Mahkota Yang Dirampas
Gaun putih itu terbuat dari bahan chiffon ringan yang seolah melayang setiap kali Liora melangkah, menciptakan siluet malaikat di bawah temaram lampu kamarnya. Di depan cermin besar itu, ia melihat gadis berusia sembilan belas tahun yang penuh dengan binar harapan. Malam ini bukan sekadar pesta kelulusan malam ini adalah ritual transisi, sebuah ambang pintu menuju kebebasan yang telah lama ia impikan.
Rendy datang tepat waktu. Pria itu, dengan kemeja biru muda yang disetrika sempurna dan senyum yang selama dua tahun ini menjadi satu-satunya tempat Liora merasa aman, berdiri di ambang pintu membawa sebuket bunga lili putih. Harum bunga itu manis, namun entah mengapa, terasa sedikit menyesakkan.
"Kau terlalu cantik untuk dunia yang berisik ini, Liora," bisik Rendy sambil mengecup keningnya lembut. Suaranya adalah melodi yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Liora.
Mereka berkendara meninggalkan kebisingan kota, menuju sebuah vila pribadi milik keluarga Rendy yang tersembunyi di balik perbukitan pinus. Sepanjang jalan, Rendy menggenggam tangan Liora, mengusap ibu jarinya di atas punggung tangan gadis itu dengan gerakan yang tampak protektif. Liora merasa seperti putri dalam dongeng, menuju sebuah istana di mana hanya ada mereka berdua.
Vila itu sunyi, hanya ada deru angin yang mendesah di antara dahan pinus. Di dalam, perapian sudah menyala, menciptakan tarian cahaya oranye yang dramatis di dinding kayu. Rendy menuangkan cairan keemasan ke dalam dua gelas kristal yang elegan.
"Minumlah sedikit, Liora. Biar kau lebih santai. Ini malam spesial kita," ucap Rendy dengan nada yang sangat persuasif.
Liora, yang selama ini selalu patuh pada pria yang dianggapnya pahlawan itu, meminumnya. Tegukan pertama terasa membakar tenggorokan, namun setelah tegukan ketiga, rasa hangat itu berubah menjadi beban yang sangat berat. Tiba-tiba, dunia di sekitar Liora mulai melambat. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu. Kepalanya terasa seberat timah, dan sendi-sendinya seolah meleleh menjadi air.
"Rendy... kepalaku... pusing sekali," rintih Liora. Ia mencoba berdiri, namun lututnya lemas, membuatnya jatuh terjerembap ke atas sofa beludru merah.
Ia menatap Rendy, berharap mendapatkan pertolongan, namun wajah pria itu telah berubah. Binar cinta di matanya telah padam, digantikan oleh kilatan lapar yang buas dan gelap. Rendy tidak membantu Liora berdiri ia justru berdiri di atasnya, menatap tubuh Liora yang tak berdaya dengan cara yang membuat Liora merasa seperti sepotong daging di atas meja jagal.
"Jangan takut, Sayang," bisik Rendy, namun suaranya kini terdengar seperti desis ular. "Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lama."
Liora mencoba berteriak, namun suaranya tersangkut di tenggorokan, hanya keluar sebagai isakan lemah yang menyedihkan. Ia merasa seperti dikubur hidup-hidup di dalam tubuhnya sendiri. Kesadarannya masih ada, ia bisa merasakan segalanya, namun motorik tubuhnya telah mati total akibat obat yang dicampurkan Rendy.
Rendy membawanya ke kamar utama dengan kasar, menjatuhkannya ke atas sprei satin yang terasa licin dan dingin di kulitnya. Dalam remang cahaya bulan yang masuk dari celah gorden, Liora melihat Rendy mulai melucuti pakaiannya sendiri dengan tergesa-gesa.
Keheningan malam itu seketika pecah oleh suara kain yang robek suara chiffon putih yang mahal itu hancur, sama seperti harapan Liora. Di atas ranjang yang seharusnya menjadi saksi cinta, Rendy justru menghujamkan pengkhianatan yang paling brutal. Rasa sakit fisik itu merobek kesadarannya, namun hancurnya jiwa Liora jauh lebih menyakitkan. Ia menatap langit-langit kamar, air mata mengalir tanpa suara, membasahi sprei satin saat mahkotanya dirampas secara paksa oleh pria yang ia anggap sebagai dunianya.
Saat fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang dingin dan kejam, Liora terbangun sendirian. Tubuhnya memar, kedinginan, dan dikelilingi oleh puing-puing gaun putihnya yang kini ternoda darah dan kehinaan. Gadis sembilan belas tahun yang penuh mimpi itu telah mati di kamar tersebut, dan yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang menanggung luka yang tak akan pernah bisa sembuh.
Other Stories
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...