Gadis Melati Di Beton Jakarta
Stasiun Gambir pukul lima sore adalah sebuah kuali raksasa yang mendidih. Sari berdiri di peron, mencengkeram erat tali koper tuanya yang berwarna cokelat kusam. Udara Jakarta yang lembap dan berbau logam menyengat indra penciumannya, sangat kontras dengan aroma tanah basah dan pucuk teh di desanya, sebuah dusun kecil di lereng gunung yang selalu tenang.
Di dalam tas kecilnya, terselip sebuah doa yang ditulis ibunya di atas secarik kertas, serta sebuah prinsip yang ditanamkan sejak ia kecil, “Kesucianmu adalah mahkotamu, Sari. Jangan biarkan tangan yang tak berhak menyentuhnya.”
“Sari? Sari Ambarwati?”
Suara bariton yang berat namun halus memecah lamunannya. Sari menoleh dan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Seorang pria berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan gaya yang sangat santai namun memancarkan aura otoritas. Pria itu mengenakan kemeja linen hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang berwarna kecokelatan. Matanya tajam, tersembunyi di balik lensa kacamata hitam yang kemudian ia turunkan ke ujung hidung.
“Gerry. Fotografer agensi. Bos bilang aku harus menjemput asisten baru yang 'masih hijau',” ujar pria itu sambil mengulas senyum miring yang entah mengapa membuat bulu kuduk Sari meremang.
“S-saya Sari, Pak,” jawab Sari terbata, mencoba menundukkan pandangannya sesuai sopan santun desanya.
Gerry terkekeh, suara rendahnya terdengar seperti dengkur kucing hutan. “Jangan panggil 'Pak'. Di Jakarta, itu membuatku merasa seperti kakek-kakek. Panggil Gerry saja.”
Gerry melangkah maju, mengambil alih koper Sari. Saat tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja di gagang koper, Sari merasakan sengatan listrik yang aneh. Jemari Gerry kasar namun hangat, sebuah kontras yang membuat kulit Sari yang sensitif terasa panas.
Perjalanan menuju kantor agensi di kawasan Jakarta Selatan terasa seperti perjalanan ke dimensi lain bagi Sari. Di dalam mobil SUV mewah milik Gerry yang beraroma kayu cendana dan tembakau mahal, Sari hanya bisa terpaku melihat gedung-gedung pencakar langit yang seolah ingin menelannya.
“Kau terlihat tegang sekali, Gadis Desa,” Gerry memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan macet. “Apa di desamu tidak ada lampu neon?”
“Di sana lebih tenang, Gerry. Langitnya juga terlihat,” jawab Sari pelan, jarinya meremas ujung rok batiknya yang panjang.
Gerry meliriknya sesaat. Matanya menyapu sosok Sari,dari rambut hitam panjang yang dikepang rapi, wajah polos tanpa riasan, hingga lekuk tubuh yang tersembunyi di balik blus katun yang tertutup rapat. Ada sesuatu yang sangat "murni" pada diri Sari, sesuatu yang memicu insting predator di dalam diri Gerry untuk segera "memperkenalkannya" pada dunia nyata.
“Jakarta punya langitnya sendiri, Sari. Tapi kau harus belajar cara menatapnya tanpa merasa pusing,” Gerry menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah. Ia berbalik, tubuhnya condong ke arah Sari hingga aroma maskulinnya yang menggoda memenuhi ruang napas gadis itu.
Gerry mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dengan berani menyelipkan sehelai rambut Sari yang keluar dari kepangan ke belakang telinga. Sentuhan itu lambat, sangat sengaja, dan terasa sangat intim. Ujung jari Gerry sempat membelai cuping telinga Sari, membuat napas gadis itu tercekat.
“Kau terlalu tertutup, Sari,” bisik Gerry, suaranya kini lebih rendah, lebih serak. “Jakarta akan menelanmu bulat-bulat jika kau terus menjaga jarak seperti ini. Terkadang, kau harus membiarkan dirimu 'terbakar' sedikit agar bisa bertahan hidup.”
Sari merasakan wajahnya memanas. Jantungnya berpacu liar, berontak melawan logika yang meneriakkan peringatan. Mata Gerry seolah sedang melucuti setiap lapis pertahanannya, menembus langsung ke dalam rasa ingin tahu yang selama ini ia tekan.
“A-aku... aku hanya ingin bekerja dengan baik,” bisik Sari, mencoba menarik diri namun matanya tetap terkunci pada tatapan Gerry yang menghipnotis.
Gerry tersenyum, kali ini lebih lembut namun tetap menyimpan misteri. “Bekerja denganku berarti belajar banyak hal, Sari. Bukan hanya soal komposisi foto atau memilih kain. Tapi soal bagaimana merasakan setiap detak jantung di kota ini.”
Lampu hijau menyala. Gerry kembali memegang kemudi, meninggalkan Sari yang termenung dengan perasaan ganjil di dadanya. Di antara hiruk-pikuk beton Jakarta, Sari menyadari satu hal, mahkota yang ia jaga dengan sangat hati-hati itu kini sedang berada di bawah bayang-bayang pria yang tidak mengenal kata "menunggu".
Other Stories
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...