Weird Husband

Reads
24
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Topeng Sang Arsitek

Hujan badai di luar vila pegunungan itu seolah mengisolasi mereka dari peradaban. Suara gemuruh petir bersahutan dengan deru angin yang menghantam kaca jendela besar di ruang tengah. Di dalam, suasana begitu kontras hangat oleh nyala api di perapian, namun dingin oleh atmosfer yang diciptakan Mahendra.

Mahendra berdiri membelakangi Kanaya, menatap kegelapan di luar sambil menyesap wiski single malt miliknya. Ia telah melepaskan kemejanya, menyisakan kaos dalam hitam yang menonjolkan otot-otot punggungnya yang kokoh.

"Malam ini, kita tidak akan menjadi suami istri," ucap Mahendra tanpa berbalik. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Kita akan memainkan sebuah skenario."

Kanaya, yang masih mengenakan gaun sutra tipis, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Skenario apa, Mas?"

Mahendra berbalik perlahan. Tatapannya tidak lagi seperti suami yang lembut, melainkan seperti orang asing yang penuh selidik. "Kau adalah seorang wanita yang mobilnya mogok di kaki bukit. Kau berjalan menembus hujan dan menemukan vila ini. Aku adalah pemiliknya pria yang tidak suka diganggu, dan pria yang menuntut imbalan atas setiap inci bantuan yang kuberikan."

Kanaya menelan ludah. Ia melihat Mahendra meletakkan gelas wiskinya dan berjalan mendekat.

"Sekarang," perintah Mahendra, "pergilah ke teras. Masuklah kembali sebagai orang asing yang putus asa."

Dengan jantung berdegup kencang, Kanaya menuruti perintah itu. Ia melangkah ke teras yang dingin dan basah, lalu mengetuk pintu kaca dengan ragu. Mahendra membukanya dengan wajah datar yang menyeramkan.

"Silakan masuk, Nona," ujar Mahendra, suaranya dingin seperti es. "Kau basah kuyup. Kau mengotori lantai marmerku."

Kanaya memainkan perannya, matanya menatap ke bawah. "Maafkan saya, Tuan. Mobil saya mogok... saya tidak tahu harus ke mana lagi."

Mahendra mengitari tubuh Kanaya, meneliti lekuk tubuhnya yang tercetak jelas karena gaun yang basah menempel di kulit. "Vila ini terpencil. Tidak ada telepon, tidak ada sinyal. Kau terjebak di sini bersamaku sampai badai reda."

Ia berhenti tepat di depan Kanaya, mengangkat dagunya dengan satu jari. "Aku punya pakaian kering, tapi aku tidak memberikannya secara gratis. Di rumah ini, tidak ada yang cuma-cuma."

Mahendra membimbing Kanaya menuju kursi kulit besar di depan perapian. Ia mengambil sehelai jubah mandi sutra, namun tidak memberikannya langsung. Ia menjatuhkannya di pangkuan Kanaya.

"Lepaskan pakaian basahmu di depanku," perintahnya. "Itu harga pertama untuk kehangatan yang kuberikan."

Tangan Kanaya gemetar saat ia meraih ritsleting gaunnya. Di bawah tatapan Mahendra yang tajam dan tak berkedip, ia merasa terekspos bukan hanya secara fisik, tapi juga secara jiwa. Saat gaun itu luruh ke lantai, Mahendra tidak segera menerjangnya. Ia justru duduk di kursi seberang, menikmati pemandangan itu seolah sedang mengagumi sebuah karya arsitektur yang ia bangun sendiri.

"Mendekatlah," bisik Mahendra.

Saat Kanaya merangkak menuju suaminya atau 'sang pemilik vila' Mahendra menariknya ke dalam pelukan yang posesif. Ia mencium leher Kanaya dengan intensitas yang berbeda dari biasanya lebih kasar, lebih menuntut. Di dalam 'permainan' ini, Kanaya merasakan sisi Mahendra yang paling jujur seorang pria yang haus akan kendali total, dan ia, Kanaya, adalah satu-satunya orang yang diizinkan untuk masuk ke dalam fantasi gelap tersebut.

Malam itu, di bawah raungan badai, Kanaya menyadari bahwa Mahendra bukan sekadar mencintainya. Mahendra ingin membangun sebuah dunia di mana hanya ada aturan-aturan yang ia buat, dan Kanaya adalah pusat dari seluruh konstruksi gairah tersebut.


Other Stories
Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Lust

​Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...

Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Download Titik & Koma