Tawaran Sang Pelindung
Liora terbangun dengan perasaan seolah-olah seluruh tubuhnya telah dihancurkan lalu disatukan kembali secara kasar. Langit-langit ruangan itu tidak lagi putih seperti kamarnya di rumah, melainkan berwarna merah marun gelap yang tampak seperti beludru. Pencahayaan di ruangan itu sangat minim, hanya berasal dari sebuah lampu meja kuno yang memberikan semburat jingga redup di sudut ruangan.
Ia menyadari bahwa ia tidak lagi mengenakan jaket denim kotor atau sisa gaun putihnya. Tubuhnya kini dibalut sehelai kemeja pria berwarna hitam yang terlalu besar, berbahan katun mesir yang sangat halus di kulitnya yang lebam. Bau kemeja itu sama dengan pria di gang tadi tembakau, wiski, dan aroma maskulin yang dominan.
"Kau sudah tidur selama delapan belas jam," sebuah suara berat memecah kesunyian.
Liora tersentak dan menoleh ke arah sudut ruangan. Di sana, di atas kursi kulit besar, Rio duduk dengan kaki menyilang. Ia sedang memegang gelas kristal berisi cairan amber, sementara asap dari rokok di tangan kirinya menari-nari tertiup angin dari air conditioner. Rio tidak memakai jaket kulitnya lagi ia hanya mengenakan kaos dalam hitam yang ketat, menonjolkan otot-otot lengannya yang dipenuhi tato tribal yang rumit.
"Di mana aku?" tanya Liora, suaranya parau dan hampir hilang.
"Di tempat paling aman dan paling berbahaya di Jakarta," jawab Rio tenang. Ia bangkit, berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah yang lambat dan predatoris. "Namaku Rio. Dan kau berada di apartemen pribadiku di atas klub Obsidian."
Liora mencoba duduk, menarik selimut hingga ke dagunya. Ingatan tentang Rendy dan malam itu kembali menghujamnya. "Kenapa kau menolongku?"
Rio berdiri tepat di sisi tempat tidur. Ia tidak menatap Liora dengan iba. Tatapannya adalah tatapan seorang penilai yang sedang menghitung nilai sebuah berlian yang baru ditemukan di lumpur. "Aku tidak menolong, Liora. Aku tidak percaya pada konsep amal. Aku melihat potensi. Dan aku melihat dendam di matamu. Dendam adalah bahan bakar yang sangat mahal jika diolah dengan benar."
Rio berjalan menuju sebuah lemari besar di ujung ruangan. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah gantungan baju. Di sana tergantung sebuah gaun yang membuat jantung Liora berdegup kencang hanya dengan melihatnya. Gaun itu terbuat dari perpaduan sutra hitam dan renda transparan yang sangat berani, dirancang untuk menunjukkan lebih banyak kulit daripada yang menutupinya.
"Pakai ini," perintah Rio. Ia melempar gaun itu ke atas kaki Liora.
"Aku bukan wanita seperti itu," bisik Liora, tangannya gemetar.
Rio berjongkok di samping tempat tidur, wajahnya hanya seujung kuku dari wajah Liora. "Lalu kau wanita seperti apa? Gadis yang menangis di sudut jalan menunggu pemerkosanya datang meminta maaf? Rendy tidak akan datang, Liora. Dan kalaupun dia datang, dia hanya akan menghancurkan apa yang tersisa darimu."
Liora tersentak saat Rio menyebut nama Rendy. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku tahu segalanya tentang siapa pun yang masuk ke pintu besiku," sahut Rio dingin. Ia meraih dagu Liora dengan jemarinya yang kasar namun hangat. "Dunia luar sudah selesai denganmu. Kau sudah dicap 'rusak' oleh standarmu sendiri. Tapi di sini, di Obsidian, 'rusak' adalah sesuatu yang indah. Aku ingin kau menjadi 'Dayang Obsidian'. Kau akan berada di atas panggung, di bawah lampu sorot, membuat pria-pria di bawah sana gila karena mereka bisa melihatmu tapi tak bisa menyentuhmu."
"Aku tidak bisa melakukannya..."
"Kau bisa," bisik Rio, suaranya kini merayap seperti godaan setan. "Aku akan menjagamu. Tidak ada yang akan menyentuhmu tanpa izinmu. Tapi kau harus memberiku sesuatu sebagai imbalannya. Aku ingin kau menjadi pusat dari fantasiku. Aku ingin kau belajar cara menggunakan tubuhmu untuk membalas dendam pada dunia yang merenggut kesucianmu secara paksa."
Rio berdiri dan menarik kemeja yang dikenakan Liora tepat di kerahnya, memaksa gadis itu berdiri di depannya. Liora bisa merasakan panas tubuh Rio, dan untuk pertama kalinya sejak malam fatal itu, ia merasakan sesuatu yang lain selain rasa sakit sebuah lonjakan adrenalin yang menakutkan namun memikat.
"Malam ini, aku akan mengajarimu cara berjalan," ujar Rio, matanya menggelap karena hasrat yang ia tekan dengan disiplin tinggi. "Kau akan belajar cara menatap pria seolah-olah kau adalah pemilik nyawa mereka. Kau akan belajar bahwa gairah adalah senjata, dan mulai malam ini, kaulah pemegang senjatanya."
Liora menatap gaun hitam itu, lalu menatap Rio. Di dalam ruangan remang yang berbau dosa itu, Liora menyadari bahwa gadis baik-baik yang dulu ia kenal telah terkubur di bawah rintik hujan Jakarta. Ia meraih gaun itu, sebuah simbol penyerahan diri sekaligus kebangkitan yang gelap. Ia akan masuk ke dalam api, dan ia akan memastikan bahwa kali ini, dialah yang akan membakar semuanya.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...