Kehancuran Istana Emas
Dinding Hotel De Rio bergetar hebat. Ledakan dari tangki gas di dapur utama mengirimkan gelombang kejut yang meretakkan pilar-pilar marmer di lobi. Asap hitam mulai merayap di langit-langit berukir emas, mengubah suasana mewah itu menjadi neraka yang mencekam.
Bianca dan Dante berlari melintasi aula utama. Gaun merah Bianca kini telah robek hingga ke paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang lincah menghindari puing-puing kaca kristal yang jatuh dari lampu gantung. Di tangannya, Glock 19 miliknya masih terasa panas, siap menyalak pada sisa-sisa pengawal setia De Rio yang mencoba menghalangi jalan keluar mereka.
"Pintu keluar utama sudah dikepung pasukan khusus!" teriak Dante di tengah kebisingan sirine kebakaran. "Kita harus lewat jalur evakuasi helipad, atau kita akan berakhir di sel yang sama dengan De Rio!"
"Aku punya ide yang lebih baik," sahut Bianca, matanya berkilat penuh dendam. "Tapi kita harus lewat lantai dasar, menembus gudang anggur."
Mereka berbelok tajam, meluncur di bawah pintu gulung yang mulai tertutup otomatis. Di gudang anggur yang dingin, botol-botol seharga ribuan dolar pecah berserakan, membasahi lantai dengan cairan merah yang menyerupai darah. Di sana, mereka dihadang oleh Victor, tangan kanan De Rio yang paling kejam. Victor memegang senapan serbu, wajahnya cacat oleh pecahan kaca.
"Kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup, pengkhianat!" teriak Victor.
Pertempuran terakhir meletus. Bianca bergerak dengan presisi yang sensual namun mematikan. Ia menggunakan rak-rak botol sebagai perlindungan, berguling di lantai yang licin, dan melepaskan tembakan yang menghancurkan lampu-lampu ruangan. Dalam kegelapan total, Bianca adalah bayangan. Ia muncul di belakang Victor, menjerat leher pria itu dengan kawat baja tipis yang ia sembunyikan di gelang tangannya.
Dante melompat dari atas meja kayu ek, menghujamkan lututnya ke dada Victor sementara Bianca menarik kawat itu semakin kencang. Dalam tarikan napas terakhir yang penuh kemarahan, Victor tumbang.
Bianca berdiri terengah, keringat dan sisa air sprinkler membuat kulitnya berkilau di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Dante mendekat, menarik Bianca ke dalam pelukan singkat yang kasar. Ia bisa merasakan detak jantung Bianca yang liar di balik kain sutra merah yang tipis.
"Kau siap menghancurkan panggung ini?" tanya Dante, tangannya memegang pemicu peledak yang terhubung ke server data utama.
Bianca mengambil pemicu itu dari tangan Dante. "Biar aku yang melakukannya. Ini adalah kebebasanku."
KLIK.
Satu tekanan jempol, dan pusat data De Rio yang berisi rekaman kotor para penguasa dunia meledak dalam api digital dan fisik. Gelombang ledakan itu mendorong mereka keluar melalui pintu servis tepat saat bagian belakang hotel itu runtuh.
Other Stories
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...