Cinta Di Ibukota

Reads
183
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Pelajaran Di Kamar Gelap

Kantor agensi sudah sepi sejak pukul tujuh malam, namun di sudut lantai dua, lampu merah remang-remang masih menyala di atas pintu ruang gelap pencucian foto. Udara di dalam ruangan sempit itu terasa padat, lembap, dan dipenuhi aroma asam dari cairan kimia pengembang film yang khas.

Sari berdiri di depan meja panjang, matanya berusaha menyesuaikan diri dengan pencahayaan merah yang membuat segalanya tampak seperti bayangan yang bergerak dalam bara api. Di sampingnya, Gerry berdiri sangat dekat,begitu dekat hingga Sari bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu.

"Mencetak foto itu soal rasa, Sari," bisik Gerry. Suaranya rendah, bergema di dinding ruangan yang kedap suara. "Kau harus tahu kapan harus merendamnya, dan kapan harus menariknya keluar sebelum gambarnya terbakar."

Gerry berdiri di belakang Sari, melingkarkan lengannya untuk memandu tangan Sari di atas bak berisi cairan kimia. Namun, perhatian Gerry sama sekali tidak tertuju pada kertas film di sana. Tangannya yang besar mulai merayap naik dari pergelangan tangan Sari, menyelinap masuk ke balik lengan blusnya yang longgar.

"Gerry... kita harus menyelesaikan pekerjaan ini," desah Sari, meskipun tubuhnya justru bersandar pada dada Gerry yang bidang.

"Pekerjaan ini bisa menunggu. Tapi rasa lapar ini tidak," balas Gerry. Ia memutar tubuh Sari hingga mereka berhadapan. Dalam cahaya merah yang erotis itu, mata Gerry tampak lebih gelap, lebih lapar.

Gerry mengangkat Sari dengan satu gerakan halus, mendudukkannya di atas meja kerja yang dingin. Kontras antara permukaan meja yang keras dan tangan Gerry yang hangat di paha Sari membuat gadis itu tersentak. Gerry mulai melucuti pakaian Sari dengan ketenangan seorang profesional yang sedang mengupas mahakarya. Satu per satu, kancing blus Sari terlepas, memperlihatkan dadanya yang naik-turun dengan ritme yang tidak beraturan.

"Di desamu, mereka mungkin menyebut ini dosa," bisik Gerry sambil membenamkan wajahnya di antara belahan dada Sari, menghirup aroma melati yang kini bercampur dengan keringat tipis yang sensual. "Tapi di sini, di ruang ini, ini adalah seni. Dan kau adalah kanvas paling sempurna yang pernah kusentuh."

Lidah Gerry mulai menjelajahi setiap inci kulit Sari yang sensitif, memberikan sensasi basah yang kontras dengan udara ruangan yang pengap. Sari mencengkeram bahu Gerry, kuku-kukunya tanpa sadar menekan kulit pria itu saat Gerry menemukan titik-titik lemah di leher dan belakang telinganya.

Gerry melepaskan ikat pinggangnya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap sibuk mengeksplorasi wilayah intim Sari yang sudah mulai merespons dengan kelembapan yang alami. Sari merasakan dunia di sekitarnya seolah mencair. Prinsip kesucian yang ia banggakan selama puluhan tahun kini terasa seperti beban yang ingin ia buang jauh-jauh. Di bawah cahaya merah yang menyamarkan rasa malunya, Sari membiarkan dirinya menjadi liar.

Ia menarik Gerry lebih dekat, kaki jenjangnya melilit pinggang pria itu, menariknya masuk ke dalam penyatuan yang panas dan mendalam di atas meja kerja itu. Setiap gerakan Gerry terasa seperti pelajaran baru bagi saraf-saraf Sari yang selama ini tertidur. Suara napas yang memburu dan desahan yang pecah memenuhi ruangan yang sunyi itu, beradu dengan suara tetesan air dari keran di sudut ruangan.

Dalam kegelapan yang kemerahan itu, Sari mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya,sebuah ledakan rasa yang membuatnya merasa hancur sekaligus utuh di saat yang sama. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Gerry, terengah-engah, menyadari bahwa ia bukan lagi gadis melati yang sama yang turun di Stasiun Gambir minggu lalu.

Gerry mengecup keningnya yang basah, senyum kemenangannya tersembunyi dalam remang-remang. "Selamat datang di dunia nyata, Sari. Ini baru pelajaran pertama."


Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Download Titik & Koma