Perjamuan Terakhir (sumpah Di Bawah Langit Malam)
Malam itu, udara di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah awan mendung ikut merasakan sesak di dada Kirana. Paviliun belakang rumah keluarga Kirana yang rimbun menjadi saksi bisu hitungan mundur menuju kiamat pribadinya. Esok, ia akan mengenakan gaun putih yang indah, berjalan di altar, dan mengucapkan janji suci kepada Aris,pria yang hanya mencintai angka-angka di neraca perdagangannya, bukan jiwanya.
"Kau tidak harus melakukannya, Kirana," suara itu muncul dari balik bayang-bayang pohon kamboja.
Rhea melangkah maju, wajahnya yang biasanya ceria kini layu oleh duka. Kirana berbalik, menatap satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya, yang tahu setiap inci rahasianya, setiap bekas luka, dan setiap gairah yang ia sembunyikan.
"Jika aku lari, orang tuaku akan hancur, Rhea. Bisnis mereka bergantung pada pernikahan ini," bisik Kirana, suaranya parau.
Rhea mendekat hingga jarak di antara mereka hilang. Aroma parfum sandalwood Rhea yang maskulin namun lembut menyapa indra penciuman Kirana, memicu reaksi berantai yang sudah sangat familiar di tubuhnya. Rhea meraih tangan Kirana yang gemetar, menelusuri garis telapak tangannya seolah sedang membaca masa depan yang suram.
"Maka malam ini," Rhea berbisik tepat di telinga Kirana, napasnya yang hangat membuat bulu kuduk Kirana merinding, "kau adalah milikku. Seutuhnya. Jangan biarkan bayangan pria itu masuk ke ruangan ini."
Kirana tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang lambat namun pasti, ia meraih pita sutra di pinggang gaun tidurnya. Kain tipis berwarna salem itu meluncur jatuh tanpa suara ke atas karpet bulu, mengekspos kulit Kirana yang putih porselen di bawah sinar rembulan yang menyelinap dari jendela kaca besar.
Rhea menarik napas tajam. Meskipun mereka telah melakukan ini berkali-kali sejak remaja, kecantikan Kirana selalu berhasil melumpuhkan logikanya. Rhea melucuti pakaiannya sendiri dengan tergesa-gesa, membuangnya ke sembarang arah. Ketika kulit mereka bersentuhan, rasanya seperti sirkuit pendek yang meledakkan segalanya.
Rhea mendorong Kirana lembut ke atas sofa beludru merah marun yang empuk. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kirana, memberikan ciuman-ciuman panas yang meninggalkan jejak kemerahan. Tangan Rhea yang terampil mulai menjelajahi lekuk tubuh Kirana, menelusuri tulang selangka, turun menuju dadanya yang berdenyut kencang karena adrenalin dan gairah yang memuncak.
"Rhea... kumohon..." desah Kirana, tangannya mencengkeram rambut Rhea, menariknya lebih dekat.
Rhea turun lebih rendah, lidahnya mengeksplorasi setiap inci kulit Kirana dengan rasa lapar yang liar. Ia ingin menghapus setiap pikiran tentang esok hari dari benak Kirana. Di bawah bimbingan Rhea, Kirana merasa tubuhnya seperti instrumen yang sedang dimainkan oleh tangan seorang maestro. Setiap sentuhan Rhea di bagian paling intimnya memicu gelombang elektrik yang membuat Kirana melengkungkan tubuhnya, desahan-desahannya memenuhi paviliun yang sunyi itu.
Rhea mengangkat wajahnya sebentar, menatap mata Kirana yang sayu karena kenikmatan. "Katakan kau hanya milikku," perintah Rhea dengan nada posesif yang rendah.
"Aku milikmu... selamanya hanya milikmu, Rhea..." rintih Kirana saat Rhea kembali membenamkan dirinya dalam penyatuan yang paling jujur.
Gairah mereka malam itu bukan sekadar nafsu, itu adalah pemberontakan. Di atas sofa beludru itu, mereka saling memiliki dengan intensitas yang hampir merusak. Rhea menggunakan setiap kemahirannya untuk memastikan Kirana mencapai puncak berkali-kali, seolah-olah dengan memberikan ekstasi yang luar biasa, ia bisa mengikat jiwa Kirana agar tidak pernah benar-benar pergi.
Saat puncak itu akhirnya datang, Kirana menjeritkan nama Rhea, mencengkeram bahu sahabatnya itu hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas. Mereka terbaring dalam keheningan yang panjang, hanya suara napas yang memburu yang terdengar. Keringat mereka bercampur, aroma mereka menyatu,sebuah perjamuan terakhir yang pahit namun manis.
Kirana menatap langit-langit, menyadari bahwa mulai besok, ia harus berpura-pura. Namun, jauh di dalam dirinya, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Aris atau siapa pun, sumpah yang ia ucapkan di bawah langit malam ini akan tetap hidup. Ia adalah milik Rhea, dan tidak ada pernikahan atau hukum manusia yang bisa mengubah kenyataan erotis itu.
Other Stories
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...