Kontrak Tanpa Suara
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah tirai vila, menyinari butiran debu yang menari di udara. Kanaya terbangun dengan perasaan yang sulit didefinisikan tubuhnya terasa ringan sekaligus pegal, sebuah sisa dari intensitas malam sebelumnya. Di sampingnya, sisi ranjang Mahendra sudah dingin.
Kanaya bangkit perlahan, melilitkan jubah sutra ke tubuhnya. Saat ia melangkah menuju meja rias kayu jati yang antik, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna biru navy yang diletakkan di samping vas bunga lili putih yang masih segar.
Ia membukanya. Di dalamnya, sebuah kalung safir biru berbentuk tetesan air mata berkilau dengan tajam, dikelilingi oleh berlian-berlian kecil yang mempesona. Indah, namun bagi Kanaya, perhiasan itu terasa seperti beban.
"Sudah bangun?"
Suara Mahendra muncul dari arah balkon. Ia sudah berpakaian rapi celana kain abu-abu dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tidak ada lagi penutup mata, tidak ada lagi bisikan gelap. Ia kembali menjadi Mahendra sang pengusaha sukses yang efisien.
"Safir ini... untuk apa, Mas?" tanya Kanaya, suaranya sedikit serak.
Mahendra mendekat, mengambil kalung itu dari kotaknya, lalu berdiri di belakang Kanaya. Ia memakaikannya ke leher istrinya, jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit Kanaya yang masih sensitif. "Anggap saja itu apresiasi. Kau luar biasa semalam, Naya. Kau sangat... kooperatif."
Kanaya menatap pantulannya di cermin. Safir itu berkilau indah, namun kata 'kooperatif' terasa seperti duri di telinganya. "Apakah setiap kali aku menuruti fantasimu, akan ada hadiah seperti ini? Apakah ini semacam pembayaran?"
Mahendra berhenti mengancingkan kalung itu. Matanya menatap Kanaya melalui cermin, tajam dan tak terbaca. "Kenapa kau harus memikirkannya sesulit itu? Aku senang memberimu sesuatu. Dan aku senang saat kau membiarkanku membimbingmu. Bukankah itu kesepakatan yang adil?"
"Kesepakatan?" Kanaya berbalik, menatap suaminya langsung. "Kita menikah, Mas. Bukan sedang menandatangani kontrak bisnis. Aku ingin tahu apakah kau melakukannya karena kau mencintaiku, atau karena kau butuh seseorang untuk mengisi skenario-skenariomu."
Mahendra terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, membelai pipi Kanaya dengan lembut, namun ada jarak emosional yang tetap ia jaga. "Cinta memiliki banyak bahasa, Naya. Beberapa orang mengatakannya dengan bunga, beberapa dengan puisi. Bagiku, cinta adalah tentang memiliki secara total. Tentang kepercayaan untuk menyerahkan kendali padaku."
Ia mengecup kening Kanaya, ciuman yang terasa sangat formal. "Bersiaplah. Sopir akan menjemputmu dalam satu jam untuk kembali ke Jakarta. Aku ada rapat penting siang ini."
Setelah Mahendra keluar dari kamar, Kanaya terduduk di kursi rias. Ia meraba kalung safir yang melingkar di lehernya. Ia menyadari sebuah pola yang mengerikan namun memikat: Mahendra membangun dinding emas di sekelilingnya. Pria itu memberikan perlindungan, kemewahan, dan kenikmatan yang tak terbayangkan, namun sebagai gantinya, Kanaya harus menyerahkan hak atas tubuh dan kehendaknya saat pintu kamar terkunci.
Ini adalah kontrak tanpa suara. Sebuah pertukaran di mana Kanaya mendapatkan dunia, namun Mahendra mendapatkan kendali atas pusat dunianya. Dan yang paling menakutkan bagi Kanaya adalah kenyataan bahwa ia mulai menikmati perbudakan manis ini.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Cerita Pendekku
Pada saat jatuh cinta, terdapat dua tipe orang dalam merespon perasaan tersebut. Ada yang ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...