Rahasia Di Balik Rak Tua
Seminggu setelah malam yang menyiksa itu, kesempatan itu akhirnya datang. Aris, suami Kirana, sedang berada di Singapura untuk penandatanganan kontrak besar, sementara Baskara harus menghadiri pertemuan keluarga bangsawan di luar kota. Jakarta sedang diguyur hujan badai saat sebuah taksi berhenti di depan sebuah bangunan kolonial tua yang kini berfungsi sebagai perpustakaan pribadi milik seorang kolektor kuno,tempat yang jarang dikunjungi, sunyi, dan penuh dengan sudut-sudut gelap yang tak terjangkau mata publik.
Kirana melangkah masuk dengan napas memburu, jubah hitamnya basah kuyup di bagian bahu. Begitu pintu kayu berat itu tertutup di belakangnya, aroma kertas tua, debu, dan kayu jati menyambutnya. Namun, ada satu aroma lain yang ia cari, aroma sandalwood yang tajam.
Di ujung lorong, di antara rak-rak buku setinggi langit-langit yang dipenuhi naskah kuno, Rhea berdiri. Ia mengenakan gaun sutra tipis di balik mantel panjangnya. Mata mereka bertemu, dan dalam detik itu, semua drama pernikahan, semua sentuhan pria yang memuakkan, dan semua sandiwara yang mereka perankan luruh begitu saja.
"Kirana..." suara Rhea pecah.
Kirana berlari ke arahnya, dan mereka bertabrakan dalam sebuah pelukan yang begitu erat hingga seolah ingin menyatukan kembali tulang-tulang yang patah. Rhea mencakup wajah Kirana dengan kedua tangannya, ibu jarinya menelusuri bibir Kirana yang gemetar. Tanpa kata-kata lagi, mereka berciuman. Itu bukan ciuman yang lembut, itu adalah ciuman yang haus, penuh dengan rasa lapar yang buas dan dendam terhadap takdir.
Rhea mendorong Kirana dengan lembut namun tegas hingga punggung Kirana menghantam rak buku yang dingin. Suara buku-buku yang bergeser menjadi musik latar bagi gairah mereka yang meledak. Rhea tidak bisa lagi menunggu, tangannya merayap masuk ke balik mantel Kirana, menyentuh kulit hangat yang selama ini hanya ia bayangkan dalam fantasi malamnya.
"Aku merindukanmu hingga rasanya seperti mau gila," bisik Rhea di sela-sela ciuman panasnya di leher Kirana.
Kirana mendesah keras, tangannya mencengkeram bahu Rhea, mencari pegangan saat lututnya mulai terasa lemas. "Jangan berhenti, Rhea... tolong, hapus semua jejaknya dari tubuhku."
Rhea melucuti mantel Kirana, membiarkannya jatuh ke lantai yang berdebu. Di bawah cahaya remang-remang lampu dinding yang berkedip, pemandangan itu terasa begitu terlarang sekaligus indah. Rhea berlutut di depan Kirana, di celah sempit antara dua rak besar yang menjulang. Ia menatap lekat mata Kirana sebelum membenamkan wajahnya, memberikan pemujaan yang selama ini tertunda.
Ketegangan erotis di ruang sunyi itu memuncak. Kirana mendongak, jemarinya meremas jilid-jilid buku tua di belakangnya hingga buku-buku itu berjatuhan. Setiap sentuhan lidah Rhea terasa seperti api yang membersihkan jiwa Kirana dari memori dingin tentang Aris. Sensasi itu begitu nyata, begitu intens, hingga Kirana harus menggigit bibirnya agar jeritan kenikmatannya tidak menggema ke seluruh gedung.
Rhea bangkit, tubuhnya yang juga sudah polos kini menempel erat pada Kirana. Kulit ke kulit, panas ke panas. Mereka bergerak dalam ritme yang liar di atas tumpukan buku yang berserakan di lantai. Di tengah aroma kertas lapuk dan kelembapan hujan dari luar, mereka menyatu dalam sebuah pemberontakan fisik yang paling jujur.
Penyatuan mereka malam itu adalah sebuah ledakan emosional. Rhea membenamkan wajahnya di dada Kirana, menghirup aroma tubuh sahabat sekaligus kekasihnya itu sedalam mungkin. Saat mereka mencapai puncak bersama, dunia di luar sana,suami-suami mereka, tekanan keluarga, dan norma sosial,semuanya lenyap. Hanya ada mereka berdua, dua jiwa yang hancur namun menemukan keutuhan dalam dosa yang paling indah.
Setelah semuanya mereda, mereka tetap berbaring di lantai perpustakaan yang dingin, saling memeluk dalam keheningan yang menyesakkan. Mereka tahu, saat mereka keluar dari pintu itu, mereka harus kembali menjadi istri yang patuh. Namun, di antara rak-rak tua ini, mereka telah meninggalkan tanda, sebuah rahasia yang terkunci rapat di antara ribuan lembar kertas, sebuah bukti bahwa cinta mereka adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli atau dijinakkan oleh siapa pun.
"Kita harus pergi sebelum penjaga kembali," bisik Rhea, meski tangannya enggan melepaskan pinggang Kirana.
Kirana mengangguk, namun ia mencium kening Rhea dengan lembut. "Malam ini hanyalah awal, Rhea. Aku tidak akan membiarkan mereka memilikiku selamanya."
Other Stories
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...