Badai Sebelum Tenang
Keseimbangan baru yang mereka bangun di dalam kamar diuji oleh kenyataan pahit di luar dinding penthouse. Pagi itu, ketenangan mereka hancur saat layar televisi dan media sosial dipenuhi oleh tajuk utama yang menyerang integritas Mahendra.
Sebuah skandal korupsi fiktif yang dirancang oleh rival bisnis Mahendra mencuat ke permukaan. Namun yang lebih menghancurkan bukan hanya soal bisnis seseorang telah membocorkan foto-foto Mahendra yang sedang memasuki klub-klub eksklusif dan narasi-narasi miring tentang "kehidupan ganjil" sang miliarder. Wartawan mulai mengepung lobi apartemen mereka seperti hiu yang mencium bau darah.
Mahendra berdiri di ruang tengah, menatap ponselnya yang tak henti bergetar. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras. Kehancuran citra publik adalah ketakutan terbesarnya setelah masa kecil yang traumatis.
"Mereka akan menghancurkanku, Naya," suara Mahendra parau. "Mereka akan menggali semuanya. Masa laluku, privasi kita... semuanya akan menjadi konsumsi publik."
Kanaya berjalan mendekat, mengabaikan berita di layar televisi. Ia memegang kedua tangan Mahendra yang gemetar. "Biarkan mereka bicara, Mas. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."
"Tapi reputasiku "
"Reputasimu adalah topengmu, Mas. Aku mencintai pria di balik topeng itu," tegas Kanaya.
Malam itu, di tengah kepungan wartawan di bawah sana, Mahendra dan Kanaya mengunci diri di dalam kamar. Namun kali ini, tidak ada borgol sutra, tidak ada cermin yang menuntut, dan tidak ada permainan peran yang rumit.
Mahendra merebahkan kepalanya di pangkuan Kanaya, membiarkan istrinya mengelus rambutnya. Untuk pertama kalinya, sang arsitek melepaskan semua cetak birunya. Ia menangis dalam diam, melepaskan beban bertahun-tahun yang ia simpan sendirian.
"Aku takut kehilanganmu jika aku tidak lagi punya kuasa," bisik Mahendra di tengah isaknya.
Kanaya menunduk, mencium kening suaminya dengan penuh kelembutan yang jujur. "Kau memilikiku bukan karena kau berkuasa atas diriku, Mas. Kau memilikiku karena aku memilih untuk ada di sini. Di tengah badai sekalipun."
Malam itu, keintiman mereka mencapai level yang paling tinggi bukan karena fantasi eksploratif, melainkan karena kerentanan yang murni. Mereka bercinta dengan penuh perasaan, sebuah penyatuan jiwa yang mencoba saling menyembuhkan dari luka dunia luar. Dalam pelukan Kanaya, Mahendra menemukan bahwa perlindungan sejati bukan berasal dari kontrol, melainkan dari kepercayaan.
Badai di luar sana mungkin sedang menghancurkan kariernya, namun di dalam kamar itu, Mahendra akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini ia cari di tempat yang salah.
Other Stories
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...