Blurb
Nala sudah tiba di apartemennya.
Dengan tubuh lelah dan satu koper besar, ia mengambil sebuah paket yang tergeletak di depan pintu. Nala jarang membeli barang online. Ia membuka kotak itu dengan dahi berkerut.
Apa yang gue beli ya?
Ternyata sebuah buku.
Novel terbaru Ipeh.
Judulnya tercetak jelas:Harusnya Itu Milikku.
Nala tersenyum kecil. Ia membuka halaman pertama.
Di sana ada sebuah tanda tangan.
Dan sebuah pesan:
Gue nggak akan pernah lupa posisi gue yang lo ambil 19 tahun lalu.
Tunggu tanggal mainnya.
Nala terdiam.
Tangannya gemetar.
Buku itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Dengan tubuh lelah dan satu koper besar, ia mengambil sebuah paket yang tergeletak di depan pintu. Nala jarang membeli barang online. Ia membuka kotak itu dengan dahi berkerut.
Apa yang gue beli ya?
Ternyata sebuah buku.
Novel terbaru Ipeh.
Judulnya tercetak jelas:Harusnya Itu Milikku.
Nala tersenyum kecil. Ia membuka halaman pertama.
Di sana ada sebuah tanda tangan.
Dan sebuah pesan:
Gue nggak akan pernah lupa posisi gue yang lo ambil 19 tahun lalu.
Tunggu tanggal mainnya.
Nala terdiam.
Tangannya gemetar.
Buku itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Other Stories
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...