Mengalir
Mengingat kejadian itu, Nala membuka ponselnya dan mengetik cepat.
Peh lagi di mana?
Balasan datang dengan cepat.
Lagi di rumah gue.
Gue harus tanda tangan banyak banget. Kayak bos aja gue.
Disusul foto tumpukan buku novel barunya yang siap ditandatangani.
Nala tersenyum dan membalas.
Hahaha, good luck! Gue harus dapet satu yang ada tanda tangan lo ya.
Nala memperbesar foto itu, menggeser layar perlahan. Judulnya samar, tapi cukup terbaca.
Harusnya Itu Milikku?
Nala mengernyit sebentar. Ada rasa asing yang lewat, tipis, lalu hilang.
Ia meletakkan ponsel.
Pertemanan dengan Ipeh, dengan segala candanya, dukanya, jarak yang kadang hadir tanpa aba-aba, adalah sesuatu yang Nala simpan baik-baik. Tidak selalu dekat. Tidak selalu searah. Tapi selalu ada.
.
.
.
Kini, Singapura bukan lagi sesuatu yang terasa jauh. Bukan lagi mimpi yang harus didoakan berulang-ulang.
Nala bahkan bisa ke Singapura hanya untuk rapat sehari, pulang-pergi seperti Jakarta–Bogor. Sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan.
Ia bisa mengajak Mama pergi ke mana pun yang Mama mau.
Kak Mila, dengan jas dokternya, kini sedang terbang ke Vienna untuk konferensi.
Gala sedang menempuh pendidikan master di Inggris.
Masing-masing berjalan di jalannya sendiri. Dengan ritmenya sendiri.
Ternyata hidup punya caranya sendiri untuk mengalir.
Kadang berbelok tanpa izin.
Kadang terasa kejam.
Tapi di waktu yang tak terduga, hidup juga bisa membawa dirinya sampai sejauh ini.
Peh lagi di mana?
Balasan datang dengan cepat.
Lagi di rumah gue.
Gue harus tanda tangan banyak banget. Kayak bos aja gue.
Disusul foto tumpukan buku novel barunya yang siap ditandatangani.
Nala tersenyum dan membalas.
Hahaha, good luck! Gue harus dapet satu yang ada tanda tangan lo ya.
Nala memperbesar foto itu, menggeser layar perlahan. Judulnya samar, tapi cukup terbaca.
Harusnya Itu Milikku?
Nala mengernyit sebentar. Ada rasa asing yang lewat, tipis, lalu hilang.
Ia meletakkan ponsel.
Pertemanan dengan Ipeh, dengan segala candanya, dukanya, jarak yang kadang hadir tanpa aba-aba, adalah sesuatu yang Nala simpan baik-baik. Tidak selalu dekat. Tidak selalu searah. Tapi selalu ada.
.
.
.
Kini, Singapura bukan lagi sesuatu yang terasa jauh. Bukan lagi mimpi yang harus didoakan berulang-ulang.
Nala bahkan bisa ke Singapura hanya untuk rapat sehari, pulang-pergi seperti Jakarta–Bogor. Sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan.
Ia bisa mengajak Mama pergi ke mana pun yang Mama mau.
Kak Mila, dengan jas dokternya, kini sedang terbang ke Vienna untuk konferensi.
Gala sedang menempuh pendidikan master di Inggris.
Masing-masing berjalan di jalannya sendiri. Dengan ritmenya sendiri.
Ternyata hidup punya caranya sendiri untuk mengalir.
Kadang berbelok tanpa izin.
Kadang terasa kejam.
Tapi di waktu yang tak terduga, hidup juga bisa membawa dirinya sampai sejauh ini.
Other Stories
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...