Permainan Kendali
Ruang latihan di lantai bawah Obsidian adalah sebuah aula tersembunyi dengan dinding yang seluruhnya dilapisi cermin kristal hitam. Ruangan itu tidak memiliki jendela, menciptakan ilusi bahwa dunia luar tidak lagi ada. Di tengah ruangan, hanya ada satu lampu sorot yang menggantung rendah, menciptakan lingkaran cahaya keemasan di atas lantai kayu yang dipoles mengkilap.
Liora berdiri di tengah lingkaran cahaya itu. Gaun sutra hitam pemberian Rio melekat di tubuhnya seperti kulit kedua. Renda transparannya mengekspos lekuk pinggangnya, sementara belahan di paha kirinya menjuntai hingga ke atas, memperlihatkan kulit putih susunya yang masih menyisakan sedikit bekas memar kebiruan sebuah tato rasa sakit yang enggan hilang.
"Berjalanlah," perintah Rio.
Pria itu duduk di sebuah kursi tinggi di luar lingkaran cahaya, bayangannya memanjang dan mengintimidasi. Ia masih mengenakan kaos hitamnya, namun lengannya yang dipenuhi tato tampak lebih tegang.
Liora mencoba melangkah, namun gerakannya kaku. Ia merasa seperti domba yang dipaksa menjadi serigala.
"Hentikan," suara Rio bergema. Ia berdiri dan masuk ke dalam lingkaran cahaya. Kehadirannya seketika membuat oksigen di sekitar Liora terasa menipis. Rio berdiri di belakangnya, sangat dekat hingga Liora bisa merasakan radiasi panas dari dada pria itu yang bidang.
"Kau berjalan seperti sedang membawa beban dosa di bahumu," bisik Rio tepat di telinga Liora. "Buang beban itu. Malam ini, kau bukan korban. Kau adalah candu."
Rio melingkarkan tangannya di pinggang Liora, menarik punggung gadis itu hingga menempel erat pada dadanya. Tangan Rio yang besar dan kasar mulai merayap naik, menelusuri lekuk perut Liora hingga berhenti tepat di bawah dadanya yang naik turun karena napas yang memburu.
"Rasakan ini," bisik Rio lagi. Suaranya serak, mengirimkan getaran listrik yang asing ke seluruh saraf Liora. "Setiap pria di bawah sana ingin merasakan apa yang kurasakan sekarang. Mereka ingin memilikimu, menghirup aromamu, menghancurkan martabatmu. Tapi kau... kau tidak akan membiarkan mereka."
Rio memutar tubuh Liora agar menghadapnya. Mata obsidian pria itu menatap tajam ke dalam mata Liora, seolah sedang membedah setiap inci trauma yang tersisa di sana. Rio meraih jemari Liora, membimbing tangan gadis itu untuk menyentuh rahangnya yang kasar karena jambang tipis.
"Sentuh aku seolah-olah kau adalah pemilikku," perintah Rio.
Liora gemetar. Sentuhan pria selalu berarti rasa sakit baginya sejak malam itu. Namun, tangan Rio terasa berbeda. Ada kekuatan yang mengancam, namun ada kendali yang mutlak di sana. Liora memberanikan diri jemarinya menelusuri bibir bawah Rio, lalu turun ke lehernya yang berdenyut kencang.
"Bagus," geram Rio. Ia menarik pinggul Liora lebih rapat, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Liora bisa merasakan detak jantung Rio yang berdebu kencang, sebuah pengakuan bawah sadar bahwa pria dingin ini pun tidak kebal terhadap kehadirannya.
Rio mulai mengajari Liora tarian tanpa sentuhan. Ia menggerakkan tubuhnya di sekitar Liora seperti api yang menjilati kayu kering. Ia menunjukkan cara Liora harus meliukkan tubuhnya, bagaimana cara menjatuhkan tali gaunnya hanya beberapa inci untuk memicu kegilaan, dan bagaimana cara memberikan tatapan yang menjanjikan segalanya namun tidak memberikan apa-apa.
Ketegangan di antara mereka memuncak saat Rio memojokkan Liora ke dinding cermin. Napas mereka beradu, panas dan berat. Tangan Rio mencengkeram kedua tangan Liora di atas kepalanya, sementara lututnya menyisip di antara paha Liora, memaksa belahan gaun itu terbuka lebar.
"Kau merasakannya, Liora?" bisik Rio, wajahnya hanya seujung kuku dari bibir Liora. "Gairah ini... ini adalah kekuatanmu. Saat kau bisa membuat pria merasa seperti ini tanpa membiarkan mereka menyentuhmu, saat itulah kau telah menang. Kau telah merebut kembali mahkotamu."
Liora mendongak, matanya yang dulu sayu kini berkilat karena adrenalin dan hasrat yang baru bangkit. Ia tidak lagi melihat bayangan Rendy di cermin ia melihat seorang wanita yang mematikan. Ia menarik kerah kaos Rio, membawa pria itu lebih dekat, menantang dominasi Rio dengan keberanian yang baru ia temukan.
"Lalu... bagaimana dengarmu, Rio?" bisik Liora penuh tantangan. "Apakah kau juga dilarang menyentuhku?"
Rio terdiam sejenak, matanya menggelap hingga menyerupai lubang hitam yang siap menelan apa saja. Ia mencium leher Liora dengan intensitas yang meruntuhkan pertahanan gadis itu, sebuah ciuman yang menandai kepemilikan sekaligus pengakuan bahwa di dalam permainan ini, Rio pun mulai kehilangan kendalinya.
Malam itu, di bawah cahaya lampu sorot Obsidian, Liora bukan lagi puing-puing. Ia adalah badai yang sedang belajar cara untuk menghancurkan.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...