Jerat Yang Menyempit
Kehangatan dari lantai perpustakaan tua itu menguap seketika saat Kirana melangkah kembali ke dalam rumah mewahnya yang luas dan dingin. Aris sudah kembali lebih awal dari Singapura. Ia berdiri di ruang tengah, membelakangi pintu masuk, sambil menatap hujan yang masih membasahi kaca jendela besar. Aroma cerutu mahalnya memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang menyesakkan.
"Dari mana kau, Kirana? Taksi yang membawamu tidak terdaftar di log keamanan perumahan ini," suara Aris dingin, tanpa emosi, namun sarat dengan ancaman yang tersirat.
Kirana menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena sisa gairah bersama Rhea. "Aku hanya butuh udara segar, Aris. Perpustakaan kota membantu menenangkan pikiranku."
Aris berbalik. Matanya yang tajam menyapu penampilan Kirana,rambut yang sedikit berantakan dan mantel yang masih lembap. Ia mendekat, mencengkeram rahang Kirana dengan kekuatan yang sedikit berlebih, memaksa istrinya menatapnya. "Ingat posisimu. Kau adalah istri seorang Aris Pramoedya. Jangan biarkan kakimu melangkah ke tempat yang tidak seharusnya."
Malam itu, Aris menuntut haknya dengan lebih kasar dari biasanya. Ia seolah ingin menegaskan kepemilikannya, menandai wilayahnya. Kirana hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhnya menjadi wadah kosong sementara jiwanya melayang kembali ke pelukan Rhea. Siksaan emosional ini mulai menggerogoti kewarasannya.
Di sisi lain kota, Rhea menghadapi nerakanya sendiri. Di ruang makan keluarga besar Baskara, tekanan itu datang seperti palu gada yang menghantam kepala.
"Sudah dua bulan, Rhea. Ibu mengharapkan kabar baik dari rahimmu," ujar ibu mertuanya sambil menyesap teh dengan anggun namun mematikan. "Keluarga ini butuh penerus. Baskara butuh seorang putra."
Baskara hanya diam, menatap piringnya dengan patuh. Baginya, keinginan ibunya adalah perintah. Malam itu, di dalam kamar yang berbau dupa, Baskara melakukan pendekatannya dengan lebih intens. Ia meminum jamu kuat yang diberikan ibunya, dan energinya yang kaku kini berubah menjadi obsesi yang gelap untuk membuahi.
"Aku harus memilikimu seutuhnya malam ini, Rhea. Kita harus memberikan apa yang mereka minta," gumam Baskara.
Sentuhan Baskara terasa begitu mekanis dan menjijikkan bagi Rhea. Namun, di tengah keputusasaan itu, Rhea menggunakan amarahnya sebagai bahan bakar. Ia membiarkan Baskara melakukan tugasnya, namun di dalam pikirannya, ia sedang menyusun rencana pelarian. Gairah yang muncul dari rasa benci dan kerinduan pada Kirana membuat Rhea bertindak liar. Ia mencakar punggung Baskara, bukan karena nikmat, tapi karena ia ingin melukai dunia yang menjepitnya.
Penyatuan itu terasa sangat erotis dalam cara yang gelap dan menyakitkan. Rhea berteriak, namun di balik teriakannya, ia membayangkan itu adalah jeritan kebebasan bersama Kirana. Ia membiarkan Baskara mengira dia telah menang, padahal di dalam hatinya, Rhea sedang mengasah belati untuk memotong semua ikatan ini.
Setelah semuanya berakhir, Rhea menyelinap ke kamar mandi. Di bawah kucuran air shower yang panas, ia menggosok kulitnya hingga memerah, mencoba menghapus rasa Baskara dari tubuhnya. Ia mengambil ponsel rahasianya dan mengirim satu pesan singkat yang sarat akan api,
"Mereka mencoba mengurungku di dalam rahimku sendiri, Kirana. Tapi aku akan membakar rumah ini sebelum itu terjadi. Kita harus pergi. Sekarang atau tidak sama sekali."
Kirana, yang baru saja bebas dari cengkeraman Aris di ranjang sebelah, melihat layar ponselnya menyala di bawah bantal. Ia merasakan getaran yang sama. Ketakutan kini berubah menjadi keberanian yang nekad.
Other Stories
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...