laut yang ombaknya hari itu cukup kuat. Angin sore bertiup kencang, mengacak rambut mereka ke segala arah, kadang menutupi mata. Tak ada percakapan. Mereka diam, seolah sedang mengontemplasikan keputusan-keputusan hidup yang membawa mereka ke titik ini.

Dua puluh menit berlalu.

Hingga akhirnya, suara perut yang protes memecah keheningan.

Mereka tertawa. Ternyata perut tidak bisa diajak kompromi dengan suasana mellow yang terlalu lama.

Mereka berdiri, menepuk-nepuk celana yang penuh pasir, lalu berjalan menuju restoran seafood di pinggir pantai. Senyum mereka lebar, seperti Buto Ijo yang akhirnya bertemu dan siap menyantap Timun Mas.

Nasi putih tiga porsi.
Cumi goreng tepung.
Gurame asam manis.
Udang bakar.
Tumis kangkung.
Sambal matah.

Tak butuh aba-aba, mereka langsung menyantap semuanya.

Di tengah makan, terdengar tawa dari meja sebelah. Sebuah keluarga: ayah, ibu, dan tiga anak perempuan. Mereka tertawa karena salah satu anak perempuannya berulah, cumi goreng tepung diselipkan di jemari, sambil berkata lantang,
“Will you marry me?”

Nala ikut tersenyum kecil.

Keluarga bahagia.

“They are blessed,” gumam Nala pelan.

Momen itu membawa pikirannya melayang. Ia teringat keluarganya sendiri, yang bentuknya persis sama. Ayah, ibu, dan tiga anak perempuan. Semua perempuan. Ayah selalu jadi yang paling ganteng seisi rumah.

Bedanya, Nala kecil tidak pernah benar-benar bisa menikmati makan di luar seperti ini, tidak bisa menikmati liburan seperti keluarga itu.
Liburan sekolah justru menjadi momen yang paling ia hindari.
Momen ketika segalanya terasa sunyi.


Other Stories
First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Download Titik & Koma