Labirin Tanpa Akhir
Enam bulan berlalu sejak badai skandal itu mencoba meruntuhkan takhta Mahendra. Dunia bisnis mungkin masih berbisik, namun Mahendra tetap berdiri tegak meski kini dengan tatapan mata yang berbeda. Ia tidak lagi membutuhkan validasi dari ribuan mata di luar sana, karena ia telah menemukan satu pasang mata yang menjadi pelabuhan terakhirnya.
Malam ini, mereka kembali ke tempat semuanya bermula: gala mewah tahunan di hotel bintang lima yang sama. Kanaya mengenakan gaun sutra berwarna putih tulang, tampak seperti malaikat di tengah lautan manusia yang penuh intrik. Mahendra, dengan setelan hitamnya, berdiri di sampingnya. Namun kali ini, tangan Mahendra yang melingkar di pinggang Kanaya tidak lagi terasa seperti cengkeraman sang majikan, melainkan pegangan seorang pria yang tahu siapa jiwanya.
"Kau siap pulang, Sayang?" bisik Mahendra, suaranya kini memiliki kehangatan yang dulu selalu ia sembunyikan.
"Sangat siap," jawab Kanaya dengan senyum tipis.
Begitu pintu penthouse tertutup, keheningan yang familiar menyambut mereka. Tidak ada lagi cermin yang pecah Mahendra telah menggantinya dengan dinding-dinding kayu yang hangat, namun ia tetap menyisakan satu dinding cermin besar di sudut kamar sebagai pengingat akan perjalanan mereka.
Mahendra menarik Kanaya ke tengah ruangan. Ia berlutut di depan istrinya, perlahan melepaskan sepatu hak tinggi Kanaya. "Aku pernah mencoba mengurungmu dalam labirin yang kubangun dari rasa takutku," bisiknya sambil menatap ke atas, ke arah mata Kanaya.
Kanaya membelai rambut suaminya. "Dan aku memilih untuk tidak lari, Mas. Aku memilih untuk mempelajari setiap tikungannya."
Mahendra berdiri, lalu mengambil sehelai kain sutra merah dari laci meja rias. Ia menyerahkannya pada Kanaya. "Tutup mataku, Naya. Malam ini, aku ingin kau yang membimbingku ke dalam labirin itu."
Dengan tangan yang stabil, Kanaya mengikatkan kain itu ke mata Mahendra. Peran itu kini sepenuhnya seimbang. Kanaya membimbing suaminya menuju ranjang besar mereka, tempat di mana rasa sakit, gairah, dan rahasia mereka melebur menjadi satu.
Di bawah cahaya remang kota Jakarta yang masuk melalui jendela besar, mereka menari dalam ritme yang hanya mereka pahami. Tidak ada lagi paksaan, hanya keinginan yang saling menyahut. Kanaya mengeksplorasi tubuh Mahendra dengan keberanian seorang ratu, sementara Mahendra menyerahkan dirinya dengan kepercayaan seorang pengabdi.
"Aku mencintaimu," desah Mahendra di tengah puncak gairah mereka, sebuah kalimat yang dulu begitu sulit ia ucapkan.
"Aku tahu," balas Kanaya, mencium bibir suaminya dalam-dalam.
Saat fajar mulai menyingsing di cakrawala Jakarta, mereka berdua berdiri di balkon, menatap kota yang mulai terbangun. Kanaya bersandar di dada bidang Mahendra, sementara tangan pria itu mendekapnya erat dari belakang.
Dunia mungkin melihat mereka sebagai pasangan sempurna yang penuh kemewahan. Mereka mungkin menganggap Kanaya sebagai wanita beruntung yang hidup dalam sangkar emas. Namun, mereka tidak akan pernah tahu bahwa di balik pintu yang tertutup, ada sebuah labirin gairah yang tak berujung sebuah tempat di mana kegelapan bertemu cahaya, dan di mana dua jiwa yang pernah hancur telah menemukan cara paling ganjil, paling sensual, dan paling indah untuk menjadi utuh kembali.
Labirin itu tidak pernah benar-benar memiliki jalan keluar, dan bagi Kanaya, tersesat di dalamnya bersama Mahendra adalah satu-satunya cara ia ingin menjalani hidupnya. Selamanya.
Other Stories
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...