Kota Yang Menelan
Liora berjalan seperti mayat hidup di antara kerumunan manusia di terminal bus. Ia tidak membawa tas, tidak membawa ponsel, bahkan tidak membawa alas kaki yang layak hanya sepasang selop pesta yang sudah koyak. Gaun putihnya yang hancur kini ditutupi oleh jaket denim kusam yang ia temukan di tempat sampah vila, baunya menyengat, namun setidaknya cukup untuk menyembunyikan memar di bahunya yang seperti tanda kutukan.
Setiap kali seseorang tak sengaja menyenggol bahunya, Liora tersentak seolah kulitnya baru saja disundut api. Dunianya kini adalah rangkaian kilatan memori suara ritsleting yang ditarik paksa, tawa rendah Rendy yang terdengar seperti geraman, dan rasa dingin sprei satin yang kini terasa seperti kain kafan.
Ia menaiki bus paling akhir menuju Jakarta, menuju jantung kota yang tak pernah tidur. Ia ingin menghilang. Ia ingin kota besar itu menelannya bulat-bulat, menghapus eksistensinya hingga tidak ada lagi yang tersisa dari gadis bernama Liora.
Bus itu tiba saat hujan turun deras, membasuh aspal jalanan yang hitam dan berminyak. Liora turun dengan kaki gemetar. Jakarta menyambutnya dengan aroma asap knalpot, aspal basah, dan keputusasaan yang menggantung di udara. Tanpa uang dan tujuan, ia menyusuri gang-gang sempit di daerah yang dikenal sebagai pusat hiburan malam yang paling kelam.
Di sana, moralitas adalah barang mewah yang tak terbeli.
Liora terus berjalan hingga kakinya berdarah, melewati bar-bar murah tempat pria-pria mabuk muntah di pinggir jalan. Sampai akhirnya, ia tiba di depan sebuah pintu besi berat di bawah tanah. Sebuah papan neon merah yang rusak berkedip-kedip lemah, membentuk tulisan yang tampak seperti darah yang menetes OBSIDIAN.
Liora tersungkur tepat di depan pintu itu. Tubuhnya menggigil hebat, demam mulai membakar kesadarannya. Kesuciannya telah hilang, harapannya telah mati, dan kini tenaganya telah habis. Ia memejamkan mata, berharap hujan akan melarutkan tubuhnya menjadi debu.
Tiba-tiba, pintu besi itu terbuka dengan suara derit yang tajam, mengeluarkan dentuman musik techno yang berat, hawa panas yang pengap, dan aroma campuran antara alkohol mahal dan keringat.
Sepasang sepatu bot kulit hitam yang mengkilap berhenti tepat di depan wajahnya yang pucat.
"Apa yang kita punya di sini? Seekor burung kecil yang sayapnya sudah hancur?" suara itu berat, serak, dan memiliki otoritas yang membuat udara di sekitar Liora terasa mendingin.
Liora mendongak dengan sisa kekuatannya. Di balik tirai hujan dan remang lampu neon, ia melihat seorang pria tinggi dengan jaket kulit hitam yang membalut tubuh atletisnya. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, dan ada bekas luka kecil yang tampak seksi di alis kirinya. Matanya, sehitam batu obsidian, menatap Liora bukan dengan belas kasihan yang merendahkan, melainkan dengan ketertarikan yang ganjil dan dingin.
Pria itu adalah Rio. Penguasa di balik pintu besi ini.
Rio berjongkok di depan Liora, tidak peduli jaket mahalnya terkena air hujan yang kotor. Aroma tembakau, wiski, dan parfum oud yang maskulin menyerbu indra penciuman Liora, menggantikan bau amis hujan. Ia menyelipkan jemarinya yang hangat dan kasar ke bawah dagu Liora, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
"Di tempat ini, Nona kecil, kau hanya punya dua pilihan," bisik Rio, wajahnya begitu dekat hingga Liora bisa merasakan uap napasnya. "Kau bisa membiarkan gang ini memakanmu hidup-hidup, atau kau bisa masuk ke dalam dan menyerahkan sisa nyawamu padaku. Aku akan mengajarimu bahwa rasa sakit adalah mata uang paling berharga di sini."
Liora tidak punya pilihan lagi. Ia menatap Rio, melihat pantulan dirinya yang hancur di mata pria itu. "Tolong... buat aku lupa," rintih Liora sebelum dunianya menjadi benar-benar gelap.
Rio tidak menjawab. Ia mengangkat tubuh Liora yang ringan dengan satu tangan yang kokoh, seolah gadis itu hanyalah bulu yang tertiup angin. Ia membawanya masuk ke dalam perut Obsidian, melewati lorong-lorong remang penuh kepulan asap dan gairah terlarang, menuju tempat di mana mimpi buruk Liora akan bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Hantu Dan Hati
Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...