Weird Husband

Reads
18
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Garis Batas Yang Samar

Suara denting kunci yang berputar di belakang mereka terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis. Kanaya melangkah masuk ke dalam penthouse yang luas, namun entah mengapa, ruangan dengan langit-langit setinggi lima meter itu mendadak terasa sempit. Hanya ada cahaya dari lampu hias temaram yang memantul di atas lantai marmer hitam, menciptakan suasana yang intim sekaligus mencekam.

Mahendra tidak segera menyusulnya. Ia berhenti di meja konsol, melepaskan jam tangan Patek Philippe-nya dan meletakkannya dengan bunyi klik yang presisi.

"Mas..." Kanaya berbalik, tangannya masih memegang tas clutch kecilnya dengan erat. "Kau membuatku takut tadi di lift."

Mahendra mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya dingin kini tampak seperti bara yang baru saja ditiup. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya tenang namun penuh intimidasi, seperti predator yang tahu mangsanya tidak akan lari ke mana-mana.

"Takut, Naya?" Mahendra berhenti tepat di depan Kanaya. Ia mengambil tas dari tangan Kanaya dan meletakkannya sembarangan di lantai. "Atau kau merasa terangsang karena tahu aku sedang memperhatikan setiap gerak-gerikmu di bawah lampu ballroom tadi?"

Tangan Mahendra naik, jemarinya yang panjang menelusuri garis rahang Kanaya, lalu turun ke lehernya, tepat di atas kalung berlian yang masih melingkar di sana. "Kau milikku. Di depan mereka, dan terlebih lagi di sini."

Mahendra menarik napas panjang, menghirup aroma tubuh Kanaya. "Pergilah ke kamar. Buka lemari kecil di sudut kanan, yang paling bawah. Ada sesuatu yang ingin kulihat kau pakai malam ini."

"Mas, ini sudah hampir jam satu pagi, aku lelah"

"Lelah bukan alasan untuk mengabaikan keinginan suamimu, Kanaya," potong Mahendra dengan suara rendah yang menggetarkan dada. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Kanaya, napas panasnya membuat Kanaya merinding. "Sepuluh menit. Jika kau belum siap dalam sepuluh menit, aku yang akan menentukan bagaimana sisa malam ini berjalan."

Kanaya berjalan menuju kamar utama dengan jantung yang berdegup kencang. Di dalam kamar, ia membuka lemari yang dimaksud. Di sana, di dalam kotak beludru hitam, terdapat sebuah set pakaian dalam dari bahan lace merah yang sangat provokatif begitu tipis dan hanya terdiri dari beberapa utas tali sutra. Di sampingnya, tergeletak sepasang borgol yang dibalut kain sutra hitam yang halus.

Tangan Kanaya gemetar. Mahendra tidak pernah seberani ini sebelumnya. Selama setahun pernikahan, Mahendra memang selalu dominan, tetapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kegelapan yang lebih pekat yang ingin ia tunjukkan.

Sepuluh menit kemudian, Mahendra masuk. Ia sudah melepaskan jas dan kemejanya, hanya menyisakan celana bahan hitam yang tergantung rendah di pinggulnya, memperlihatkan otot perut yang keras dan garis atletis tubuhnya.

Ia berhenti di ambang pintu, menatap Kanaya yang berdiri gemetar di samping tempat tidur, hanya mengenakan kain merah minimalis itu.

"Sempurna," gumam Mahendra. Ia mendekat, mengambil borgol sutra itu dari atas tempat tidur. "Kemari, Sayang."

"Mas Mahen... haruskah pakai itu?" bisik Kanaya, suaranya nyaris hilang.

Mahendra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tangan Kanaya, membimbingnya menuju kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir. Dengan gerakan yang lembut namun pasti, ia mengikat pergelangan tangan Kanaya ke tiang ranjang.

"Ini bukan tentang menyakitimu, Naya," bisik Mahendra sambil mencium kening istrinya. "Ini tentang melepaskan bebanmu. Malam ini, kau tidak perlu berpikir. Kau tidak perlu membuat keputusan. Kau hanya perlu merasakan."

Mahendra mulai menciumi leher Kanaya, turun ke pundaknya, sementara tangannya mulai menjelajahi setiap inci kulit Kanaya yang terekspos. Kanaya mendesah pelan, mencoba menarik tangannya, namun ikatan sutra itu mengingatkannya bahwa ia benar-benar berada dalam kekuasaan Mahendra.

Ketakutan itu perlahan memudar, digantikan oleh gelombang gairah yang panas. Saat bibir Mahendra menemukan titik sensitif di balik telinganya, Kanaya memejamkan mata erat-erat. Ia menyadari bahwa Mahendra sedang membangun sebuah dunia baru di dalam kamar ini sebuah labirin di mana hanya ada perintahnya dan reaksi tubuh Kanaya.

"Katakan namaku, Naya," perintah Mahendra saat ia semakin dalam mengeksplorasi tubuh istrinya.

"Mas... Mahendra..." desah Kanaya, suaranya pecah.

"Lagi."

"Mahendra..."

Mahendra menatap mata Kanaya, mencari pengakuan dan penyerahan total. Di bawah cahaya remang, ia melihat istrinya bukan lagi sebagai ratu sosialita yang ia pamerkan di pesta, melainkan sebagai wanita yang sepenuhnya miliknya. Garis batas antara kenyamanan dan fantasi mulai samar, dan malam itu, untuk pertama kalinya, Kanaya membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan yang Mahendra ciptakan.


Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Download Titik & Koma