Cinta Di Ibukota

Reads
43
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Adrenalin Di Balik Tirai Velvet

Jakarta di malam hari adalah taman bermain bagi mereka yang berani membuang rasa malu. Sari berdiri di depan cermin apartemen Gerry, menatap pantulan dirinya yang hampir tidak ia kenali. Ia mengenakan slip dress satin berwarna merah marun dengan potongan punggung terbuka hingga ke pinggang. Kainnya begitu tipis, seolah-olah hanya menjadi selaput tipis yang memisahkan kulitnya dengan udara kota yang liar.

Gerry berjalan mendekat dari belakang, mengenakan jas hitam tanpa dasi. Ia melingkarkan tangannya di perut Sari, membiarkan jemarinya bermain di atas kain sutra yang halus. "Kau sudah mulai terlihat seperti milik kota ini, Sari," bisiknya sambil mencium bahu Sari yang telanjang.

"Apakah ini yang disebut kebebasan, Gerry? Atau aku hanya sedang menyamar?" tanya Sari, menatap matanya sendiri di cermin yang kini tampak lebih sayu dan penuh rahasia.

"Kebebasan adalah saat kau tidak lagi bertanya 'apakah ini benar', tapi 'apakah ini nikmat'," jawab Gerry retoris.

Malam itu, Gerry membawanya ke sebuah kelab privat eksklusif di kawasan SCBD. Tempat itu gelap, beraroma tembakau mahal dan parfum desainer, dengan musik deep house yang dentumannya terasa hingga ke tulang. Mereka duduk di sebuah booth beludru di sudut yang paling remang-remang, tersembunyi oleh tirai velvet hitam yang menjuntai.

Gerry memesan botol sampanye termahal, namun tatapannya tetap terkunci pada Sari. Di bawah meja yang tertutup taplak beludru panjang, Gerry memulai permainannya. Tangan pria itu merayap naik, melewati lutut Sari, terus ke atas hingga menyentuh paha bagian dalamnya yang sensitif. Sari tersentak, hampir menumpahkan gelasnya.

"Gerry... jangan di sini. Banyak orang," bisik Sari, napasnya mulai memburu saat jemari Gerry mulai bermain dengan nakal di balik pakaian dalam tipisnya.

"Justru itu seninya, Sari. Merasakan ledakan di tengah keramaian tanpa ada yang tahu," geram Gerry. Ia menarik Sari untuk duduk di pangkuannya, tersembunyi di balik bayangan tirai. Di sana, mereka melakukan ciuman yang liar dan mendalam. Tangan Gerry bergerak dengan kemahiran yang menyiksa, menciptakan gelombang elektrik yang membuat Sari hampir kehilangan kesadaran.

Namun, di tengah kemelut gairah itu, sebuah suara memecah suasana.

"Gerry? Jadi ini mainan barumu?"

Seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat provokatif berdiri di depan meja mereka, menyibakkan sedikit tirai velvet tersebut. Namanya adalah Valen, mantan kekasih Gerry yang juga seorang model terkenal. Mata Valen menatap Sari dengan pandangan merendahkan, dari ujung rambut hingga kaki.

"Aku dengar kau membawa gadis desa ke kantor. Aku tidak tahu kau sekarang punya selera pada 'barang antik' yang mencoba terlihat modern," sindir Valen tajam.

Sari seketika membeku. Rasa malu yang luar biasa menghantamnya. Ia mencoba turun dari pangkuan Gerry dan merapikan gaunnya yang sudah berantakan. Namun, Gerry justru menahan pinggang Sari dengan erat, tidak membiarkannya pergi.

"Dia bukan barang antik, Valen. Dia adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau pahami, kemurnian yang sedang berevolusi," jawab Gerry dingin, tanpa melepaskan tangannya dari paha Sari di bawah meja.

"Kemurnian?" Valen tertawa sinis. "Kemurnian yang kau tiduri di ruang gelap kantor? Jangan bercanda, Gerry. Dia hanya akan berakhir seperti kami semua,bekas yang kau buang saat kau bosan."

Kata-kata Valen seperti sembilu yang menyayat hati Sari. Ia teringat pada doa ibunya, pada prinsip kesetiaan di desanya. Apakah ia benar-benar hanya sebuah proyek bagi Gerry? Sebuah eksperimen untuk melihat seberapa cepat seorang gadis suci bisa hancur?

Valen pergi setelah memberikan tatapan benci, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Sari mencoba berdiri, matanya berkaca-kaca. "Apa yang dia katakan benar, Gerry? Aku hanya... eksperimen bagimu?"

Gerry menarik napas panjang, ia berdiri dan memojokkan Sari ke dinding booth. Matanya menatap Sari dengan intensitas yang menakutkan. "Kau ingin tahu jawabannya? Kau ingin tahu apakah ini nyata atau hanya permainan?"

Tanpa menunggu jawaban, Gerry mencium Sari dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan kemarahan dan gairah yang meledak. Ia mengangkat kaki Sari, melilitkannya di pinggangnya, dan melakukan penyatuan yang sangat intens di balik tirai itu. Kali ini tidak ada kelembutan. Ini adalah pembuktian kepemilikan.

Sari menangis di tengah desahannya. Ia membenci Gerry karena telah meruntuhkan dunianya, namun ia juga membenci dirinya sendiri karena ia begitu menginginkan sentuhan pria itu. Di bawah naungan tirai beludru, di tengah suara musik yang memekakkan telinga, Sari merasakan puncak kenikmatan yang bercampur dengan rasa sakit hati.

Penyatuan itu terasa sangat erotis namun penuh konflik. Setiap gerakan Gerry seolah berkata bahwa Sari adalah miliknya, namun hati Sari berteriak bahwa ia telah kehilangan dirinya sendiri. Malam itu, di balik kemewahan Jakarta, Sari menyadari bahwa ia telah terjun terlalu dalam ke dalam api, dan ia tidak tahu apakah ia akan keluar sebagai emas atau hanya menjadi abu


Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Download Titik & Koma