Koper Coklat Ibu

Reads
5
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Koper coklat ibu
Koper Coklat Ibu
Penulis Pena Lura

Pelarian

Kereta api Taksaka malam itu membelah kegelapan Jawa seperti belati perak yang menyayat kain hitam. Di dalam gerbong eksekutif yang senyap, Arini meringkuk di kursi 12A, membiarkan dahinya menempel pada kaca jendela yang dingin. Getaran rel merambat ke tengkoraknya, seolah berusaha merontokkan tumpukan ingatan yang mulai membusuk di sana.

Arini adalah definisi "wanita sempurna". Istri dari seorang manajer ambisius di sebuah perusahaan besar, ibu dari bayi kecil yang lucu dan pintar berumur enam bulan, dan anak yang tak pernah absen menunjukkan baktinya pada ibunya dengan tetap mengirimkan biaya hidup ibunya. Namun, tiga jam lalu, ia meledak dalam diam. Ia meninggalkan botol susu yang masih hangat di atas meja, mengabaikan tangis bayinya yang kolik, dan melangkah keluar rumah tanpa pamit, hanya membawa satu tas ransel dan kekosongan yang meluap-luap. Suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya juga tidak melihatnya meninggalkan rumah.

"Jogja..." bisiknya, namun kata itu terasa asing di lidahnya sendiri, seperti menelan kerikil.

Ia adalah putri asli Sayidan, besar di bawah bayang-bayang keraton yang agung. Namun baginya, Jogja bukanlah rindu. Jogja adalah sebuah kotak pandora yang telah ia gembok rapat selama sepuluh tahun. Ia membenci aroma melati yang terlalu tajam, ia benci keramahan orang-orang yang terasa seperti interogasi, dan yang paling ia benci: lagu itu.
Seminggu terakhir, di apartemennya yang mewah di Jakarta, Arini mulai mendengar halusinasi. Setiap kali ia mencoba menidurkan bayinya, bukan lagu nina bobo modern yang keluar dari bibirnya, melainkan sebuah melodi purba yang merayap keluar dari celah memorinya.

Tak lelo... lelo... lelo ledhung...

Lagu itu—Lela Ledhung. Lagu yang seharusnya menjadi doa cinta, namun di telinga Arini, nada-nada pelog-nya terdengar seperti derit pintu kuburan yang dipaksa buka.

Saat kereta mulai melambat memasuki Stasiun Tugu, pengumuman dari pengeras suara terdengar seperti suara dari bawah air. Arini berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah keluar gerbong, dan seketika itu juga, udara Yogyakarta yang lembap dan beraroma tanah basah menyerbu paru-parunya. Aroma yang sangat ia kenali, aroma yang selalu ada sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti di tengah peron yang hiruk-pikuk.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar aransemen orkestra yang janggal. Itu bukan musik biasa. Itu adalah Lela Ledhung yang telah diaransemen ulang dengan sangat megah namun mencekam. Denting gender yang presisi berpadu dengan gesekan biola yang tajam, memainkan laras pelog tanpa nada 2 dan 6—menciptakan harmoni yang "patah", seolah ada bagian dari lagu itu yang sengaja disembunyikan di ruang hampa.
Arini mencengkeram kepalanya. Musik itu seolah memiliki massa, menekan dadanya hingga sesak. Ia merasa orang-orang di sekitarnya bergerak dalam gerakan lambat, sementara suara sinden gaib mulai merayap di sela-sela instrumen orkestra itu, melantunkan bait yang membuat bulu kuduknya berdiri:
"Cep menenga, aja pijer nangis... Anakku sing ayu rupane..."
Suara itu tidak berasal dari pengeras suara stasiun. Suara itu berasal dari dalam kepalanya, sedingin es dan setajam sembilu. Diamlah, jangan menangis terus...

Arini meraba saku jaketnya dengan panik, mencari ponselnya, namun jemarinya justru menyentuh sesuatu yang keras, dingin, dan berkarat. Sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana. Ia menarik benda itu keluar: Sebuah kunci tua dengan gantungan kayu berbentuk koper kecil. Di permukaan koper kayu itu, ada noda kecokelatan yang meresap ke dalam serat—noda darah yang telah mengering selama puluhan tahun.

Arini mendongak dan terkesiap. Di ujung peron yang remang-remang, ia melihat pantulan dirinya di kaca besar stasiun. Namun di dalam pantulan itu, ia tidak berdiri sendirian. Di samping kakinya, tampak sebuah koper kulit cokelat tua yang besar, dan dari celah koper yang sedikit terbuka, sebuah tangan mungil pucat terjulur keluar, seolah berusaha meraih ujung roknya agar ia tidak pergi lagi.



Other Stories
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Download Titik & Koma